Thursday, August 26, 2010

PROFIL KONGREGASI/BIARA YANG BERKARYA DI KEUSKUPAN DENPASAR

Susteran Abdi Kristus (AK)

Susteran Abdi Kristus (AK) saat ini berkarya di Cakranegara Lombok dan Padangtawang Babakan Bali. Biara di Cakranegara beralamat di Jl. Beo No. 6 Cakranegara Mataram 83231 Lombok – NTB; Telepon (0370) 632123.Bidang Pelayanan adalah Karya Pastoral Paroki dan Pendidikan.

Susteran Carolus Boromeus
Di Keuskupan Denpasar Suster-suster Carolus Boromeus (CB) bertempat tinggal di Denpasar dan Tangeb. Biara di Denpasar beralamat di Susteran Siti Miryam Jln. Suli No. 72 Denpasar 80233 Telepon (0361) 232248. Para suster berkarya di bidang karya social.Sedangkan di Tangeb, para suster CB menempati biara CB Tangeb dan alamat yang dapat dihubungi adalah Susteran CB Tangeb Puskesmas Pembantu Panti Swasti TengebTelepon (0361) 428137.

Kongregasi St. Fransiskus (OSF)
Di Keuskupan Denpasar OSF berkarya di Bali yakni di kota Denpasar, Tuka, Negara dan Palasari. Susteran OSF Sanglah dengan alamat Susteran OSF Sanglah Jl. Serma Kawi No. 7 Denpasar 80114 Telepon (0361) 224466.Bidang Pelayanan: Pastoral Paroki, Kelompok Kategorial, Pendidikan dan karya social.
Susteran OSF Sidhi Astu Tuka beralamat di Jl. Raya Tuka - Tuka – Dalung Telepon (0361) 7473827; 437049. Bidang Pelayanan:Karya Sosial, Kesehatan dan Pastoral Paroki.
Susteran OSF Negara beralamat di Jl. Ngurah Rai No. 143 Negara 82213 Telepon (0365) 41537.Bidang Pelayanan: Kesehatan, Pendidikan dan Pastoral Paroki. Susteran OSF Palasari beralamat di Susteran Negara Jl. Ngurah Rai No. 143; Negara Telepon (0365) 42126. Bidang Pelayanan: Karya Sosial, Kesehatan dan Pastoral Paroki.

Susteran PRR (Putri Reinha Rosari)
Suster-Suster PRR di Keuskupan Denpasar berkarya di Paroki Tabanan yakni di Kota Tabanan dan Stasi Piling. Susteran PRR Piling, Alamat :Susteran PRR Piling Penebel 82125 Kotakpos 1; Tabanan. Bidang Pelayanan: Karya Sosial.
Susteran PRR Tabanan, Alamat : Jln.Diponegoro No. 9 Tabanan Telepon (0361) 814852. Bidang Pelayanan: Karya Sosial, Pendidikan dan Pastoral Paroki.

Susteran RVM (Religiousof of Virgin Mary)
Di Keuskupan Denpasar suster-suster RVM berkarya di Paroki Tangeb dan Paroki Kuta. Susteran RVM Abianbase, Alamat Susteran RVM Abianbase – Mengwi; Tlp. (0361) 416387. Bidang Pelayanan: Karya Sosial, Pendidikan dan Pastoral Paroki.Susteran RVM Kuta, Alamat : Jl. Mertha Jati No. 3; Kuta, Telepon (0361) 758040. Bidang Pelayanan: Karya Sosial, Pendidikan dan Pastoral Paroki.

Susteran SSpS (Abdi Roh Kudus)
Di Keuskupan Denpasar suster-suster SSpS berkarya di Pulau Bali, Lombok dan Sumbawa. Di Pulau Bali berkarya di Paroki Singaraja,di pulau Lombok berkarya di Paroki Ampenan dan di Pulau Sumbawa berkarya di Paroki Bima.
Di Singaraja SSpS beralamat di Susteran SSpS Singaraja, Jl. Gunung Agung No. 27 Singaraja 81117, Telepon (0362) 29156. Bidang Pelayanan: Kesehatan dan Pastoral Paroki.
Di Ampenan Lombok, susteran SSpS St. Antonius beralamat di Jln. Koperasi No. 61 Karang Ujung – Ampenan Lombok – NTB ; Telepon (0370) 636767. Bidang Pelayanan: Kesehatan dan Pastoral Paroki.
Di Raba Bima, SSpS beralamat di Biara SSpS Beata Maria Helena Jl. Dam Rontu – Raba Bima – NTB Telepon (0374) 44509. Bidang Pelayanan: Kesehatan dan Pastoral Paroki.

Susteran JMJ (Jesus Maria Joseph)
Suster-Suster JMJ berpusat di Sint Janssingel 88 5211 DA ‘S-Hertogenbosh Nederland. Pimpinan tertinggi adalah Sr. Theresia Supriyati,JMJ dan telepon yang dapat dihubungi adalah +31 (0) 73-6872440 Fax: +31 (0) 213923285.
Di Indonesia Provinsialat JMJ berkedudukan di jalan Malang 23 Jakarta Telp: 0062 (0) 213151664 Fax: 0062 (0) 213923285. Sebagai provinsialnya adalah Sr. Lucia Tolok,JMJ. Sedangkan di keuskupan Denpasar suster-suster JMJ berkarya di Paroki Sumbawa. Biara mereka beralamat di Susteran Tritunggal Jalan Diponegoro 34 Sumbawa Besar 84313 Telp: 0371-21948. Pimpinan biara Sr. Albertine Siampa Bongi,JMJ.
Para anggota komunitas adalah; Sr. Margaretha Kowaas, JMJ lahir di Manado 9 Mei 1969, Sr. Anina Ering,JMJ lahir di Tomohon 8 April 1950, Sr. Imeldine Rumengan,JMJ, lahir di Keroit 22 Juni 1971 dan Sr. Maria Goretti,JMJ lahir di Atapupu 0 Januari 1976. Bidang karya yang diemban adalah pendidikan, kesehatan dan social pastoral.
Suster-suster JMJ berkarya juga di Kota Dompu, kabupaten Dompu dan biara mereka beralamat di Jalan jenderal Ahmad Yani No 11 Dompu NTB. Anggota komunitas adalah Sr. Ancila Danun,JMJ lahir di Toraja 25 Oktober 1944 dan Sr. Maris Stella Saroinsong, JMJ lahir di Tompaso 7 Desember 1960. Bidang karya, pendidikan dan social pastoral.
Di Kota Denpasar, suster-suster JMJ beralamat di Jalan Tukad Badung 9A Renon Telp: 0361-255450. Anggota komunitas; Sr. Albertine Siampa Bongi,JMJ lahir di Toraja 17 November 1947, Sr. Stefania Assa,JMJ lahir di Naitnenas 26 Desember 1983 dan Sr. Anna Dasilva,JMJ lahir di Tanjung Pinang 24 Agustus 1963. Bidang karya, pendidikan dan social pastoral.

Susteran CIJ (Suster-suster Pengikut Yesus)
Di Keuskupan Denpasar para suster CIJ berkarya di Paroki Tuka. Para suster bersama dengan Yayasan Kolese St. Yusuf milik para imam CCD mengelola persekolahan St. Yoseph di Tegaljaya. Alamat : Rumah Khalwat Tegal Jaya Jl. Kubu Gunung Br. Tegal Jaya – Dalung Telepon (0361) 426545. Bidang Pelayanan: Pendidikan dan Pastoral Paroki.

Susteran SPM Amlapura (Santa Perawan Maria)
Suster-Suster Kongregasi Santa Perawan Maria (SPM) Amlapura mulai berkarya sejak tanggal 11 Oktober 2000 ditandai dengan diresmikannya komunitas SPM di Amlapura oleh Mgr. Dr. Benyamin Yoseph Bria,Pr, Uskup Denpasar wajtu itu. Peresmian itu didampingi oleh Pastor stasi Amlapura waktu itu Rm. Laurensius Maryono,Pr dan Pastor Paroki Gianyar, Rm. Handriyanto. Jumlah suster yang diutus saat itu tiga orang. Mereka berkarya di bidang pendidikan di Amlapura dan Klungkung.
Tanggal 1 April 2006 dibuka taman penitipan anak ‘Stella Maris” yang diresmikan dengan perayaan ekaristi oleh Pastor Stasi Amlapura dan Klungkung P. Agustinus Keluli, OCD. Alasan didirikan Taman Penitipan Anak adalah menjawab kebutuhan masyarakat setempat yang orangtuanya bekerja dan anak-anak mereka mendapat perhatian.
Tanggal 26 Juni 2010 Suster Stefani diantar Sr. Yulita selaku Provinsial SPM dan Sr. Yohani selaku pimpinan komunitas Amlapura menghadap Mgr. Silvester San,Pr menyampaikan bahwa kongregasi SPM menanggapi tawaran untuk berkarya di bidang pendidikan di SDK Insan Mandiri yang berlokasi di Jalan Untung Suropati No.448 Amlapura. Hasilnya Ketua Yayasan Insan Mandiri Romo Hady Setiawan menyerahkan pengelolaan SDK Insan Mandiri kepada suster-suster SPM dan Sr. Stefani sebagai kepala sekolahnya.
Alamat : Susteran SPM Amlapura Jl. Untung Surapati No. 8; Amlapura Tlp. (0363) 23125. Bidang Pelayanan: Karya Sosial dan Pastoral Paroki. Anggota Komunitas : Sr. Yohani, SPM, Sr. Kalista, SPM, Sr. Susan, SPM dan Sr. Selfina, SPM.

Suster-Suster Putri Cinta Kasih Canossian (FdCC)
Suster-Suster Putri Cinta Kasih Canossian atau Figlia Della Carita Canossiane (FdCC) berpusat Roma Italia dengan alamat Eglie Della Carita Canossiane, Via Della Stazione di Ottavia,70 00135 Roma Telp: 06-3082-8012 Fax: 06-3082-8037. Pimpinan tertinggi adalah Sr. Margaret Peter,FdCC.
Di Indonesia FdCC berada di Bintaro dengan alamat Biara Canossa Jalan Canossa Ceger Raya Jurang Mangu Timur Pondok Aren Telp: 021-7356349 Fax: 021-73556345. Pimpinan di Indonesia Sr. Iolanda Vezzoli,FdCC.
Di Keuskupan Denpasar FdCC berkarya di Gianyar dan beralamat di Susteran Canossa Jl. Mulawarman No. 92A; Ginyar Tlp. (0361) 945263, Fax: 0361-945263. Pimpinan biara adalah Sr. Edna Macabilas FdCC. Suster-suster anggota komunitas adalah; Sr. Natalia da Costa Neri lahir di Suai Timor Leste 14 Januari 1967, Sr. Maria Fice Nipu lahir di Kefamenanu 27 Februari 1985 dan Sr. Mery Dioniana Nahak lahir di Atambua 0 Oktober 1985.
Konggregasi ini didirikan oleh Magdalena Gabriela dari Canossa pada tanggal 8 Mei 1808. Magdalena lahir di Verona pada 1 Maret 1774 dari keluarga bangsawan. Ia meninggal pada 10 April 1835. Panggilan missioner diwujudkan pada tanggal 26 Februari 1860 di Hongkong dan menyebar ke Tsina, Timor Leste, India, Malaysia, Filipina, Jepang, Australia, Singapura.
Bidang Pelayanan adalah Pendidikan, evangelisasi, pastoral orang sakit, pendampingan rekoleksi dan pendampingan doa serta administrasi di paroki.

Brigit’s Sister
Brigit’s Sister di Keuskupan Denpasar berkarya di Paroki Katedral Denpasar. Biara beralamat di Jl. Tukad Musi VI No. 8; Denpasar Tlp. (0361) 245357. Bidang Pelayanan: Karya Sosial dan Pastoral Paroki.

Susteran Maria Berdukacita (MBC)
Di Keuskupan Denpasar suster-suster MBC berkarya di Paroki Kuta. Rumah biara beralamat di Jl. Dewi Sartika, Gg. Palapa No. 4 Kuta – Bali. Bidang Pelayanan: Karya Sosial.

Ordo Penyelamat Tersuci Santa Brigita (O.SS.S)
Ordo Penyelamat Tersuci Santa Brigita berpusat di Ilalia dan beralamat di Casa Santa Brigida, Plazza Farneze -96 00186 Roma Italia. Saat ini dipimpin oleh Mother Maria Tekla Famiglietti,O.SS.S. Telpon yang dapat dihubungi: +39-06-68892596 Fax: +39-06-68891573.
Di Indonesia Susteran St. Brigita berada di Jalan Teka Iku Jurusan Brai Kelurahan Waioti Kecamatan Alok Maumere Kabupaten Sikka. Pimpinan di Indonesia Mother Phillys O.SS.S. Nomor yang dapat dihubungi: HP 081 339151500.
Di Keuskupan Denpasar biara suster-suster O.SS.S di Jalan Batusari No.10 Banjar Mandala Sari Kelurahan Dangin Kelod Denpasar. Nomor telepon dan fax yang dapat dihubungi: 0361- 238664 Fax: 0361- 245286. Suster-suster yang berkarya di Keuskupan Denpasar adalah Sr. Regina, O.SS.S, lahir di Marne India tanggal 4 Oktober 1948 dan Sr. Jenissa,O.SS.S kelahiran Belu 4 November 1986. Karya pastoral, kegiatan ekumene, bidang pastoral dan kegiatan social.

Suster-Suster Santa Maria Berdukacita Hamba-Hamba Maria Dari Napoli
Berpusat di Istituto Stella Mattutina dengan alamat via Sant Antonio Abate,11 80139 Napoli Roma Italia. Saat ini dipimpin oleh Sr. M. Rosalba Valenti. Nomor telepon yang dapat dihubungi: Telp: +39 8145 1901 Fax: 081 451901.
Di Indonesia biaranya berpusat di Jalan Ahmad Yani 45 Kelurahan Tenda Ruteng Flores 86508. Nomor telepon yang dapat dihubungi: 0385- 22834 Fax: 0385- 22834. Pimpinan di Indonesia adalah Suster M. Alicia Sandosal de Luna.
Di Keuskupan Denpasar biaranya berkedudukan di Jalan Dewi Sartika Gang Palapa No 4 Tuban, Kuta Bali, Telpon 0361-756842. Pimpinan adalah Sr. Alicia Sandoval de Luna. Suster-suster lainnya yang berkarya di Keuskupan Denpasar adalah; Sr. M. Beata Mawung lahir di Manggarai Rua, 21 Juli 1971, Sr. Maria Susilawati M. Djawa, lahir di Bajawa 26 Desember 1979 dan Sr. Bergita Kolo lahir di Bakitolas 21 Desember 1984. Bidang karya; sekolah, pastoral paroki, rumah yatim piatu, pemondokan/penginapan dan asrama.

Kongregasi Murid-Murid Tuhan
Kongregasi MDi Indonesia biara pusat berada di Jalan Panglima Sudirman No.92 Batu 65113, Telpon: 0341 592081. Pimpinan di Indonesia adalah P. Lodewyk Tshie,CCD. Di Keuskupan Denpasar biara berkedudukan di Rumah Khalwat Tegaljaya Jl. Kubu Gunung 888, Tegaljaya Dalung Kuta Utara Badung 80120, telpon: 0361- 426545 Fax: 0361- 426376. Pimpinan, Rm. Yandhie Buntor,CCD. Anggota komunitas Rm. Willy M Batuah, lahir di Jember 30 Maret 1940.


PROFIL KELOMPOK KATEGORIAL

Pemuda Katolik
Pemuda Katolik berdiri pada tanggal 15 November 1945 di Yogyakarta. Saat ini ketua umum adalah MT Natalis Situmorang, S.Hut,MSi. Sekretariatnya beralamat di Jl. Letjen Suprapto No 80 Galur, Tanah Tinggi, Jakarta Pusat 10540 Telp: 021-93176745, HP: 081 385754015, E-mail:pp_pemudakatolik@yahoo.com, website:www.pp-pemudakatolik.org.
Di Keuskupan Denpasar Pemuda Katolik berada di Denpasar dan NTB. Korwil Bali, NTB dan NTT dan Ketua Komda Bali adalah A.G.Dj. Edy Sugiarto,S.Tp beralamat di Jalan Thamrin I/8 Pemecutan Denpasar, E-mail:merdeka222@yahoo.com, facebook:edysoegi@yahoo.com.Komda Denpasar berdiri sejak 15 November1960. Komcab-Komcabnya; Badung, Tabanan, Denpasar, Jembrana dan Buleleng.
Komda NTB beralamat di Jalan Seruni No.5 Karang taruna Mataram Lombok HP: 085 239913929 (GSM) dan Ketua Komda adalah Adolfus Salim Baco,SPd. Komcab yang ada; Mataram, Lombok Barat, Lombok Tengah, Sumbawa, Dompu, Donggo dan Bima
Visi Pemuda Katolik adalah; Menjadi organisasi kader yang handal bagi kaum muda katolik dalam berkiprah bagi Gereja dan bangsa. Missi pemuda katolik; Mencetak kader-kader muda katolik yang berjiwa kristiani dan bersemangat kebangsaan, Menjadi tempat berpijak yang kokoh bagi kaum muda katolik melangkah maju dalam berkiprah di bidang social kemasyarakatan, Menjadi ‘rumah’ yang nyaman untuk dihuni oleh keluarga besar pemuda Katolik yaitu para anggota dan alumni pemuda katolik.

Marriage Encounter (ME)

ME berdiri sejak tahun 1962 di Barcelona Spanyol dan pada tahun 1975 masuk ke Indonesia. Berada di keuskupan denpasar pada 22 September 1991. Sekretariat di Denpasar; Jalan Kartini No 110 Denpasar Telp: 0361-7472333 Fax: 0361-231157, E-mail:meykris@yahoo.com.
Visi ME adalah “Cintailah satu sama lain seperti Aku mencintaimu (Love one another as I have love you). Missi, memperbarui Gereja dan merubah dunia dengan membantu para pasutri dan para imam untuk hidup dalam relasi yang akrab dan bertanggung jawab dengan memberikan mereka pengalaman secara katolik dan dukungan komunitas yang berkesinambungan untuk menunjang gaya hidup itu.
Saat ini ME diketuai Romo Flavianus Endi,Pr dan Pasutri Kris-Mey (Koordinator ME Distrik XII Keuskupan denpasar). Nomor yang dapat dihubungi: 081 1396310. Jumlah anggota, laki-laki 582 orang dan perempuan 598 orang.
Kegiatan rutin adalah; Menyelenggarakan weekend ME bagi pasutri, para room, para suster, rohaniwan/wait baik katolik maupun non katolik, Mengadakan pertemuan atau dialog dalam komunitas dan Menghadiri acara siding dewan nasional yang diadakan setiap tahun.
Peran serta dalam menggereja adalah membantu mewujudkan gereja kecil dalam rumah tangga, mendukung kegiatan liturgy gereja, membantu dalam kursus persiapan pernikahan dan pembekalan bagi orang tua anak komuni pertama serta mengadakan ziarah rohani.
Peran serta dalam masyarakat antara lain; memberi solusi kepada keluarga agar dapat hidup dalam relasi suami isteri byang erat/akrab dan bertanggung jawab, ikut menyosialisasikan dan berusaha menerapkan program kesetaraan jender sebagai pasangan suami dan istri serta menyadarkan para suami dan istri untuk tidak melakukan kekerasan dalam rumah tangga.

Kelompok kategorial lainnya
Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI), Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI), Ikatan Sarjana Katolik Indonesia (ISKA) dan Forum Komunikasi Mantan Anggota (Forkoma) PMKRI, Ikatan Para Medis Katolik (Perdhaki), Ikatan katekis Bali (IKB), Solidaritas Jurnalis Katolik Bali (SJKB), Persatuan Guru Katolik (PGA), Kelompok Seniman Katolik (KSK), Ikatan Advokat Katolik, Ikatan Karyawan Hotel dan Travel, Persatuan Usahawan Katolik (Pukat) dan Kelompok Nelayan Katolik, PD Karismatik, PD Aloysis Gonzaga, PD Don Bosco, Legio Maria, Tulang Rusuk, Kelompok Cinta Kasih, Kelompok Kerahiman, Kelompok Karyawan Muda Katolik (KKMK), Komunitas mahasiswa Katolik Unud, Komunitas Mahasiswa Katolik Unwar, Komunitas mahasiswa Katolik Undiknas, Couple for Christ/Pasukris, PD kanisius, Kelompok Tritunggal Mahakudus, Sekolah Minggu, CEFA, Pancaran Kasih Bunda, Forum Masyarakat Katolik Indonesia (FMKI), DJOCC dan Pasukan Yehuda.

YAYASAN PENDIDIKAN

Yayasan Insan Mandiri
Yayasan Bina Insan Mandiri adalah Yayasan milik Keuskupan Denpasar yang menjadi payung bagi sekolah-sekolah katolik di Keuskupan Denpasar.Sebelum bernama Yayasan Bina Insan Mandiri lebih dikenal dengan nama Yayasan Swastiastu.
Yayasan Bina Insan Mandiri berkantor pusat di Jl. Serma Kawi No 6 Denpasar Telp: (0361) 225147. Cabang-cabangnya yakni Yayasan Bina Insan Mandiri Cabang Lombok Jl. Majapahit No. 9 Ampenan, Tlp. (0370) 635427 dan Yayasan Insan Mandiri Cabang Sumbawa Jl. Diponegoro No. 34; Sumbawa Besar No. Tlp/Fax. (0371) 23182.
Sekolah-sekolah yang bernaung di bawah Yayasan Insan Mandiri mulai dari tingkat TKK sampai SMU.
1) Taman kanak-Kanak:TKK Bintang Kejora Amlapura Jl. Untung Surapati–Paya; Amlapura Telepon (0363) 21771, TKK Kuncup Mekar Denpasar Jl. Ida Bagus Oka – Denpasar, Telepon (0361) 234068, TKK St. Yoseph Denpasar Jl. P.B. Sudirman;Telepon (0361) 223956, TKK St. Maria Gianyar Jl. Mulawarman No. 92 A Gianyar; Tlp. (0361) 93457, TKK Thomas Aquino Tuka, TKK Swastisari - Palasari – Melaya, TKK St. M. Immaculata Tabanan Jl. Diponegoro No. 9 Tabanan Telepon (0361) 814854, TKK St. Maria Singaraja Jl. Kemboja No. 3a; Singaraja 81116; Tlp (0362) 21366, TKK St. Don Bosko Cakranegara Jl. Beo No. 3a Cakranegara; Mataram – Lombok Tlp (0370) 631342, TKK St. Antonius Ampenan Jl. Majapahit No. 9 Ampenan 83114 Tlp. (0370) 624188, TKK Sari Asih Sumbawa Besar, Jl. Diponegoro No. 34; Sumbawa Besar 84313 dan TKK Slamet Riyadi Dompu Jl. A. Yani No. 10 – Dompu – NTB.
2). Sekolah Dasar (SD): SDK Santo Yoseph I Denpasar Jl. Serma Kawi No. 2 Denpasar Tlp. (0361) 225166, SDK Santo Yoseph II Denpasar Jl. Serma Kawi No. 2 Denpasar Telepon (0361) 226123, SDK Thomas Aquino Tuka Tuka - Dalung – Kuta, SDK Budi Rahayu Palasari Palasari – Melaya, SDK Amlapura Jl. Untung Surapati Amlapura; Telepon (0363) 21771, SDK St. M. Immaculata Tabanan Jl. Diponegoro No. 9 Tabanan, Telepon (0361) 814853, SDK Karya Singaraja, Jl. Kamboja No. 3a Singaraja 81116 Telepon (0362) 21082, SDK St. Antonius Cakranegara Jl. Beo No. 3a Cakranegara Mataram – Lombok Telepon (0370) 632090, SDK St. Antonius Ampenan Jl. Majapahit No. 9 Ampenan Telepon (0370) 621365 dan SDK Diponegoro Sumbawa Besar Jl. Diponegoro No. 34; Sumbawa Besar.
3). Sekolah Menengah Pertama (SMP) :SMPK Santo Yoseph Denpasar Jl. PB. Sudirman, Denpasar; Tlp. (0361) 223040, SMPK Thomas Aquino PadangTawang – Babakan, SMPK Wana Muri Palasari Palasari – Melaya, SMPK St. Santo Paulus Singaraja Jl. Kartini No.3 Singaraja 81116 Tlp. (0362) 21084, SMPK Kesuma Mataram Jl. Pejanggik 113 Cakranegara;Mataram – Lombok Tlp. (0370) 632217, SMPK St. Antonius Mataram, Jl. Majapahit No. 9 Ampenan (belakang SDK); Telepon (0370) 625955, dan SMPK Diponegoro Sumbawa Besar Jl. Diponegoro No. 34 Sumbawa Besar; Telepon (0371) 621631.
4). Sekolah Menengah Atas :SMAK Santo Yoseph Denpasar Jl. Serma Kawi 4 Denpasar Tlp. (0361) 236459, SMAK Thomas Aquino Tangeb Tangeb - Abianbase- Mengwi Tlp. (0361) 428156, SMK Marga Ginawe Negara Jl. Udayana No. 70; Negara 82212 Tlp. (0365) 41389, SMAK Santo Paulus Singaraja Jl. Kartini No. 1 Singaraja; Tlp. (0362) 21083, SMAK Kesuma Cakranegara Jl. Pejanggik 110 Cakranegara; Mataram – Lombok;Tlp. (0370) 632597, Fax. 645695, dan SMAK St. Gregorius Sumbawa Besar Jl. Diponegoro No. 34 Sumbawa Besar Tlp. (0371) 21856.

Yayasan Kolese St.Yusuf Cabang Denpasar


Yayasan Kolese St. Yusuf (Kosayu) Cabang Denpasar beralamat di Rumah Khalwat Tegaljaya Jl. Kubu Gunung – Tegaljaya - Dalung Tlp. (0361) 426545.Sekolah-sekolah yang bernaung di bawah Yayasan Kosayu Cabang Denpasar adalah:
1)Taman Kanak-Kanak (TKK) : TKK Klungkung Jl. Dewi Sartika Semalapura Tengah Telepon (0363) 21814, TKK Bangli Jl. Ngurah Rai No. 90 Bangli Telepon (0366) 91106 dan TKK Tegal Jaya Jl. Kubu Gunung Br.Tegal Jaya Telepon (0361) 413528.
2). Sekolah Dasar (SD) : SDK Tegal Jaya Jl. Kubu Gunung Br. Tegal Jaya Dalung - Kuta - Badung Telepon (0361) 430715.
3). Sekolah Menengah Pertama (SMP) :SMPK Tegaljaya Jl. Kubu Gunung – Tegaljaya Tlp. (0361) 439424.

Yayasan Marsudirini

Yayasan Marsudirini beralamat di Jl. Kartini No. 1, Negara. Sekolah-sekolah yang bernaung di bawah Yayasan Marsudirini adalah; TKK Maria Fatima Jl. Kartini No.2 Negara Telepon (0365) 41537, SDK Marsudirini Jl. Kartini No. 1, Negara Telepon (0365) 43104 dan SMK Marsudirini Jl. Kartini No. 3, Negara – Jembrana Telepon (0365) 42010.

Yayasan Soverdi

Yayasan Soverdi beralamat di Jl. Kepundung No. 34 Denpasar Tlp. (0361) 225797. Sekolah-sekolah yang bernaung di bawah Yayasan Soverdi: TKK Soverdi Tuban Jl. Kompleks Burung Tuban Telepon (0361) 753544, SDK Soverdi Tuban Jl. Kompleks Burung Tuban Telepon (0361) 759094, SMPK Soverdi Tuban Jl. Kompleks Burung Tuban Tlp. (0361) 764682 dan SMAK Soverdi Tuban Jl. Kompleks Burung Tuban Telepon (0361) 754379.
 

Yayasan Sasana Hasta Karya
Yayasan Sasana Hasta Karya beralamat di Jl. Mulawarman No. 92 A, 80515, Gianyar, Bali. Tlp/Fax. (0361) 944422. Yayasan ini menyelenggarakan Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Keterampilan (Kursus Seni). Pendidikan Utama : Jurusan Meubel,Mesin,Ukir dan Lukis.

Seminari Menengah Roh Kudus Tuka
Seminari Roh Kudus Tuka didirikan pada 9 Juli 1953 oleh P.Nobert Shadeg,SVD. Dalam tulisan bertajuk ‘Uraian Singkat Mengenai Gereja Katolik di Bali-Lombok dari 1950-1961’ seperti termuat dalam ‘Bali Mission History, from Various Author’ (Compilation: N. Shadeg, SVD & Sekretariat Widya Wahana, Seri I Part II, hal.30) Pater Blanken, SVD menulis:’dekat Denpasar desa Tangeb tempat tinggal P.J. Kersten, SVD. pioneer missi Bali/Lombok dipilih untuk menjadi tempat sekolah SMP Katolik yang pertama di Bali dan Lombok. Pada awalnya dijalankan dengan takut apa akan dapat menahan dirinya, berdiri terus, berjalan terus dan untunglah tak lama, nama sekolah itu mulai termasyur juga di antara putera-puteri Bali yang tidak Katolik hingga sekolah itu terjamin…’
Dalam tulisan itu Pater Blanken juga menyebutkan, di samping SMP sebagian dari gedung SMPK Tangeb digunakan sebagai tempat belajar siswa-siswa SMP Seminari Roh Kudus.Dalam catatan sejarah pendidikan di Bali SMPK Tangeb berdiri pada 1 Agustus 1953. Dibukanya SMP Seminari merupakan langkah berani yang dilakukan oleh Pater Norbert Shadeg, SVD misionaris Serikat Sabda Allah asal Amerika Serikat.
Dalam ‘The Christian Family’ (Bali Mission Series No 9 Denpasar, 1990 halaman 37) Pater Shadeg menulis; ‘…inilah impian misiologis seorang misionaris untuk menjadi tidak dibutuhkan lagi sesudah gereja lokal berkembang dan sampai pada suatu tahap otonomi dan kematangan yang memadai. Tahun 1953 merupakan privilese saya untuk membuka sebuah seminari kecil pertama di pulau ini…”
VISI Seminari Roh Kudus Tuka tahun 2010; Mempunyai kelas SMA Seminari sendiri di Tuka. Bila sejak 1981 siswa SMA Seminari mesti bersekolah di SMAK St. Thomas Aquinas Tangeb maka mulai 2010 mereka akan bersekolah di Tuka. Pertimbangan utama guna memaksimalkan proses pendidikan dan pembinaan para seminaris calon imam di Seminari Tuka.Bangunan lama akan direnovasi menjadi Gedung 3 lantai untuk sekolah SMA.
Saat ini Romo Benediktus Deny Mari,Pr dipercayakan sebagai pimpinan Seminari. Alamat yang dapat dihubungi: Seminari Menengah Roh Kudus Tuka PO BOX 18 Sempidi 80351 Denpasar Bali Telp: (0361) 439877.

YAYASAN KESEHATAN DAN SOSIAL

Yayasan Dharma Bhakti Pertiwi
Yayasan Dharma Bhakti Pertiwi (YDBP) didirikan pada tanggal 26 Maret 1975 oleh P.Pancratius Mariatma,SVD, K.Rames Iswara, SH dan Wardiana. Spirit dasar Yayasan Dharma Bhakti Pertiwi adalah pelayanan dan pengabdian dengan mengutamakan orang-orang pinggiran. Sedangkan visi dasar Yayasan adalah Kebersamaan dalam Kasih.Tujuan didirikannya Yayasan ini adalah untuk menaungi beberapa unit karya pelayanan dan pengabdian kemasyarakatan. Ada dua karya pelayanan dan pengabdian masyarakat yang dipayungi oleh Yayasan Dharma Bhakti Pertiwi yakni Panti Kesehatan dan Tempat Penitipan Anak. Dengan didirikannya Yayasan ini maka unit-unit kerja itu mendapatkan aspek legal sehingga bisa melayani masyarakat luas.
Sejak Maret 2005 pengelolaan Tempat Penitipan Anak (TPA) di bawah naungan Yayasan Dharma Bakti Pertiwi telah mendapatkan ijin resmi dari Dinas Kesejahteraan Sosial Propinsi Bali. Pemerintah Propinsi juga mengakui komitmen Yayasan ini dalam memberikan pelayanan kesehatan dan pendampingan anak-anak bukan saja kepada umat katolik tetapi masyarakat umumnya.
Yayasan ini mengelola BP/BKIA/RB/POL. GIGI Panti Rahayu Jl. Gunung Semeru No. 8A Denpasar – Bali; Tlp. (0361) 424426, BP/BKIA/RB/POL. GIGI Panti Swasti Tangeb - Abianbase - Mengwi Tlp. (0361) 428122, BP/BKIA/RB Astiti Tuka - Dalung - Kuta – Badung, BP/BKIA/RB Panti Mulya Cemagi Munggu – Mengwi, BP/BKIA/RB Punia Giri Palasari - Ekasari Melaya – Jembrana dan Dokter Praktek (Umum) Jl. Keboiwa No. 4, Denpasar. Alamat yang dapat dihubungi: Jl. Keboiwa No. 4, Denpasar Tlp. (0361) 8443023.

Yayasan Kertayasa

Yayasan ini mengelola Rumah Sakit Bersalin Kertayasa Jl. Ngurah Rai No. 143 Negara Tlp. (0365) 41248 dan BP/BKIA/RB Dirgahayu Gumbrih - Pekutatan – Jembrana.

Yayasan Arnoldus
Yayasan ini mengelola BP/BKIA/RB Panti Sila Jl. Gunung Agung No. 27 Singaraja Telepon (0362) 22993.
 

 Yayasan St. Antonius
Yayasan ini mengelola Rumah Sakit St. Antonius Jl. Koperasi No. 61 Ampenan Lombok – NTB Tlp. (0370) 621397. Yayasan Ratna Miriam
Yayasan ini mengelola BP Sinar Harapan Jl. Dr. Sutomo No. 4; Sumbawa Besar – NTB Tlp. (0371) 21084.

Yayasan Kolese St. Yusuf
Yayasan ini mengelola Poliklinik Tegal Jaya Br. Tegal Jaya – Dalung Kuta – Badung.

Yayasan St. Anthonius
Yayasan ini mengelola Rumah Sakit St. Anthonius Karang Ujung Ampenan Lombok dan beberapa klinik atau BKIA yang ada di Ampenan.

Panti Asuhan
Panti Asuhan Maria Goreti Palasari - Melaya 82252 Telepon (0365) 42126, Panti Asuhan “Sidhi Astu” Jl. Raya Tuka, Tuka Dalung Kuta Utara, Denpasar, Bali, Telepon (0361) 7473382 dan Panti Asuhan Tritunggal Jl. Diponegoro No. 34 Sumbawa Besar 84313 Tlp. (0371) 21935,

Panti Penitipan Anak
Panti Penitipan Anak (TPA) Werdi Kumara Jl. Ida Bagus Oka Gang Rencong No. 9; Denpasar – Bali; Tlp. (0361) 226155, PPA St. Theresia dari Kanak-Kanak Yesus Jl. Diponegoro No. 9 Tabanan Tlp. (0361) 811024, PPA St. Paulus Singaraja, Jl. Kemboja No. 3a Singaraja Tlp. (0362) 21366 dan TPA St. Maria Mataram Jl. Pancawarga No. 10 Mataram Tlp. (0370) 624062.

Asrama
Asrama Putri Cenigan Sari Jl. Cenigan Sari No. 18 Denpasar Tlp. (0361) 726431, Asrama Santa Catarina, Jl. Serma Kawi No. 5 Denpasar Tlp. (0361) 224466 dan Asrama Putri St. Carolus Boromeus Br. Tengah Tangeb – Abianbase Tlp. (0361) 428137.

Rumah Retret
Rumah Retret Betania Kuta (Keuskupan Denpasar) Jl. Kubu Anyar No. 15 Tuban – Kuta Tlp. (0361) 753003, Rumah Khalwat Tegaljaya (CDD) Jl. Kubu Gunung Br. Tegaljaya - Dalung Tlp. (0361) 426545, Wisma Soverdi Bali Wacana (SVD) Jl. Kepundung No. 34 Denpasar Tlp. (0361) 225797, Rumah Retret St. Arnoldus Yansen & Yoseph Freinandemetz (Keuskupan Denpasar) Jl. Majapahit Gg. Sadari No. 1; Ampenan – Lombok Tlp. (0370) 6606372 dan Rumat Retret Biara Karmel (O Carm) Desa/Br. Batunya, Baturiti, Tabanan Tlp. (0368) 21407, 21416.

PESAN DAN KESAN UMAT

Yohanes Tobi.
Bapak Yohanes Tobi asal Larantuka Flores sudah berdomisili di Paroki Ampenan pada tahun 1962. Ia mulai bekerja sebagai tukang kebun di Gereja Katolik Ampenan tahun 1980. Ia mengalami masa kegembalaan P.Gierlings,SVD sampai dengan pastor saat ini P.Yoseph Waryadi,SVD dan P. Fransiskus Sidok,SVD. Banyak kemajuan yang dicapai seperti jumlah umat yang bertambah, bangunan gereja dan fasilitas lainnya yang semakin baik. Sebagai umat, Anis juga mengalami masa-masa penuh tantangan dimana Gereja dianiaya.Sebagai umat ia berharap ada kedamaian antar umat beragama.”Harapan saya kiranya jangan lagi ada kerusuhan, jangan lagi ada kekerasan. Biarlah semua orang hidup dalam damai penuh persaudaraan” Ujar Anis yang mengaku sudah berusia 80-an tahun ini.(Pewawancara: Agust G Thuru)

Petrus Selis Tokan
Tokoh umat Paroki Ampenan bapak Petrus Selis Tokan berharap, peristiwa kerusuhan seperti yang terjadi pada tahun 2000 silam jangan sampai terjadi lagi. Untuk itu umat katolik harus juga berinisiatif untuk membangun kerja sama dengan semua golongan agama. Maka tepat kiranya tema Yubileum Membangun gereja yang inklusif dan transformatif. “Kita yang harus aktif membangun pertemanan dengan sama saudara kita yang beragama lain” Ujar Selis Tokan.
Dikatakan Selis Tokan, ada kesan pertambahan umat di Ampenan sangat lamban. Hal ini bukan karena tidak ada karya pewartaan, tetapi karena lingkungan masyarakat yang mengharuskan umat katolik menjadi kelompok kecil atau minoritas. Sementara secara internal iman umat juga kurang kuat sehingga dengan mudahnya pindah agama, meskipun di saat yang sama juga ada yang bergabung ke pangkuan gereja katolik. Ia juga meminta para imam untuk tetap teguh dalam panggilan imamatnya dan berpegang teguh pada ajaran gereja.”Keuskupan kita kurang imam maka imam yang sekarang taat pada imamatnya, berarti taat pula pada Uskup sebagai pimpinan Gereja di keuskupan ini” Ujarnya.
Ia juga berharap agar umat harus mulai dewasa dalam hidup menggereja. Jika dulu para misionaris yang membangun gereja sekarang saatnya awam atau umat paroki yang harus membangun parokinya sendiri.” Kita sedang menuju paroki yang mandiri. Karena itu umat adalah tiang kokoh penopang tetap berkaryanya Gereja di Keuskupan denpasar, khususnya di Paroki Ampenan” Ujarnya.(Pewawancara: Agust G Thuru)


Petrus Ngaga
Bapa Petrus Ngaga dan istrinya Elisabeth Nurina adalah dua dari sekian banyak umat katolik Mataram angkatan 1950 yang saat ini masih hidup. Petrus Ngaga asal Ende Flores sudah berdomisili di Mataram sejak tahun 1950. Ia menikah dengan gadis asli Sasak bernama Nurina.
Ibu Elisabeth Nurina menuturkan, di masa kecilnya ia sering lewat di depan gereja Mataram bila ke Pasar Cakranegara. Ia menyaksikan pastor yang merayakan misa membelakangi umat. Saat itu ia mulai tertarik. Nurina lalu tinggal bersama dengan Bapa Rofinus asal Flores yang adalah koster di Gereja Mataram. Bapa Rofinus pula yang mengurus pernikahannya dengan Petrus Ngaga.”Saya menjadi katolik bukan karena menikah dengan Petrus Ngaga tetapi karena memang saya sudah tertarik dengan katolik” Ujar Elisabeth Nurina.
Bapa Petrus Ngaga mengisahkan bahwa pada tahun 1950 umat belum banyak dan gereja belum megah seperti sekarang ini. Namun ia sangat kagum dengan kerja keras para misionaris SVD yang tak henti-hentinya mengunjungi Mataram dan melayani umat Mataram.” Para imam misionaris sudah kerja keras untuk Gereja di Mataram. Mereka tak pernah kenal lelah” Ujar Petrus yang diamini istrinya Elisabeth.
Kini Gereja Mataram sudah maju, umat sudah banyak dan gereja sudah dibangun dengan megah. Ia berharap agar umat terus berdoa agar tidak terjadi lagi musibah yang membawa kerugian baik secara moral maupun secara material. Ia juga berharap agar umat tetap teguh pada imannya. Bapa Petrus Ngaga dan mama Elisabeth rupanya belajar dari pengalaman dalam keluarga, bagaimana anak-anaknya ada yang memilih jalan hidup di luar gereja.”Ini pengalaman iman keluarga saya yang sangat menyedihkan” Ujar Petrus yang didampingi putrinya Kristin, aktifis Sekami Paroki Mataram. (Pewawancara: Agust G Thuru)

Selerinus Nurak
Bapa Selerinus Nurak berasal dari Maumere Flores dan sudah berdomisili di Praya sejak tahun 1958. Ia menikah dengan wanita asli suku Sasak putri dari almarhum Haji Lalu Muhammad. Tentang perkawinannya dengan putri seorang haji, Selerinus mengisahkan tak ada masalah. Orangtua dari istrinya sama sekali tak mempermasalahkan agama bahkan tak berkeberatan ketika istrinya masuk katolik.
Bagi Selerinus, hidup dan iman umat katolik di Praya ada dalam ujian. Ada tembok besar menghadang di depan seolah menghalangi setiap langkah untuk maju ke depan. Jumlah umat yang nyaris tak berkembang bahkan terus berkurang adalah masalah tersendiri bagi paroki Praya. Banyak umat yang akhirnya memilih meninggalkan Praya setelah peristiwa 7 September 1998 dimana bangunan gereja dibakar dan sampai saat ini berbagai upaya yang dilakukan untuk mendapat ijin membangun kembali rumah ibadat belum mendapatkan hasilnya.”Kami umat katolik Praya masih harus berdoa terus menerus untuk mohon penyertaan Tuhan sehingga terwujud kembali pembangunan gereja” Ujarnya.
Menurut Selerinus, masyarakat di Praya tidak pernah mempersoalkan masalah beda agama. Ia memberi contoh dirinya menikah dengan putri seorang haji dan tidak ada masalah. Kesan adanya jurang perbedaan antar umat beragama justru muncul ditengah suasana reformasi.”Saya tidak tahu mengapa terjadi demikian, tetapi kenyataannya, sampai sekarang umat katolik Praya bagaikan domba-domba tanpa kandang, terus berkelana tanpa tempat berteduh yang pasti” Ujarnya lagi.
Dalam rangka Yubileum 75 tahun Gereja Katolik Keuskupan Denpasar, Selerinus berharap agar ke depan ada upaya-upaya yang lebih konkrit lagi untuk mewujudkan impian umat paroki Praya memiliki gereja. Pendekatan-pendekatan baik kepada instansi yang berwenang maupun kepada masyarakat dan tokoh agama harus terus dilakukan secara intensif.”Kita tak boleh berputus asa untuk berusaha terus mewujudkan impian memiliki gereja di Praya. Saya yakin suatu saat pasti ada jalan keluarnya” Ujar pensiunan pegawai kejaksaan Kabupaten Praya ini.(Pewawancara: Agust G Thuru)

Mikael Abang
Ketua Bidang Pembinaan Iman (BPI) Dewan Pastoral paroki Sang Penebus Sumbawa Mikael Abang menuturkan, Gereja Sang Penebus Sumbawa sudah mengalami banyak kemajuan. Mantan frater Keuskupan Denpasar yang kini PNS di Kementerian Agama Kabupaten Sumbawa ini mengatakan, di masa kecilnya ia mendengar ceritera dari ayahnya Stanis Awang bahwa gereja katolik pada tahun 1955 masih merupakan bagunan darurat yang dindingnya dari gedek terletak di belakang kantor daerah sekarang ini. Gereja yang belum direnovasi dalam bentuk sekarang ini dibangun di atas tanah pemberian Sultan Kaharudin III, sultan terakhir dan Bupati pertama Kabupaten Sumbawa. Sedangkan kompleks persekolahan, susteran JMJ dan lapangan bola kaki dibeli oleh imam-imam CssR.
Bagi Mikael, perkembangan Gereja Sumbawa sungguh luar biasa. Setelah Romo Gede Adiamika menjadi pastor paroki, maka komplek gereja ditata, diberi pagar keliling agar terpisah dengan kompleks sekolah.”Saya merasa kini gereja benar-benar tempat yang sakral. Tak ada lagi binatang berkeliaran di halaman gereja, tak ada anak-anak bermain bola di halaman. Bagi saya, kesakralan gereja harus terjaga. Dan itu sudah dilakukan oleh Romo Gede”Ujarnya.
Dalam kaitan dengan 75 tahun Gereja Katolik Keuskupan Denpasar, ia berharap agar umat tetap teguh dengan imannya apapun yang terjadi dan dalam situasi apapun. Ia juga berharap agar karya-karya pastoral lebih berpihak pada rakyat kecil tanpa memandang suku dan agamanya.
Karena keuskupan sangat kekurangan tenaga imam, maka banyak umat pasti berharap seperti dirinya yakni agar para imam setia pada panggilan imamatnya.”Sebagai umat kita terus berdoa agar para imam tetap setia pada panggilannya. Juga supaya mereka tetap setia pada pimpinan gereja” Ujarnya. .(Pewawancara: Agust G Thuru)

Melkisedek Ranggalehu
Sekretaris Dewan Pastoral Paroki Dompu Melkisedek Ranggalehu mengatakan sangat bersyukur karena Gereja Keuskupan Denpasar telah memasuki usianya yang ke-75 tahun. Sudah banyak kemajuan yang dicapai seperti jumlah umat yang bertambah, karya pastoral semakin beranekaragam, dan bangunan gereja secara fisik pun dapat dengan mudah dibangun.
Namun, ke depan perlu dipikirkan bersama-sama soal panggilan menjadi imam di keuskupan ini.”Menurut saya, minat anak-anak untuk masuk seminari sesungguhnya banyak. Tapi orang tua terpaksa mengurungkan niat mengirim anaknya ke seminari setelah tahu bahwa di seminari biayanya sangat tinggi” Ujar Melkisedek.
Ia mengatakan, mungkin perlu ada gerakan khusus atau ada kelompok-kelompok khusus yang dibentuk dan berkarya secara khusus dalam memfasilitasi anak-anak yang berminat ke seminari. “Saya berharap ke depan ada orang tua asuh untuk para seminaris” harapnya. Ia juga berharap agar para imam yang sekarang ini tetap setia pada panggilannya dan setia pada pimpinan gereja.(Pewawancara: Agust G Thuru)

Fransiskus Jema
Bendahara Dewan Pastoral Paroki Dompu Fransiskus Jema juga berharap hal yang sama. Ia mengharapkan agar para imam memberikan teladan yang baik kepada umat terutama teladan untuk taat pada pimpinan gereja.
Harapan ini dilontarkan karena merasa sedih dengan sikap imam yang melawan uskup.”Para imam sudah berjanji untuk taat pada uskup. Jadi kami para awam ini berharap agar para imam mewujudnyatakan janji saat tabhisan itu dalam perbuatan dan perjalanan panggilan imamat mereka”Ujarnya.
Ia juga minta kepada umat untuk tetap tguh dalam imannya lebih-lebih di sat mereka hidup di tengah masyarakat mayoritas.” Di Paroki Dompu ini banyak umat tinggal di stasi-stasi yang jauh dari pusat paroki dan mereka adalah kelompok kecil. Kita terus memberikan semangat agar mereka tetap taat pada imannya” Ujarnya.(Pewawancara: Agust G Thuru)


Moses Pua Seda
Bapak Moses Pua Seda, kelahiran desa Rega Wudu Boawae Kabupaten Nagekeo dan mulai berdomisili di Bima pada tahun 1955. Ia dan istrinya Maria Woga merupakan umat katolik tertua yang masih hidup. Ia menyampaikan kesan-kesannya selama menjadi umat Paroki St. Yusuf Raba Bima.Didampingi istrinya Maria Woga, Moses Pua Seda yang mengaku telah berusia 82 tahun ini mengaku lahir di Kampung Rega, Desa Wudu Kecamatan Boawae Kabupaten Nagekeo. Ia lupa tanggal berapa tiba di Bima, tetapi yang ia ingat adalah tahun 1955.Ia bertugas di kepolisian Bima sebagai pegawai sipil. Ia menikah dengan Maria Woga pada 8 Agustus 1961 di Gereja Wudu.
Pada tahun 1955, saat ia datang ke Bima umat katolik belum banyak. Mungkin hanya sekitar 20 orang. Seingatnya,waktu itu belum ada gereja. Umat sembahyang dari rumah ke rumah saja. Imam pertama yang menetap di Bima adalah Pater Heribertus Kuper,CssR yang datang ke Bima pada tahun 1963. Selanjutnya para imam CssR, SJ, SVD dan imam praja bergantian melayani umat Raba Bima.
Bagi Moses Pua Seda, perjalanan waktu dari tahun 1955 sampai dengan 2010 ini adalah perjalanan sejarah gereja paroki Bima yang penuh dengan berkah dan karya Roh Kudus. Selama 45 tahun ia telah mengalami pengalaman suka maupun duka. Namun yang membanggakan adalah bahwa Gereja terus mengalami pertumbuhan. Tak terasa, dalam 45 tahun umat berkembang menjadi 1000 lebih.”Ini yang membuat saya bangga. Saya tahu Roh Kudus yang bekerja” Ujarnya saat ditemui di kediamannya Rabu 21 Juli 2010.
Bagi Bapa Moses dan Mama Maria Woga, pengalaman yang membahagiakan sungguh amat banyak, bahkan tak terhitungkan. Namun di tengah pengalaman yang membahagiakan itu terselip pengalaman yang penuh dengan tantangan.Pengalaman yang penuh tantangan itu, memang sudah lama berlalu. Tetapi seringkali terlintas kembali di masa tua saat ini.”Sungguh menantang namun mengharukan karena Tuhan campur tangan” Ujar Moses.
Pengalaman duka pertama yang dialami bapa Moses dan umat katolik Raba Bima (waktu itu masih bergabung Dompu dan Donggo) adalah masalah penganiayaan umat katolik di Donggo pada tahun 1969. Bapa Moses menjadi saksi sejarah yang menyelamatkan nyawa Pastor Kuper pada waktu itu yang diancam akan dibunuh. Akhirnya masalah itu bisa diselesaikan. Pengalaman kedua adalah peristiwa kulit babi pada tahun 1979, dimana ditemukan kulit babi di Mesjid Al Hikmah yang letaknya persis di belakang Gereja Katolik. Bapa Moses dituduh menaruh kulit babi tersebut sehingga ia mendekam dalam sel selama tiga bulan dan akhirnya bebas. Semua pengalaman itu dirasanya sangat manis karena demi Gereja dipenjara sekalipun ia tidak takut.
Kini Gereja Keuskupan Denpasar sudah berusia 75 tahun. Menurut Bapa Moses, umat sudah bertambah banyak. Namun kesadaran umat untuk hidup menggereja semakin luntur. Solidaritas dan kesetiakawanan antar umat semakin menipis. Ia berharap, semakin bertambah usia gereja, semakin kuat iman umat, semakin berakar Gereja di suatu wilayah.(Pewawancara: Agust G Thuru)

Haji Ahmadi
Haji Ahmadi menuturkan, bersyukur karena Gereja di Donggo masih tetap hidup sampai sekarang meskipun dihadang oleh berbagai cobaan terutama peristiwa tahun 1969 yang meluluhlantakkan iman umat dan bangunan gereja.”Kalau saya ingat peristiwa tahun 1969, saya merasa sedih. Meskipun saya pindah agama tetapi rasa hormat saya pada katolik tak pernah berkurang”Ujar Ahmadi yang bernama asli Andreas Piter Benz ini.
Ia bersyukur bahwa Gereja Donggo masih bisa membangun kembali gereja-gerejanya pada tahun 1970. Ahmadi mengaku, dirinya adalah tukang batu yang membangun Gereja Tolonggeru pada tahun 1970-1974 yang kemudian diresmikan pemakaiannya oleh P.Thomas Tepho,SVD pada tahun 1975. Ia berharap tak ada lagi masalah sentimen antar umat beragama, sehingga gereja di Donggo boleh berkembang terus dan kerukunan umat beragama semakin erat.(Pewawancara: Agust G Thuru)

Alfons Subu
Ketua Dewan Pastoral Quasi Paroki Donggo Alfon Subu yang adalah orang Tolonggeru asli mengatakan Gereja Katolik Donggo saat ini terus berkembang meskipun dihadapkan dengan masalah terutama masalah ekonomi. Mayoritas umat katolik Donggo yakni 90 persen adalah petani. Sebagian kecil bekerja sebagai pegawai negeri sipil, pegawai swasta dan buruh di kota Bima.
Ia berharap agar masalah sentimen antar umat beragama tidak terjadi lagi dan kerukunan semakin menyata dalam kehidupan sehari-hari. Dalam rangka 75 tahun Gereja Katolik Keuskupan Denpasar, Alfons berharap agar umat kembali meningkatkan semangat dalam menggereja dan para imam agar memberikan teladan yang baik kepada umatnya. Ia mengharapkan agar para imam tetap setia dalam panggilan dan menunjukkan iktikad baik untuk senantiasa taat pada pimpinan gereja.
Ia juga berharap agar umat di Quasi Paroki Donggo tetap memelihara kerukunan serta tetap mempertahankan sikap gotong royong dalam berbagai kegiatan. “ Umat di sini dari dulu sampai sekarang masih memelihara kebersamaan dan sikap gotong royong. Misalnya saat membangun rumah atau mengerjakan lading. Dan sikap ini harus terus dipelihara.” Ujarnya.
Menurut Alfons, dirinya memberikan hormat kepada para imam yang mempunyai karya-karya social dan memiliki kepedulian yang tinggi terhadap para gelandangan dan pembinaan kaum muda. Namun semua karya itu menjadi berkurang nilainya jika jalan yang ditempuh oleh para imam adalah dengan melawan pimpinan gereja dalam hal ini Uskup.”Secara pribadi saya berharap, para imam yang melawan itu supaya sadar, bahwa imamatnya sah karena ada tumpangan tangan seorang uskup. Jika ia melawan Uskup berarti satu bentuk pengkhianatan” Ujarnya.(Pewawancara: Agust G Thuru)

Ignatius Ismail
Katekis Stasi Mbawa Ignatius Ismail mengatakan sangat bersyukur karena Gereja Katolik Keuskupan Denpasar sudah mencapai usia 75 tahun. Namun tentu saja di depan akan banyak sekali tantangan yang harus dihadapi. Demikian juga dengan umat di Stasi Mbawa, bersyukur karena Gereja Mbawa bisa melewati berbagai tantangan dan iman kepada Kristus masih tetap bertahan sampai sekarang meskipun dalam perjalanan terjadi banyak perpindahan agama. Kata dia, banyak orang katolik khususnya perempuan yang pindah ke agama lain namun di saat yang sama juga banyak dari agama lain yang masuk katolik.
Masalah yang sering muncul adalah jika umat tidak suka dengan pastor atau dengan katekis maka ia akan mogok ke gereja. Ia berharap agar iman umat tidak boleh luntur hanya karena tidak suka dengan sosok seseorang. Selain itu sikap gotong royong antara umat juga mulai semakin pudar. Ia berharap agar solidaritas dan rasa kesetiakawanan social antar umat tetap terpelihara.
Dalam kaitan dengan 75 tahun Gereja Katolik Keuskupan Denpasar, ia berharap agar aspek pembinaan iman anak-anak dan remaja harus lebih menjadi focus. Dewasa ini banyak anak dan remaja yang bersekolah di sekolah negeri dan mereka tidak mendapat pendidikan agama. Ini bias menjadi sebuah masalah.”Gereja ke depan harus benar-benar memperhatikan aspek pembinaan iman anak-anak ini. Gereja harus berani mempekerjakan lagi tenaga katekis khususnya di paroki yang tidak ada sekolah katolik.” Harapnya.(Pewawancara: Agust G Thuru)

Vinsentius Made Sandiarta
Tertarik dengan agama katolik dari teman-teman. Ia mengaku masuk gereja pertama kali pada Natal 1980 di Gereja St. Yoseph Kepundung. Setelah pindah ke Singaraja ia belajar agama katolik pada opa Aliandu dan Sr. Katrin Kumanireng. Pada tahun 1984 ia menerima baptisan dan komuni pertama dari P.Robert Rewu,SVD.
Sebagai umat yang berkomitmen untuk taat pada Gereja yang satu, kudus, katolik dan apostolik, ia berharap dengan usia Gereja Keuskupan Denpasar yang sudah menginjak 75 tahun, umat kiranya lebih meningkatkan ‘ketaatan’ pada pimpinan Gereja. Ia juga berharap agar para imam tetap taat pada panggilannya karena saat ini panggilan sangat kurang.”Kita harus terus berdoa tiada henti untuk kesetiaan panggilan para imam.” Ujarnya.
Kerinduan yang masih terus ada dalam dirinya adalah melihat Gereja Katolik di Singaraja kembali seperti sebelum tahun 1995 dimana umat bersatupadu. Karena itu harapannya adalah supaya Gereja di Singaraja kembali bersatu. Ia mengaku tak henti-hentinya berdoa agar Roh Kudus memberikan jalan yang terbaik agar semua masalah bisa diselesaikan dan umat di Singaraja menjadi satu tubuh Kristus dan tak terceraiberaikan.(Pewawancara: Agust G Thuru)

Matheus Yoseph Sarsito
Mantan Kepala SMP dan SMAK St. Paulus Singaraja ini menyatakan rasa syukur karena Gereja Keuskupan Denpasar telah menginjak usianya yang ke-75 tahun. Ibarat manusia maka usia 75 tahun adalah usia senja, tapi sebagai Gereja ini adalah usia matang dalam berkarya menyelamatkan jiwa-jiwa umatnya.
Suami dari Yustina Veronica Suharmipartiwi ini tetap optimis bahwa Gereja katolik akan terus tumbuh dan berkembang dan melakukan banyak hal yang berguna bagi umatnya bukan saja hanya secara rohaniah tetapi juga secara jasmaniah. Misalnya, Gereja kini terus berupaya menyejahterakan umat dengan berbagai program pemberdayaan, salah satunya melalui koperasi kredit.
Menurutnya, dalam usia 75 tahun ini, pertumbuhan koperasi kredit di kalangan gereja katolik sudah sangat berkembang dan mewarnai lingkungan di luar Gereja. “Koperasi kredit,sudah menjadi salah satu karya kerasulan yang turut memperkenalkan Gereja ke tengah para anggota non katolik dan mereka pun memahami Gereja Katolik secara baik dan benar bahwa Gereja sama sekali tidak mengkristenkan orang, tetapi bekerja untuk orang-orang yang berkehendak baik membangun tata dunia baru” Ujarnya.
Soal keberadaan koperasi yang diprakarsai oleh umat katolik, ia mengatakan ada kekhawatiran bahwa koperasi lalu berkembang menjadi semata-mata sebagai lembaga perekonomian dan kehilangan semangat kekatholikannya.”Saya berharap cirri khas kekatholikan dalam koperasi harus tetap dipertahankan. Dengan demikian koperasi yang diprakarsai oleh umat katholik akan tetap menjadi sarana efektif dalam memperkenalkan iman katholik kepada masyarakat umum” Ujarnya lagi.
Sama seperti semua umat katolik di Singaraja, Matehus Yoseph Sarsito juga mengharapkan agar masalah Gereja Singaraja bias diselesaikan dan umat boleh kembali menjadi satu kawanan yang sama-sama berziarah ke rumah Bapa di surga. Menurutnya, harus ada waktunya dimana semua umat belajar untuk setia lagi bukan saja kepada pimpinan Gereja, tetapi juga pada amanat Yesus; “Hendaklah kamu semua menjadi satu, sama seperti Aku dan Bapa adalah satu”. (Pewawancara: Agust G Thuru)

I Made Kembarika,SPd
Meskipun bukan seorang katolik, I Made Kembarika,SPd mengaku sangat kagum dengan Gereja Katolik, terutama karya-karya yang dilakukan oleh umat katolik. Salah satu contoh adalah bagaimana umat katolik di Paroki Negara menjadi motivator bagi umat beragama lain untuk berhimpun dalam wadah koperasi.
Kepala Operasional Koperasi Kredit Bali Arta Mandiri Negara ini menuturkan pengalamannya dalam mendirikan koperasi. Ia diajak oleh Drs. Yohanes Budi Nurseto, salah satu tokoh gereja katolik Negara untuk bersama-sama mendirikan koperasi Bali Arta Mandiri. Ia mengaku, niat baik ini tentu saja disambutnya. Dan ternyata, koperasi Bali Arta Mandiri kini berkembang dan anggotanya dari lintas agama.”Saya percaya setiap apa yang diprakarsai oleh umat katholik adalah perwujudan dari nilai cinta kasih yang diyakinya” Ujarnya.
Ia berharap agar Gereja Katolik terus berkiprah dalam membangun perekonomian rakyat, bukan saja untuk kalangan gereja saja tetapi untuk semua lapisan masyarakat. Kata dia, sekarang ini, semua umat beragama harus menyatukan semangat dan komitmen untuk menciptakan masyarakat yang adil dan sejahtera. (Pewawancara: Agust G Thuru)

PERISTIWA – PERISTIWA MENDEBARKAN DAN MENGHARUKAN

Peristiwa 1969



Peristiwa 1969 adalah sebuah peristiwa yang mendebarkan, terjadi di Donggo yang saat itu sebagai Stasi dari Paroki Raba Bima. Umat katolik dianiaya dan gereja di Tolonggeru, Mbawa dan Nggerukopa dibakar. Umat katolik dipaksa untuk masuk ke agama lain.
Menurut saksi sejarah Moses Pua Seda, peristiwa itu benar-benar mendebarkan. Pater Kuper,CssR nyaris dibunuh. Namun Tuhan masih melindunginya karena Moses Pua Seda dan beberapa umat katolik dapat menyelamatkannya.
Masalah itu dapat diselesaikan oleh pemerintah Kabupaten Bima. Bahkan pemerintah menyediakan dana untuk membangun kembali kapela yang dibakar massa.
Rumah adat di Donggo


Sedangkan umat katolik yang dipaksa masuk agama lain dikembalikan ke pangkuan gereja Katolik atas upaya Bimas Katolik Nusa Tenggara Barat Paulus Boli.

Mgr. Dr. Paulus Sani Kleden, SVD Wafat

Tanggal 3 Januari 1961 Prefektur Apostolik Denpasar (Bali-Lombok) ditingkatkan menjadi Keuskupan Denpasar. Tahta suci mengangkat Mgr.Dr.Paulus Sani Kleden,SVD sebagai uskup Keuskupan Denpasar. Namur estela sepuluh tahun menggembalakan umat, Tuhan memanggilnya kembali ke pangkuanNya.Di tengah sidang Majelis Agung Wali Gereja Indonesia (MAWI kini KWI) tanggal 28 November 1971 Mgr.Dr. Paulus Sani Kleden,SVD meninggal dunia di Jakarta. Beliau dimakamkan di Jakarta. Namun jasad Mgr. Paulus Sani Kleden kemudian dimakamkan kembali di Palasari pada tanggal 23 September 1980.

Peristiwa ‘Kulit Babi’ Raba Bima

Peristiwa kulit babi adalah peristiwa yang terjadi pada Jumat 27 September 1979. Ketika saudara-saudara umat Islam melaksanakan sholat Jumat di Mesjid Al Hikmah yang letaknya persis di belakang Gereja Katolik, umat Islam digegerkan dengan kulit babi yang diletakan di dekat mimbar imam. Temuan itu sontak menimbulkan amarah umat Islam sehingga pembakaran asrama pun tak terlehkan.
Atas peristiwa itu Kasdim Kodim Bima Kapten Samadi menangkap Moses Pua Seda dan seorang umat lainnya, juga menangkap dua anak yakni A Wahab Ismail (10 tahun) dan Saleh (6 tahun). Selama tiga bulan Moses yang waktu itu adalah karyawan sipil Kantor Polisi Bima disel dan dipaksa mengakui bahwa ia menaruh kulit babi itu di Mesjid Al-Hikmah. A.Wahab Ismail dan Saleh pun dipaksa bahwa mereka melihat Moses Pua Seda menaruh kulit babi di Mesjid.
Namun dalam kesaksian Moses dan anak-anak itu secara tegas mengatakan tidak melakukan atau melihat perbuatan Moses. Dari persidangan terungkap bahwa Kapten Samadi pada Jumat 27 September 1979 dini hari (pukul 02.00 Wita) memasuki mesjid dan menaruh kulit babi berukuran 45 cm x 30 cm yang terbungkus plastic dan diletakkan dekat mimbar tempat khatib berkotbah. Perbuatannya dilatarbelakangi oleh ketidaksukaannya pada Pangdam XVI Udayana (waktu itu) yang mengangkat Kapendam XVI Udayana Mayor E Permana diangkat menjadi Dadim Bima. Maka Samadi berusaha untuk membuat kerusuhan antar umat beragama di Bima kemudian ia tampil sebagai ‘pahlawan’ yang menyelesaikan kerusuhan itu sehingga Pangdam menilai bahwa ia berjasa dalam meredam aksi kerusuhan tersebut. Kaptem Samadi akhirnya dipenjara 20 tahun dan dipecat dari dinas militer.

Mgr. Anthon Tijisen,SVD Wafat

Tanggal 12 Januari 1973 Mgr.Antonius Tjisen,SVD diangkat menjadi Administrator Apostolik Keuskupan Denpasar. Pada tahun 1981 ia mengundurkan diri dari jabatan Uskup Denpasar dengan alasan kesehatan tak memungkinkannya menjalankan tugas. Ia lalu digantikan oleh Mgr. Vitales Djebarus,SVD.Pada tanggal 7 Juni 1982 Mgr. Anton Tijsen,SVD meninggal di RKZ Vinsensius Surabaya. Jenasahnya diterbangkan ke Denpasar dan selanjutnya pada tanggal 9 Juni 1982 dimakamkan di Palasari.

Pembakaran Gereja Yohanes Pemandi Praya

Peristiwa itu terjadi pada 7 September 1998. Tanpa diketahui sebab atau apa kesalahan Gereja Katolik tiba-tiba saja ratusan orang melakukan aksi kekerasan dengan membakar Pastoran dan gudang yang saat itu difungsikan sebagai Gereja. Pastor Paroki waktu itu P. Thomas Tepho,SVD nyaris menjadi korban. Ia diselamatkan oleh seorang umat dengan cara melompat lewat tembok belakang dan digendong oleh umat lalu lari melalui persawahan. Nyaris menjadi korban juga katekis Mikael Nomite.
Sejak tahun 1998 sampai sekarang, Gereja Praya tak diijinkan lagi untuk dibangun. Umat terpaksa harus melakukan ibadah di Kodim, juga di Aula Depertemen Agama Kabupaten Lombok Tengah. Namun sejak beberapa tahun lalu umat tak bisa lagi menjalankan ibadah di kedua tempat tersebut. Sampai sekarang tak ada kegiatan perayaan ekaristi Minggu di Praya. Umat harus ke Gereja di Mataram.

Uskup Vitalis Djebarus,SVD Wafat

Tanggal 13 Januari 1981 Mgr. Vitalis Djebarus,SVD dilantik sebagai Uskup Keuskupan Denpasar menggantikan Mgr. Antonius Tijsen,SVD yang mundur karena alasan kesehatan. Sejak tahun 1996 kesehatan Mgr. Vitalis Djebarus,SVD mulai menurun.Tanggal 22 September 1998 Uskup Denpasar Mgr.Vitalis Djebarus,SVD wafat di RS Katolik Sint Carolus Jakarta. Jenasahnya diterbangkan ke Denpasar tanggal 23 September 1998 dan disemayamkan di Gereja Katolik St. Joseph Kepundung. Tanggal 24 September 1998 umat menghantarnya ke pemakaman rohaniawan di Palasari tempat dimana ia beristyirahat dengan damai.

Kerusuhan Mataram 

Pada tahun 2000 terjadi peristiwa yang sangat memilukan. Pada tanggal 17 Januari 2000 terjadi kerusuhan yang berbau SARA di Mataram dimana umat kristiani dijadikan sasaran amuk masa. Sekelompok masyarakat Muslim mengadakan tablik akbar di lapangan Mataram untuk solidaritas Ambon. Pada kesempatan itu seorang penceramah memprovokasi masa dengan ceramahnya. Masyarakat yang terprovokasi itu setelah membubarkan diri mulai bergerak ke segenap penjuru kota dan melakukan kerusuhan. Bermula dari pelemparan gereja GPIB yang ada di samping kantor walikota dan pembakaran sebuah mobil yang di parkir di pinggir jalan depan gereja itu, masa bergerak menuju ke arah timur melalui jalan Pejanggik dan membakar baik gereja, pastoran dan aula Paroki Mataram. Semua bangunan dan segala perlengkapannya hangus terbakar. Umatpun mengungsi ke mana-mana untuk menyelamatkan diri. Setelah 3 hari kerusuhan yang dikenal dengan peristiwa 171 itu berhasil dikendalikan oleh aparat keamanan.
Kompleks gereja Mataram mulai dibangun kembali tgl 1 September 2002 dalam ibadat sabda yang ditandai dengan acara pemukulan gong yang dihadiri oleh pastor paroki P. Rosarius Geli, SVD, Panitia Pembangunan, para Pengurus Dewan Pastoral, para Ketua Lingkungan separoki dan tokoh-tokoh umat bertempat di aula paroki yang rusak yang berada di belakang gereja. Pembangunan gereja dimulai dengan upacara peletakan batu pertama pada pesta pelindung Paroki Maria dikandung tanpa noda yang dilaksanakan pada hari Minggu tanggal 12 Desember 2004 setelah misa kudus meriah. Acara peletakan batu pertama dihadiri oleh umat dan undangan dari pemerintahan kota Mataram, walikota, kakandepag kota, dan para pimpinan lembaga keagamaan.
Dalam kata sambutannya walikota mataram mengungkapkan bahwa dia sendiri tak mendukung kegiatan tablig akbar dalam peristiwa 171 yang berbuntut perusakan beberapa tempat ibadat. Dan kehadirannya dalam upacara ini adalah wujud penghormatannya kepada semua agama. Memang gereja katolik mataram mencatat sejarah baru akan hadirnya seorang nomor satu kota mataram di kompleks gereja mataram.

Mgr. Dr. Benyamin Bria,Pr Wafat
Tanggal 18 April 2000 Paus Johanes Paulus II mengangkat Romo Benyamin Y Bria,Pr, imam praja dari Keuskupan Atambua menjadi Uskup Keuskupan Denpasar. Umat menyambutnya dengan sukacita meskipun sosok Mgr. Benyamin Belum dikenal. Selama tujuh tahun menggembalakan umat di keuskupan Denpasar, secara fisik kesehatan Mgr. Benyamin baik-baik saja. Ternyata Sejak tahun 2006 Mgr. Benyamin mengalami sakit dan karena itu iapun menjalani perawatan di RSK Sint Carolas lalu dirujuk ke RS Sint Elisabeth Singapura.Pada 18 September 2008 Mgr. Benyamin meninggal di Singapura dan jenasahnya diterbangkan ke Denpasar pada 19 September 2008. Ia disemayamkan di di Gereja Kathedral Denpasar dan ribuan umat serta para uskup datang melayat. Taggal 22 September 2008 umat menghantar Mgr. Benyamin ke Palasari dan di Taman Makam para rohaniawan Palasari yang mulia Mgr. Benyamin Bria beristirahat dalam damai.

Masalah Paroki Singaraja

Masalah paroki St. Paulus Singaraja berawal pada tahun 1996 ketika P. Yohanes Tanumiarja,SVD, pastor paroki St. Paulus Singaraja menolak untuk dipindahkan ke Paroki St. Petrus Monang Maning. Ia juga memperlihatkan sikap tidak taat pada SK maupun surat peringatan Uskup Denpasar waktu itu Mgr. Vitalis Djebarus,SVD. Dampak dari ketidaktaatan P. Yohanes Tanumiarja adalah umat terpecah menjadi dua kelompok. Yang tetap setia pada Uskup memilih menjalankan ibadat di luar Gereja jalan Kartini. Sedangkan umat yang taat pada P. Yan Tanumiarja tetap beribadat di Jalan Kartini.
Dalam perkembangannya, Uskup Denpasar mencabut yurisdiksinya dan bahkan dipecat dari keanggotaan di Serikat Sabda Allah.Meski demikian P. Yan Tanumiarja tetap bertahan di Paroki Singaraja, tidak mau pindah, dan tidak menunjukkan iktikad baik untuk menyelesaikan masalah. Uskup Denpasar Mgr. Benyamin Bria,Pr sudah berulangkali melakukan pendekatan dengannya bahkan memintanya untuk menjadi imam praja di salah satu keuskupan di Indonesia namun hingga Uskup Benyamin wafat tak ada jawaban dari Yan Tanumiarja.
Setelah ditahbiskan sebagai Uskup Denpasar Mgr. Dr. Silvester San,Pr berulangkali melakukan pendekatan, bahkan meminta P. Yan Tanumiarja agar bersedia menjadi imam praja Keuskupan Denpasar. Namun P. Yan Tanumiarja tetap menunjukkan sikap keras kepalanya. Pada Selasa 24 Agustus 2010 ratusan umat katolik dari Denpasar mengangkut secara paksa P. Yan Tanumiarja dari Pastoran Paroki St. Paulus Singaraja untuk dikembalikan ke keluarga di Desa Tuka. Demikian juga dengan para pendukungnya terutama koster dan keluarganya yang selama ini tinggal di lingkungan Gereja St. Paulus.
Cara penyelesaian terakhir ini memang harus dilakukan sebab jika tidak, akan makin banyak umat yang statusnya secara sacramental tidak jelas. Sebab hhkum gereja (kitab hukum kanonik) tidak membolehkan seorang imam yang yurisdiksinya telah dicabut Uskup menjalankan tugas-tugas pastoral.

Mgr. Dr. Silvester San,Pr

 


Mgr. Dr. Silvester San, Pr, lahir di Mauponggo Flores 14 Agustus 1961 dari pasangan Roben Robo dan Katharina Nere.Menyelesaikan pendidikan di SDK Maukeli Ngada tahun 1973, lalu melanjutkan ke SMP dan SMA Seminari Mataloko tahun 1974-1989. Tahun rohani dijalankan di Seminari Ritapiret tahun 1980 lalu studi filsafat dan teologi di STFK Ledalero tahun 1980 – 1988.
Tanggal 29 Juli 1988 ditahbiskan menjadi imam di Maumere oleh Mgr. Donatus Djagom,SVD. Karya pastoral yang dijalankan setelah ditahbiskan adalah Pastor Pembantu di Paroki Mataloko dan mengajar di Seminari Mataloko dari tahun 1988-1990. Lalu melanjutkan studi bidang Teologi Biblis di Universitas Urbaniarum, Roma hingga memperoleh gelar licenciat tahun 1992 dengan tesis ‘The Mercy of God in the Parables of Luke 15”.
Setelah itu kembali ke Indonesia dan berkarya sebagai Pembina para frater di Seminari Tinggi Ritapiret serta mengajar di STFK Ledalero. Tahun 1995-1997 kembali melanjutkan studi di Universitas Urbaniarum untuk bidang studi Teologi Biblis dan meraih gelar doctor dengan disertasi “The experience of the Risen Lord in Luke 24:1-35). 

Setelah kembali ke Indonesia ditugaskan sebagai pengajar di STFK Ledalero dan Pembina para frater di Seminari Tinggi Ritapiret. Tahun 2004-2007 dipercayakan sebagai Praeses Seminari Ritapiret dan dipercayakan lagi sebagai Praeses Seminari Ritapiret tahun 2007 sampai diangkat menjadi Uskup Denpasar. Tanggal 22 November 2008 Paus Benediktus XVI mengangkatnya menjadi uskup Denpasar.
Tanggal 19 Februari 2009 ditahbiskan menjadi Uskup Denpasar dan memilih motto; “ Deus Incrementum Dedit”, Allah Memberi Pertumbuhan.
lesaikan pendidikan di SDK St. Fransiskus Xaverius Wetik tahun 1985 lalu melanjutkan pendidikan di SMPK Sadar Ranggu tahun 1988. Menyelesaikan SMA di Seminari Yohanes Paulus II Labuanbajo tahun 1991. Tahun rohani di Lela Maumere tahun 1992-1992 lalu studi filsafat di STFK Ledalero tahun 1992-1996. Menjalani Tahun Orientasio Pastoral di Seminari Menengah Roh Kudus Tuka tahun 1996-1998 dan studi teologi di STFK Ledalero tahun 1998-2000. Tahbisan diakon di Seminari Ritapiret oleh Uskup G.Kherubim Pareira,SVD lalu menjalani praktek diakonat di Seminari Roh Kudus Tuka pada tahun 2000. Menerima tahbisan imam di Gereja Kristus Raja Ruteng oleh Uskup Eduardus Sangsung,SVD dengan motto tahbisan; Allah adalah Kasih”.Pernah berkarya sebagai pastor pembantu paroki Kuta (2000-2002), Pastor pembantu Paroki Tabanan (2002-2004), Pastor pembantu di paroki Mataram (2004-2006) dan Direktur Spiritual Seminari Tuka tahun 2008-2010.


BIODATA USKUP DENPASAR

1. Nama Lengkap : Mgr. DR. Silvester San, Pr.
2. Tempat/Tanggal Lahir : Mauponggo, 14 Agustus 1961
3. Anak ketiga dari sembilan bersaudara
§ Ayah : Roben Robo
§ Ibu : Katharina Nere
4. Pendidikan:
§ SDK Maukeli, Ngada
§ Seminari Toda Belu- Mataloko (SMP-SMA) 1974-1980
§ Tahun Rohani di Seminari Tinggi St. Petrus Ritapiret, Kabupaten Sikka tahun 1980
§ Studi Filsafat dan Teologi di STFK Ledalero, Kabupaten Sikka
5. Tahbisan imam: 29 Juli 1988 oleh Mgr. Donatus Djagom, SVD, di Maumere.
6. Pastor Pembantu Paroki Roh Kudus sambil mengajar di Seminari Mataloko selama dua tahun.
7. Melanjutkan studi ke Roma pada Universitas Urbanianum, Spesialisasi Teologi Biblis.
8. Gelar Licenciat diperoleh tahun 1992 dengan tesis The Mercy of God in the Parables of Luke 15.
9. Pembina Para Frater di Seminari Ritapiret dan pengajar di STFK Ledalero.
10. 1995-1997 melanjutkan studi program S3 pada Universitas Urbanianum dalam Teologi Biblis, dengan disertasi doktor: “The Experience of the Risen Lord in Luke 24:1-35”.
11. Pengajar di STFK Ledalero dan pembina Frater di Seminari Tinggi Ritapiret.
12. Praeses Seminari Tinggi St. Petrus Ritapiret periode 2004-2007.
13. Diangkat lagi Praeses Seminari Tinggi St. Petrus Ritapiret periode kedua pada tahun 2007 - sekarang.
14. Tanggal 22 November 2008 diangkat sebagai Uskup Denpasar.

Masa Kecil
 
Di tahun ke-6 usia perkawinan pasutri Roben Robo dan Katharina No’o Nere, kembali dikarunia seorang anak. Betapa bahagianya mereka, terutama kakeknya. Chum Kin San, kakeknya sungguh menantikan peristiwa ini. Ia lalu meminta agar sang cucu diberi nama yang sama dengan dirinya. Maka dinamai bayi itu, Tung Kiem San.
Dalam usia yang masih balita, San sudah bersekolah, “sekolah ikut-ikut”, istilah ibunya. Ia sering diajak oleh seorang guru, bernama Guru Lena. Menurut cerita ibunya, pernah suatu ketika, saat San masih berusia tiga tahun, San terkena penyakit di sekitar daun telinganya. Segala macam obat, seperti penysilin, telah dicoba tetapi penyakit tersebut tak kunjung sembuh. Karena penyakitnya ini San kerap dipanggil “Soso Moso”.
Soso moso adalah jenis binatang kecil, yang suka mengeluarkan bunyi, yang hidupnya pada daun-daun.“Kami dulu panggil dia soso moso, luka-luka di telinga. Ada satu binatang yang suka bunyi-bunyi itu, namanya soso moso. Bapa guru Lena, pak Bupati punya bapa, yang panggil dia soso moso...”. Ujar ibunya, sambil tertawa mengenang. Guru Lena kemudian memberikan ramuan obat dari daun-daunan. Sepekan kemudian, San kecilpun sembuh. Meski penyakitnya telah sembuh, San masih dipanggil soso moso oleh orang di kampungnya. Salah seorang putra dari Guru Lena, yang bernama Johanes S Aoh kini menjabat sebagai Bupati Nagekeo NTT. Pada tahun 1965, saat usianya masih 4 tahun, San kecil diboyong oleh kedua orang tuanya dan menetap di Maukeli.

Menetap di Maukeli

Tung Kiem San pun dibaptis dengan nama Silvester San. San dilahirkan di Mauponggo, 14 Agustus 1961. Anak ketiga dari sembilan bersaudara, pasangan Roben Robo dan Katharina No’o Nere. Keluarga besarnya adalah warga keturunan Tionghoa, yang sederhana. Kakak pertamanya Emiliana Lang, seorang pengusaha percetakan sukses di Kupang NTT, lalu Bernadetha Milang Robo (Bajawa), Mgr. DR Silvester San, Pr (Uskup Denpasar), Florentinus Sun Robo (Jakarta), Ignasius Robo (Maukeli), Crensentiana Robo (Maumere), Thomas Siku Robo (Bali), Agustinus Winokan (Surabaya) dan Inocentius Amos Pa (Surabaya).
Baba Robe, demikian sapaan ayahnya adalah seorang pedagang ulet, yang hingga saat ini masih mengurus usaha dagang dan jasa pengangkutan “Sutra Alam” di Flores NTT. Kedua orang tuanya kini menghabiskan masa tuanya di Jalan Gatot Subroto Km 3 kota Ende. Sementara rumah keluarga besarnya di Maukeli, kini ditempati oleh adiknya. Pasutri Roben Robo dan Katharina No’o Nere, menikah di bawah perjanjian oleh Pastor Both tahun 1955, dimana seluruh anak-anak mengikuti agama ibu yakni katolik, sementara ayahnya kala itu masih beragama protestan, hingga San hendak ditahbiskan menjadi imam.
Menurut penuturan ibunya, nama San adalah nama pemberian ayah dari Ibu, “ Dia itu ganti saya punya bapa. Waktu lahir dia, neneknya sudah meninggal. Saya punya bapa namanya Chum Ki San, nenek laki. Sementara San punya nama Cina, Tung Kim San…” tutur ibunya. San menghabiskan sebagian masa kecil di dua tempat. Saat berusia satu hingga empat tahun, di Mauponggo dan setelahnya hingga tamat Sekolah Dasar, menetap di Maukeli sebuah kampung di pesisir selatan Flores, yang berada dalam wilayah Kecamatan Maupunggo, Kabupaten Nagekeo propinsi NTT.
Kampung Maukeli persis berada di pinggir pantai, diapiti oleh bukit-bukit yang hijau dengan pasir pantai yang elok. Barangkali karena model kampungnya seperti ini, maka dinamakan Maukeli. “Mau” dalam bahasa daerahnya berarti pantai dan “Keli” artinya bukit. Maukeli identik dengan petak-petak hijau persawahan yang suburdi kaki bukit, yang tak berapa jauh jaraknya dengan pantai. Masyarakat Maukeli umumnya hidup dari aktivitas melaut, bertani juga berdagang.
San kecil menjadi bagian utuh dari masyarakat Maukeli. Ia sering ke sawah bersama warga, membantu ayahnya berdagang dan bergaul dengan masyarakat pesisir selatan yang umumnya Muslim. Ketika San masih bersekolah hingga ditahbiskan menjadi imam projo Keuskupan Agung Ende, Kecamatan Mauponggo masih berada di wilayah Kabupaten Ngada.
Dalam keluarga besarnya San menjadi anak laki-laki pertama dari garis keturunan ayahnya. San kecil pun bertumbuh dalam kemanjaan terutama oleh kakeknya. Sewaktu masih kecil hingga tamat SD ia dikenal sebagai anak yang nakal. “Paling nakal sudah. Manja, anak laki-laki baru satu, semua nenek manja dia. Bapa tua tu, anak laki-laki tidak ada. Kita omong dia tidak ikut, tapi kalau sekolah, otaknya cepat. Kami dulu panggil dia, soso moso, luka-luka di telinga…”, kembali ibunya bercerita.
Mgr. San sendiri juga menuturkan “Saya termasuk orang yang dekat dengan mama. Karena sejak kecil saya terus bersama-sama dengan dia. Saya termasuk nakal, menurut orang-orang di kampung, sampai saya tamat SD. Saya termasuk dalam kelompok nakal. Tetapi, ketika mulai masuk Seminari, nakal juga tidak ya...pas pas..lah... Malah ada yang mengatakan, ketika saya sekolah di Seminari saya terlalu tenang. Ini bisa terbalik. Di kampung bilang nakal sekali tetapi pendidik bilang saya sangat tenang....”ujar Mgr. San sambil tertawa.
Tentang kenakalan masa kecil juga dikenang adik kandungnya Ignas Robo yang kini menetap di Maukeli. “Romo beda dengan saya empat tahun. Sewaktu dia kelas VI saya kelas II SD. Di sekolah dengan teman sering baku pukul. Memang dengan kita kita kaka ade sering bekelai. Setelah besar baku sayang.…” ujar Ignas Robo dalam logat Nagekeo.
Meski tergolong anak yang manja di rumahnya, namun San kecil tumbuh seperti layaknya anak-anak kampung yang tak memilih makanan. “Dia makan sembarang. Tidak pilih makan. Kalau dia pilih makan, dia tidak jadi pastor. Di Seminari dia makan sembarang, jagung, nasi campur sayur. Dia makan tidak pilih. Mulai dari Seminari sampai sekarang apa yang kami makan, dia makan…”, ujar Baba Robe, sapaan lain dari Roben Robo.

Dipercaya Mengantar Uang

Silvester San kecil meniti sekolah dasarnya di SDK Maukeli. Jalan menuju SDK Maukeli penuh tanjakan, berbatu-batu, tak beraspal hingga saat ini. Kiri kanan diapiti rumah-rumah penduduk yang sederhana. Bangunan SDK Maukeli berada di lereng bukit. Dari dataran tinggi SDK Maukeli, tampak pantai Maukeli yang indah dengan hamparan sawah hijau. Di sekolah inilah San kecil tumbuh, belajar dan bermain bersama sahabat-sahabatnya.
Ketika San bersekolah ia mempunyai seorang kepala sekolah yang keras yang sering disapa bapa guru Sipri dan wali kelas bernama bapak Elyas Uwa. San belajar di sekolah ini selama enam tahun hingga menamatkan SD tahun 1974. Meskipun terkenal sebagai anak yang nakal, namun San sejak kecil sering berhubungan dengan romo di parokinya juga dipercayakan oleh gurunya menjadi kurir mengambil dan mengantar uang, “Guru-guru dulu menerima gaji itu dari Yasukda (Yayasan Persekolahan Umat Katolik Ngada) dan saya seringkali diminta ke paroki ketemu pastor paroki untuk ambil uang atau untuk minta uang gaji mereka. Saya dipercayakan oleh mereka...” Ujar Uskup San.
Semasa bersekolah di SDK Maukeli, nilai rapornya selalu bagus. San menjadi salah satu dari beberapa anak yang tergolong pintar. Karena kecerdasannya, wali kelas almarhum Elyas Uwa mendaftarkan begitu saja anak-anak pintar itu ke SMP Seminari Mataloko. “Kami beberapa orang mungkin dilihat oleh guru agak pintar di kelas, terus bilang...kamu yang pintar-pintar cocok masuk Seminari. Guru ni...dia mendaftarkan saja tanpa sepengetahuan kami, ke Pastor paroki lalu kirim lamaran ke Mataloko. Tidak lama ada panggilan untuk testing...”
Ketika mengetahui bahwa dirinya akan mengikuti testing di Seminari Mataloko kedua orangtuanya dibuat kaget terutama ayah dan sanak keluarganya. “Teman-teman bilang, kamu punya anak laki pertama, mau bantu kamu bagaimana? Saya bilang saya punya anak laki banyak. Dia satu itu punya pilihan sendiri. Kita mau apa, karena dia punya pilihan sendiri. Kalau jadi pastor kan dia bisa berdoa untuk kita besok-besok. Saya omong cukup begitu saja..” Ibunya menuturkan.
Pilihan San masuk SeminaProsesnya berjalan begitu saja, didaftarkan oleh guru, ikut testing dan lulus. Dalam proses di SMP dan SMA Seminari Mataloko inilah, pelan-pelan ia menemukan jalan panggilannya menuju imamat.

Naik Kuda ke Seminari

Panggilan untuk menjadi imam seringkali muncul setelah mengalami realitas kehidupan di Seminari. Awal masuk Seminari malah tanpa motivasi,tetapi setelah mengalami kehidupan sehari-hari di Seminari benih panggilan itu pun tumbuh. Dan itu yang dialami oleh Mgr. Silvester San,Pr.
Kepada Faris Wangge salah seorang Tim Penulis Buku Kenangan Tahbisan Uskup Denpasar, Mgr. Silvester mengisahkan, ketika masuk Seminari St.Johanes Berchmans Todabelu Mataloko Ngada pada tahun 1974 setelah menyelesaikan pendidikan sekolah dasar di Maukeli tak pernah berpikiran untuk menjadi imam.Yang diingatnya adalah ia diantar ke Seminari Mataloko oleh ibunya, dengan ‘naik kuda’. Hal ini karena waktu itu belum ada mobil atau sepeda motor, juga karena belum ada jalan raya jurusan Maukeli - Mataloko.
Jadi, kalau ditanya sejak kapan benih-benih panggilan menjadi imam mulai muncul, maka jawabannya adalah pada saat sudah mengalami kehidupan dan proses pembinaan di Seminari. Jadi sama sekali bukan karena ketertarikan pada figur Pastor paroki di Paroki Maukeli meskipun diakui Mgr. Silvester sering bertemu dengan Pastor paroki . Hal ini karena guru-guru mempercayakan dirinya untuk mengambil uang gaji para guru di pastor paroki. Jadi setelah mengikuti proses pendidikan di Seminari Mataloko baru menemukan jawaban bahwa Seminari adalah jalan untuk menjadi imam.
Selama mengikuti proses pembinaan di Seminari Mataloko ada beberapa kejadian yang nyaris menghentikan langkah menuju imamat. Pengalaman pertama terjadi saat duduk di Kelas III SMP, nyaris meninggalkan Seminari karena dinilai indisipliner. Waktu itu ia bersama dua teman mendapat ijin ke Bajawa namun pulang ke Mataloko terlambat. Pater Rektor waktu itu P.Yan Menjang, SVD meminta mereka untuk menarik diri. Mgr.Silvester mengisahkan, waktu itu dirinya mengatakan tidak mau mengundurkan diri tetapi jika dikeluarkan dirinya menerima keputusan itu. Sikapnya itu karena alasan, sudah kelas III dan sedang siap untuk ujian akhir.
Mungkin karena Pater Rektor sudah diskusikan masalah indisipliner dengan Prefek akhirnya Prefek memanggil dirinya dan menyuruh memilih dua kemungkinan yakni menarik diri atau tetap tinggal di seminari tetapi menjalani hukuman. Yang dipilih adalah tetap di seminari dan kerja setiap hari.Hukuman itu dijalani selama 2,5 bulan karena kelas III menyiapkan diri untuk ujian akhir, di samping itu karena rektor melihat kesungguhan mereka dalam menjalankan hukuman itu.
Peristiwa kedua yang nyaris menghentikan langkah panggilan adalah ketika di Kelas III SMA Seminari. Ada masalah antara para siswa dan prefek serta staf pembina. Waktu itu San sebagai ketua kelas. Ia mengaku sangat menyesal karena beberapa teman yang dianggap provokator dikeluarkan. Semua tantangan itu bisa dilewati dan pencerahan panggilan justru terjadi selama enam tahun mengikuti pendidikan dan pembinaan di Seminari Mataloko.
Ketika diterima sebagai calon imam diosesan Keuskupan Agung Ende, Mgr. San mengakui telah ada gambaran untuk menjadi imam. Setelah diterima sebagai calon imam diosesan Keuskupan Agung Ende dan meneruskan pendidikan di Seminari Tinggi Ritapiret, Mgr. Silvester San, mengaku tidak terlalu mengalami goncangan karena bisa beradaptasi dengan suasana pendidikan dan mengakrabi situasi baik diri sama sekali tak terdorong ingin menjadi Imam. tempat kuliah maupun di Seminari Ritapiret.

Cara Orang Tua Mendidik Anak
Pengalaman Mgr. Silvester San, Pr dalam keluarga, terutama masa kecil sampai tamat sekolah dasar masih terekam sampai sekarang. Menurut Bapa uskup, orang tua punya cara sendiri mendidik anak-anaknya. Tujuannya tentu saja positif, supaya anak-anak taat.
Cara mendidik antara bapa dan ibu juga berbeda. Bapa, kata Uskup, termasuk orang yang keras. Pendidikan yang diterapkan terhadap anak-anaknya memang bukan seperti militer tetapi cukup keras. “Dia tidak pernah mau bahwa kita tidak taat. Kalau bapa omong a yah a, b yah b. Kalau ia suruh a kita buat b itu pasti kena rotan” ungkap Bapa Uskup bernostalgia.
Seingat Bapa Uskup tidak ada satu pun anak dalam keluarganya yang tidak kena rotan dari bapa. Cara pendidikan bapa beda jauh dengan cara pendidikan mama Katharina. Menurut Bapa Uskup, mama Katharina termasuk halus dan hampir tidak pernah memukul. Paling-paling jewer telinga. Karena itu kalau bapa tidak ada anak-anak senang. “Kalau sama mama, dia suruh kita kerja, kita tidak ikut atau melawan paling-paling dia kejar kita. Kalau dengan bapak berani tidak ikut ya habis” ujar Bapa Uskup sambil tertawa.
Satu hal yang diingat, cara pendidikan yang keras diterapkan bapa adalah ketika anak-anaknya masih di sekolah dasar. Setelah anak-anaknya masuk SMP bapa tak pernah lagi mendidik dengan rotan kecuali marah-marah kalau anak-anaknya membuat kesalahan. “Bapa kalau marah meledak-ledak. Jadi pendidikan di rumah diimbangi dengan mama yang lembut”, ungkap Uskup.
Pendidikan yang keras bukan hanya di rumah tetapi juga di sekolah. Bapa Uskup menuturkan di SDK Maukeli para guru juga mendidik dengan keras. Kepala sekolahnya keras sekali, mendidik dengan rotan. Di hadapan guru-guru anak-anak tidak berani untuk bertanya. Kalau protes di belakang-belakang sedangkan di depan guru tidak berani.
Bapa Uskup menuturkan, orang tua mendukung atau tidak mendukung tidak jelas.Yang pasti mereka hanya mengatakan “Kalau kau mau masuk Seminari silahkan”. Orang tua memberi kebebasan kepada anak-anaknya untuk memilih jalan hidup masing-masing. Dukungan orang tua terhadap anaknya masuk Seminari adalah dengan menyediakan biaya dan memberikan perhatian, mengantar pulang ke Mataloko naik kuda setelah masa liburan dan masih banyak lagi bentuk perhatian orang tua. Orang tua selalu memperhatikan perkembangan anaknya waktu di Seminari.
Diungkapkan Bapa Uskup, ada satu nama yang sangat berjasa dalam panggilan imamatnya. Nama itu adalah Elyas Uwa almarhum yang sangat bangga karena bekas muridnya Silvester San dan Philipus Tule (imam SVD, islamolog, mantan rektor Seminari Tinggi St.Paulus Ledalero) menjadi imam. Elyas pula yang mendaftarkan Silvester ke pastor paroki dan selanjutnya mengikuti testing masuk Seminari dan lulus.
Para penjasa lainnya adalah para guru di SDK Maukeli, para guru di Seminari Mataloko dan di Seminari Tinggi juga teman-teman satu angkatan karena saling mendukung dan saling menguatkan. Ketika mau ditahbiskan menjadi imam, tutur Bapa uskup, ia tak pernah menanyakan pada orang tua apakah mereka senang atau tidak. Tapi dari reaksi orang tua, tampaknya mereka senang anaknya ditahbiskan menjadi imam. Orang tua tidak melarang karena sudah tahu bahwa sejak awal Silvester mau menjadi imam.”Waktu saya terpilih sebagai Uskup saya tidak pernah tanya orang tua, mereka senang atau tidak. Tapi reaksinya, mereka memang senang “ Tutur Bapa Uskup.
Rasa senang dan bahagia orang tua itu diungkapkandengan datang ke Ritapiret menyalami Uskup San dan memeluknya. Orang tua tahu apa yang sudah dipilih oleh anak itu sangat mereka hargai. ”Yang paling mereka harapkan bahwa kita konsekwen dengan pilihan. Jika tidak konsekwen dengan pilihan, mereka marah.” Ungkap bapa Uskup.

Mengisi Hari Libur
Masa liburan bagi para Seminaris adalah saat yang ditunggu-tunggu. Sebab liburan berarti pulang ke rumah dan hidup bersama dengan keluarga selama masa liburan itu. Soal liburan para Seminaris juga dialami oleh Uskup Silvester saat masih belajar di Seminari Mataloko maupun setelah menjadi frater di Seminari Tinggi Ritapiret Maumere.
Banyak hal yang dikenang pada saat-saat liburan dulu. Bapa Uskup menuturkan, masa kecil tinggal di kampung dan ikut membajak sawah bersama dengan orang-orang kampung. Waktu liburan dari Seminari Mataloko, pulang ke kampung Maukeli dengan jalan kaki bersama teman-teman yang lain. Selama liburan membantu membajak sawah, menanam padi bersama masyarakat petani.
Tetapi ketika sudah menjadi frater para petani melarang ikut membajak sawah atau menanam padi saat liburan di kampung Maukeli. Kata petani “Kamu punya tempat bukan disini lagi”.Tetapi Frater Silvester menjawab bahwa ia datang libur dan mau membantu mereka mengerjakan sawah. Namun mereka tetap menolak dan melarang frater Silvester masuk sawah.”Jadi saat frater kalau libur di Maukeli saya lebih banyak di rumah atau ke Paroki membantu Pastor Paroki.” Ujar Bapa Uskup.
Tentang masa kecilnya bersama keluarga Bapa Uskup menuturkan, pada masa kecil tinggal di dua tempat yakni di Mauponggo dari tahun 1961 (tahun lahir Bapa Uskup) sampai tahun 1965 lalu pindah ke Maukeli karena orang tua pindah ke tempat itu. Bapa Uskup mengaku termasuk anak yang sangat dekat dengan ibu karena sejak kecil terus bersama-sama dengan ibunya.
Hal lain yang dikerjakan pada masa liburan adalah mencari kayu bakar, pokoknya cari-cari kesempatan untuk bisa membantu di rumah, memikul kayu api beramai-ramai, mendaki gunung, memberikan makanan pada hewan peliharaan, pokoknya saat liburan mencari kesibukan yang memungkinkan untuk membantu orang tua.Sedangkan pada hari Minggu membantu Pastor Paroki menjadi misdinar.”Kadang-kadang saya tanya pastor, apakah saya bisa khotbah?” Tutur Bapa uskup.

Memperkokoh Panggilan
Andaikata langkah menuju imamat berhenti di tengah perjalanan, apa yang akan dikerjakan. Ketika pertanyaan ini dilontarkan kepada Mgr.Silvester San,Pr dengan enteng ia menjawab, berdagang.
Menurut bapa Uskup, seandainya dirinya dikeluarkan dari Seminari sudah pasti akan mengikuti jejak orang tua yakni berdagang. Sebab berdagang sudah merupakan bakat yang tertanam apa lagi ada kecenderungan anak-anak biasanya akan mengikuti apa yang dibuat oleh orang tuanya. Yesus sendiri mengatakan; “Aku melakukan apa yang Bapa buat”. Anak melakukan apa yang bapaknya buat. Kalau bapanya pendidik pasti ada salah satu anaknya mengikuti jejak sang ayah karena ia melihat apa yang dibuat oleh bapaknya.
Bapa Uskup mengatakan ketertarikan untuk berdagang selalu ada karena ayahnya bergerak di dunia bisnis. Sejak kecil dirinya sudah melihat bagaimana tantangan-tantangan yang dihadapi. Karena itu seandainya tidak jadi imam maka sudah pasti menekuni dunia bisnis.
Tetapi dalam proses pembinaan di Seminari mulai muncul motivasi bahwa seorang calon imam dibimbing untuk menjadi imam yang melayani Tuhan dan sesama. Ini sesuatu yang sangat ideal Imam yang melayani Tuhan dan sesama itu tidak terikat pada kehidupan keluarga dan ia harus melepaskan keluarganya demi dan untuk melayani umat. “Pelayanan terhadap umat itu saya kira hal yang paling kuat memotivasi saya untuk terus di jalur panggilan ini” ungkap Bapa Uskup.
Diungkapkan Bapa uskup, dalam perjalanan panggilan ada banyak hal yang menyenangkan tetapi juga banyak yang menyedihkan. Menyenangkan karena ada kebersamaan dengan teman-teman.Bapa Uskup memberikan gambaran, ketika menjalani proses pendidikan di Seminari Mataloko selama enam tahun, soal makanansesungguhnya sangat tidak enak. ”Tapi saya heran bahwa banyak yang bertahan” ujar Uskup San sambil tertawa.
Meskipun makanan sehari-hari tidak enak, tetapi bisa bertahan dalam panggilan hal itu berkat kebersamaan dengan teman-teman sepanggilan, kebersamaan dalam olahraga, jalan-jalan bersama, pesiar sama-sama.Hal-hal yang sungguh menyenangkan adalah persahabatan, persaudaraan dengan teman-teman sepanggilan.
Kebersamaan itu semakin lebih menyenangkan ketika berada di Seminari Tinggi, karena di Seminari Tinggi bertemu dengan teman-teman lain yang berasal dari Seminari Kisol, Hokeng, Lalian dan dari Kalimantan. ”Angkatan kami besar jumlahnya lalu kebersamaan juga luar biasa semakin menyenangkan.” Ungkap Bapa Uskup.
Soal hidup yang sangat ketat baik di Seminari Menengah lebih-lebih di Seminari Tinggi di satu sisi memang mengekang kebebasan tetapi di sisi lain juga melatih diri untuk hidup penuh disiplin. Peraturan yang ketat ada nilai positifnya.

Imamat tanpa Goncangan
Uskup Silvester San, Pr ditahbiskan menjadi imam praja tanggal 29 Juli 1988 di Maumere oleh Mgr.Donatus Djagom, SVD. Setelah ditahbiskan maka mulailah ziarah sebagai seorang yang telah menjawab panggilan, menjadi imam.
Sejak ditahbiskan sebagai imam sampai sekarang, diakui Mgr. Silvester, tidak terlalu mengalami goncangan dalam imamatnya. Setelah ditahbiskan, ia bekerja sebagai pastor pembantu di Paroki Roh Kudus Mataloko tahun 1988-1989 dan mengajar di Seminari Mataloko. Di Mataloko ia bersama-sama dengan Romo Cyrilus lena, Pr sebagai pastor Paroki. Romo Cyrilus sangat terbuka, memperhatikan pastor pembantu dan selalu bertukar pikiran, tidak mengambil keputusan sendiri. Selama dua tahun di Paroki Mataloko mereka banyak menyelesaikan masalah-masalah di paroki. ”Kami jadi akrab sampai sekarang. Saya sering telpon dia dan dia juga sering telpon saya.” Ungkap Bapa uskup.
Tahun kedua di Paroki Roh Kudus Mataloko ia diminta untuk mengajar di Seminari Mataloko. Setelah itu pada tahun 1990 berangkat ke Roma melanjutkan studi dan selesai licensiat pada tahun 1992. Tahun 1993 – 1995 menjadi staf pembina di Seminari Tinggi Ritapiret dan mengajar pula di STFK Ledalero. Tahun 1995 kembali ke Roma untuk studi doktoral dan selesai tahun 1997. Setelah itu kembali ke Indonesia tahun 1998 dan kembali menjadi staf pembina di Seminari Tinggi Ritapiret dan pengajar di STFK Ledalero.
Tahun 2004 Rm. DR. Silvester San,Pr diberikan kepercayaan untuk menduduki jabatan sebagai Preses Seminari Ritapiret hingga akhirnya terpilih menjadi Uskup Denpasar. ”Sebenarnya saya masih menjabat sebagai Preses dua tahun lagi, tapi karena sudah terpilih menjadi Uskup maka kami membuat pemilihan baru dan presesnya harus diganti” Ungkapnya. Seperti diketahui serah terima jabatan preses Seminari Ritapiret telah dilaksanakan tanggal 15 Januari 2009 dihadapan Uskup Maumere Mgr. Kherumbin Pareira, SVD dan kini Rm. Hubert Leteng, Pr sebagai penggantinya.
Diakui Bapa uskup, setelah menjadi imam ia tak merasakan tantangan-tantangan yang serius. Tantangan terjadi justru waktu belajar ke Roma karena terkendala dengan bahasa.” Belajar bahasa Italia itu, bulan-bulan pertama penuh dengan tantangan tetapi pada akhirnya bisa bicara bahasa Italia, bisa memahami kuliah dan berjalan dengan baik.” Ungkap Bapa Uskup. Bapa Uskup mengaku belajar bahasa Italia sampai satu tahun baru bisa bicara.
Bapa Uskup menuturkan, setelah mulai akrab dengan bahasa Italia, Bapa Uskup Agung Ende memintanya pulang dulu untuk mengajar. Ketika tahun 1995 sibuk dengan tugas mengajar Bapa Uskup Agung Ende memintanya untuk kembali ke Roma melanjutkan pendidikan. Jadi sesungguhnya, menurut Bapa uskup, goncangan dalam panggilan imamat tidak ada tetapi

Sub Secreto Pontificio
TAK ada firasat sedikitpun, bahwa hari itu akan menjadi hari bersejarah dalam hidupnya.Usai sarapan pagi, Romo San bergegas ke mobilnya. Ia hendak ke kota Maumere, mengurusi Seminari. Seperti biasa, Romo DR. Silvester San, Pr menjalani kesehariannya sebagai preses (rektor) Seminari Tinggi Santo Petrus Ritapiret.
Selasa, 18 November 2008, waktu ada diantara pukul 10.00 dan 11.00 Wita. Mobil berjalan dengan kecepatan biasa. Jarak antara bukit Ritapiret dengan kota Maumere sekitar 10 kilometer. Di dalam perjalanan itu, telpon genggamnya berdering.”Saya Mgr Leopoldo Girelli, Apa kabar?,” begitu suara dari seberang. Sebuah peristiwa yang amat jarang. Biasanya ia tak mengangkat panggilan dari nomor yang belum terdata di ponselnya. Tapi, hari itu dengan santai ia menerima.
Mgr Girelli, mengucapkan salam dan bertanya dengan menggunakan bahasa Italia, “Engkau lagi dimana?”. Tanya Mgr Girelli. “Saya di dalam mobil, saat ini dalam perjalanan menuju Maumere”, jawab Romo San. “Anda sendiri?”, Kembali Mgr. Girelli bertanya, “Iya saya sendiri Monsignur, saya baru saja memarkir mobil di pinggir jalan”, Jawab Romo San. “Kalau engkau sendiri, sekarang saya mau sampaikan sesuatu yang penting”. Penuh rasa ingin tahu, Romo San bertanya, “Sesuatu yang penting itu apa Monsignur?,”. Dari seberang, penuh ketenangan Mgr. Girelli menyampaikan maksudnya, “Anda telah diangkat oleh Paus Benediktus XVI menjadi Uskup Denpasar”.
Mendadak Romo San terkejut.Bathinnya gundah, tak percaya .“Apa betul Monsignur?”. Mgr.Leopoldo menjawab , “Iya,sekarang saya sampaikan kepada Anda. Anda diberi kesempatan untuk memikirkan, merenungkan, mendoakan. Nanti malam sekitar jam sepuluh baru Anda berikan jawaban”, ucap Mgr. Girelli. Romo San terpaku, diam beberapa saat. Ia tak menyangka menerima tugas dan tanggung jawab ini. “Apakah saya bisa menjawab sekarang?”, tanya Romo San pelan. Dengan sadar ia merasa tak mampu dan tak layak menerima jabatan itu. “Tidak, Anda tak boleh jawab sekarang. Silahkan Anda berpikir, merenung dan berdoa. Saya tunggu jawaban Anda, malam nanti”, Mgr. Leopoldo kembali menegaskan maksudnya. “Ingat, Anda harus diam, tidak boleh bicara dengan siapapun. Biar itu betul-betul keputusan pribadimu, tak dipengaruhi oleh siapa-siapa”,ujar Mgr. Girelli mengakhiri pembicaraannya.
Dalam keadaan kalut, Romo Preses Seminari Tinggi Ritapiret itu melanjutkan perjalanan menuju kota Maumere. Sepanjang perjalanan itu, ia tak habis berpikir, telah diangkat menjadi Uskup, jabatan yang tak pernah ada dalam benaknya. Hal yang membuatnya bertambah gundah adalah menjadi Uskup di Keuskupan Denpasar, sebuah keuskupan yang tak dikenalnya. Usai menyelesaikan urusannya di Maumere ia kembali ke Ritapiret. Setelah makan siang bersama para staf pembina, ia menuju kamarnya. Romo San memadahkan doa, merenung dan mencari jawab perihal pengangkatannya menjadi Uskup. Waktu seolah pelan berjalan, malam pun tiba, jam sekitar pukul 22.00 Wita. ”Selamat malam Monsignur, saya sedang bingung”, ujar Romo San. “Apa yang kau bingungkan?”, tanya Mgr. Girelli. “Iya saya bingung untuk memberikan jawaban. Di satu pihak saya merasa tidak layak dan tidak mampu untuk menjadi Uskup Denpasar, tetapi di pihak lain, saya harus berpikir tentang ketaatan kepada Paus dan Tahta Suci, juga bagi kepentingan Gereja Universal. Karena terus terang Monsignur, ketika saya memilih menjadi imam projo, saya mau tinggal di Flores sini” Romo San memberikan alasan. “Ooo...Anda bingung, Anda gelisah, Anda terkejut itu biasa.Tetapi, Anda sebagai Rektor, terbiasa berhadapan dengan para Frater, yang juga bingung dalam menentukan pilihan, mau jadi imam atau berhenti dan pada waktu itu Anda selalu menyampaikan peneguhan, nasihat supaya orang bertahan dalam panggilan”,ujar Mgr. Leopoldo Girelli.
Romo San lalu menjawab, “Iya..memang benar Monsignur, tapi saat ini saya sendiri yang berhadapan dengan hal ini?”. Lalu dari seberang Mgr. Leopoldo berujar, “Baiklahkalau begitu saya berikan anda kesempatan sampai besok, dan kesempatan untuk berbicara dengan seorang teman dekat yang bisa Anda percayai, yang bisa memberikan peneguhan atau jalan keluar atau nasihat tertentu”. Romo San sedikit lega hati, karena memperoleh kesempatan untuk membicarakan kegelisahan hatinya dengan orang lain. Sesaat ia tersadar, “Tetapi, sahabat dekat saya, Romo Hubert Leteng, Pr saat ini di Italia. Saya mau bicara dengan siapa di sini Monsignur?” Mgr. Girelli kemudian berkata, “Baiklah kalau begitu tidak usah, tidak apa-apa.Engkau tidak usah bicara dengan siapapun, tetapi engkau harus pikirkan kembali malam ini, lalu besok engkau beri jawaban”. Dengan nada memohon Romo San berkata, “Apa tidak bisa lebih lama lagi Monsignur?”. Kembali Mgr. Leopoldo berkata, “Tidak bisa.Besok Anda harus memberi jawaban ya atau tidak. Tetapi ingat, Anda memberi jawaban selalu dalam referensi demi kepentingan pelayanan Gereja Universal” Mgr. Leopoldo Girelli menegaskan berulang-ulang “demi kepentingan pelayanan Gereja Universal”.
Malam terus bergerak. Kesunyian bukit Ritapiret semakin menambah gundah hatinya. Dalam kepasrahan ia tiada henti berdoa dan merenung. Malam itu ia terus bergulat dengan dirinya. Nyaris tak mampu pejamkan mata hingga menjelang subuh. Hari pun berganti, Rabu 19 November 2008. Aktivitas harian kembali dilakukannya. Namun suasana batinnya jauh berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Dua puluh empat jam sudah, Romo Silvester San, Pr bergulat dengan dirinya sendiri.Waktu menunjuk pukul 11.00 Wita. Seusai memberi kuliah, Romo San pun mengambil telpon genggamnya. “Monsignor, kalau saya memperhatikan saya punya interes, saya sendiri, diri saya pribadi, saya tidak terima ini, pengangkatan Paus untuk menjadi Uskup Denpasar, karena saya merasa tidak mampu dan tidak layak.Tetapi karena dua hal, pertama demi kepentingan pelayanan Gereja di mana saja, dan ketaatan kepada Tahta Suci, saya dengan berat hati terima pengangkatan ini” Romo San akhirnya memberikan jawaban “Ya”, sebuah jawaban yang ditunggu-tunggu oleh Paus Benediktus XVI dan Tahta Suci melalui Mgr. Leopoldo Girelli.
Dalam kegembiraan, Mgr. Leopoldo berujar, “ Baiklah. Mulai saat ini Anda telah terima dan anda tidak boleh berbicara dengan siapapun. You should keep silence until the publication! Karena ini Sub Secreto Pontificio”. Lalu Mgr. Girelli menginformasikan bahwa dia akan mengumumkan berita pengangkatan itu pada Sabtu 22 November 2008, pukul 19.00 Wita.
Sub Secreto Pontificio terus ada dalam ingatannya. Sebuah titah dari Tahta Suci. Romo Silvester San, Pr terus memendam rahasia tersebut. Tak seorangpun tahu, termasuk sahabat-sahabatnya bahkan orang tuanya.Para penghuni Ritapiret tak tahu menahu bahwa terhitung sejak tanggal 19 hingga 22 November 2008, Romo San yang kerapkali bercanda, bercerita dan menghabiskan hari-hari bersama di bukit Ritapiret itu telah terpilih menjadi Uskup Denpasar. Tahta Suci akhirnya mengumunkan perihal pengangkatan tersebut, tanggal 22 November 2008, pukul 19.00 Wita.
Di bukit Ritapiret pesan tersebut sampai melalui Romo Herman Yoseph, Pr. Setelah itu Romo Herman mengumumkannnya di Kapela Ritapiret. Suasana pun sontak berubah. Para rekan imam di Ritapiret tak kuat menahan haru. Semua datang memberi selamat. Tapi nun jauh di sana, di Pulau Sejuta Pura, Pulau Dewata Bali, orang berdecak tanya ‘Siapa dia?” Hingga Paus Benediktus XVI menjatuhkan pilihan padanya? Tanya itu muncul ketika berita pengangkatan Uskup Denpasar itu diumumkan di Gereja Paroki seluruh Keuskupan Denpasar Minggu 23 November 2008.
Seiring berjalannya waktu, lembar demi lembar catatan perjalanan hidupnya tersingkap. Seperti ungkapannya, bahwa dalam proses perjalanannya di Seminari Menengah dan Seminari Tinggi, ia baru temukan arah panggilannya menuju imamat. Maka, dalam perjalanan imamatnya pun, di tengah perjalanan menuju Maumere, Romo San diangkat menjadi Uskup.

Membangun Dialog dan Perkuat KBG
Mgr. DR. Silvester San, Pr, menyadari Keuskupan Denpasar ini unik. Umat tersebar di dua provinsi, Bali dan Nusa Tenggara barat (NTB). Secara kuantitas umat katolik di keuskupan ini minoritas di antara umat Hindu di Bali dan Islam di NTB. Berdasarkan data statistik di kantor Keuskupan Denpasar, total umat Katolik secara keseluruhan (Bali dan NTB) keadaan akhir tahun 2007 tercatat 34.974 jiwa.”Saya kira ada tantangan-tantangan berat karena kita umat katolik di Keuskupan Denpasar itu minoritas,” kata MgrSan, kepada Team Penulis Buku Kenangan yang khusus datang mewawancarai beliau di Ritapiret Maumere pertengahan Januari 2008.
Lantas bagaimana strategi pastoral yang akan dilakukan. Dalam konteks ini, kata Uskup San, mau tidak mau harus membangun dialog. Dialog kehidupan merupakan dialog yang paling tepat untuk dilakukan, antara lain berupa penghormatan atau penghargaan kepada kebiasaan-kebiasaan agama mayoritas. “Di pihak lain, kita juga harus menunjukan sebagai garam dan terang dunia,” imbuhnya. Untuk menunjukan sebagai garam dan terang dunia caranya antara lain Kelompok-kelompok Basis Gerejawi (KBG) perlu diperkuat supaya di antara anggota KBG itu punya rasa solider satu sama lain, lalu membangun dialog ke luar. “Situasi Gereja di Bali dan NTB itu diaspora (menyebar), pasti lain dengan situasi di Flores. Di Flores katolik mayoritas, jadi tidak pernah takut dengan tantangan luar, tapi justru katolik mayoritas ini buat orang terlena juga, tertidur. Tetapi saya yakin, biarpun di Keuskupan Denpasar itu katoliknya minoritas tetapi kita minoritas itu iman umat justru menjadi kuat, karena harus menunjukan identitas diri, jati diri,” ujar Bapa Uskup San.
Bapa Uskup mengakui Keuskupan Denpasar adalah wilayah pastoral yang baru baginya.”Saya memang belum pernah mengalami kehidupan di Keuskupan Denpasar, tetapi saya rasa begitu yang baik,” beliau menambahkan. Sesungguhnya, pengalaman berhubungan dengan umat Islam bukan hal baru bagi Mgr. San. “Kami ini hidup di pesisir wilayah selatan di Maukeli (tempat asal Mgr. San). Mau tidak mau mesti bergulat dengan umat Islam karena di Maukeli dan Mauponggo, cukup banyak umat Islam. Jadi pandai-pandai kita membawa diri. Umat Hindu di Bali juga saya pikir lebih tenang. Intinya, kita mesti membangun dialog kehidupan yang lebih baik, menghormati antar umat beragama sejauh mungkin.” ungkap Bapa Uskup.
Harapan lain dari Uskup San adalah terbangunnya solidaritas antar umat di KBG. KBG itu, menurut Bapa Uskup, tidak hanya tempat berkumpul untuk berdoa, tetapi harus menjadi kelompok perjuangan. “Kalau kelompok perjuangan, menurut saya tidak untuk menghantam orang lain tetapi bisa berjuang bersama-sama dalam solidaritas itu, saling membantu dalam kelompok-kelompok umat basis itu. Ya, harapan saya tidak terlalu muluk-muluk dan saya juga tidak menjanjikan apa-apa. Selain itu, sebagai umat minoritas, ya kita harus bisa berdialog dengan yang mayoritas.” ***

Belajar Bahasa Bali Mengapa Tidak?
Belajar Bahasa Bali? “Saya dalam memulai karya pastoral, ya mungkin saya kenal dulu Keuskupan Denpasar. Kira-kira di mana saja umat kita tersebar. Pada tahun-tahun awal, ya meski pelan-pelan mulai buat kunjungan ke berbagai paroki berupa kunjungan pastoral.” Bapa Uskup San menjanjikan hal tersebut dalam rangka periode awal tugas penggembalaannya di Keuskupan Denpasar. Dari pernyataan itu tersirat suatu kerinduan besar Sang Gembala baru untuk mau belajar dan mengetahui wilayah perutusannya terlebih dahulu sebelum melaksanakan tindakan pastoral. “Dengan umat yang begitu tersebar, ya mau tidak mau sebagai Gembala ya harus mengunjungi, tidak bisa tidak.”
Kunjungan itu, kata Doktor Kitab Suci ini memiliki arti penting bagi umat dan juga dirinya. “Kunjungan itu penting, bertemu saja dengan umat ya mereka sudah senang. Biarpun kita tidak bicara terlalu banyak tetapi kehadiran sudah memberikan umat suatu kekuatan karena mereka tidak dilupakan. Tahun-tahun awal ya..pergi bertemu dan sebaiknya ya jangan terlalu formal, hehehe...” janjinya sambil tertawa lepas.
Bapa Uskup bertekad untuk mempelajari bahasa Bali. “Yang mungkin dipelajari di Bali itu adalah bahasa Bali,” kata Mgr. San. Uskup menceritakan beberapa umat dari Bali pernah SMS beliau supaya setelah di Bali bisa belajar bahasa Bali.”Menurut saya bahasa Bali itu memang penting sekali untuk dipelajari tanpa mengecilkan untuk mempelajari bahasa Sasak di Lombok. Paling tidak kalau saya pergi ke Tuka, Palasari atau Singaraja saya bisa menggunakan bahasa Bali juga, karena umat di sana mayoritas juga orang Bali.” .
Selama tujuh tahun penggembalaan mendiang Mgr. Dr. Benyamin Y. Bria,Pr di Keuskupan Denpasar, sudah dua kali menyelenggarakan Sinode Keuskupan, tahun 2001 dan 2006. Melalui Sinode itu ditetapkan Arah Karya Pastoral, berikut Visi dan Misi Keuskupan Denpasar untuk lima tahun. Lantas, bagaimana pandangan Mgr. San? “Saya juga belum tahu ya, Sinode yang sudah dibuat itu isinya apa? Yang pasti Sinode itu dia lebih tinggi dari musyawarah pastoral. Dan itu mesti kita lihat kembali, kalau bagusmenurut saya ya memang harus dibuat, karena di situkan penyusunan program, dibuat visi, misi dan arah karya pastoral selama lima tahun. Saya kira ya, bisa dilanjutkan, kita bisa usahakan untuk melanjutkan itu. Karena apa yang telah dibuat uskup terdahulu itu tentu saja mewakili kemauan atau kehendak umat di keuskupan itu. Dan kalau memang itu kehendak dari umat, itu harus dilaksanakan,” tegas Bapa Uskup.

Uskup yang Jago Badminton
Mau tahu hobi Bapa Uskup, apa olahraga, selera seni, makanan dan film favorit? “Kalau disuruh olahraga yang lain tidak peduli lagi, hehehe..” Sambil tertawa lepas, Uskup San menceritakan hobi utamanya ketika masih sekolah dulu di bidang olaharaga kepada Team Buku Kenangan. Hobi itu tetap dipeliharanya hingga kini.
Hobi Bapa Uskup kita memang olahraga. Olahraga favoritnya adalah badminton alias bulutangkis. Beliau tidak hanya jago tetapi sering menjadi juara bila bertanding badminton di lingkup Seminari. Jadi, kalau ada para imam atau umat yang mau melawan main badminton dengan Bapa Uskup, harap siap-siap menelan kekalahan!
Selain badminton, jago bola kaki juga. “Saya punya hobi itu olahraga, olahraga favorit badminton. Saya dulu pernah jago sekali, di S eminari saya juara terus sampai di Seminari Tinggi,” katanya sambil tertawa. “Tetapi saya senang main bola kaki juga. Kalau, bola voli ya, hanya untuk pele angin, untuk ramai-ramai. Sepak bola itu memang senang, pernah jadi pemain kelas,” akunya.
Tentang olahraga badminton ini, Mgr. San punya kenangan tersendiri. Dalam olahraga tepok bulu ini beliau pernah memenangkan beberapa piala di Seminari Tinggi Ritapiret. Malahan saat studi di Roma, tahun 1996 ada pertandingan bulutangkis antara masyarakat Indonesia di sana dan Bapa Uskup bersama temannya dari Larantuka, Rm. Don Frida, keluar sebagai juara di nomor ganda. Teman-temannya yang berasal dari Jawa merasa heran. “Koq orang Flores bisa juara badminton, belajarnya di mana?” kata mereka. “Saya bilang kepada mereka, saya belajar di Seminari, kami banyak aula di sana, baik di Mataloko (Seminari Menengah) kemudian di Seminari Tinggi.” Selain itu Bapa Uskup juga suka lari-lari kecil demi badan yang sehat. “Saya juga suka lopas (lari-lari kecil) biar supaya sehat.” Semua olahraga itu dilakukan Bapa Uskup sampai sekarang, walaupun sudah agak berkurang karena banyak kesibukan.
Tentang kegemaran Bapa Uskup dalam olahraga, ternyata mendapat “olokan” teman kelasnya di Seminari Mataloko dulu, namanya Embu Lanto. “Dia olok saya, mengatakan penggemar olahraga itu jadi Uskup. Embu Lanto ini teman saya di Seminari Mataloko, dari kelas satu sampai kelas tiga. Tiap hari kami main bola kaki. Kalau tidak ada kerja atau bebas pasti di lapangan bola kaki atau bermain basket. Kalau voli itu jarang, hehehe…” cerita Mgr. San sambil terkekeh.
Bagaimana dengan kesenian? “Saya suka nyanyi saja, tetapi saya tidak tahu main alat musik. Saya sudah latih di Seminari itu tapi tidak pernah mahir-mahir, hehehe.. Saya hanya bisa main suling saja. Saya pernah latih gitar, tetapi tidak mahir-mahir. Tapi, kalau disuruh olahraga yang lain tidak peduli lagi,hehehe…”
Soal makanan, Bapa Uskup kita ini bisa makan apa saja, tidak ada masalah. Sedangkan film, bapa Uskup suka film-film action. “Film-film action itu saya lebih suka. Saya bisa nonton film apa saja, tetapi tidak ketagihan. Pas ada kesempatan nonton ya nonton. Kalau tidak juga tidak apa-apa. Tetapi kalau berita itu memang perlu dan wajib. Setiap pagi nonton berita. Jadi kalau berita itu harus, nonton film itu untuk rileks saja di tengah kesibukan.” ***

Para Imam Bersatu
Ketika ditanya harapan Bapa Uskup ketika resmi menjadi Gembala di keuskupan ini, harapan utamanya adalah persatuan diantara Imam Keuskupan Denpasar. “Satu hal yang saya harap bahwa Imam-imam di Keuskupan Denpasar itu bisa bersatu karena itu bisamenjadi satu kekuatan bagi Keuskupan Denpasar. Saya tidak tahun berapa persis banyaknya imam di Keuskupan ini, baik projo maupun tarekat. Kalau imam-imam ini bisa bersatu maka menjadi kekuatan dalam membangun Keuskupan Denpasar. Harapan saya begitu, para imam bersatu untuk membangun Keuskupan Denpasar. Ya, bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh,” harap Bapa Uskup.

Kemiskinan,Keprihatinan Bersama
Menyinggung soal angka kemiskinan dan pengangguran yang tinggi di Indonesia ini, harus diakui menjadi keprihatinan Gereja juga. Karena itu, Gereja sebagai bagian integral dari bangsa ini, harus ikut berjuang bagaimana menurunkan angka kemiskinan dan pengangguran yang ada, minimal di kalangan umat katolik sendiri yang juga menjadi bagian dari rakyat Indonesia.
Uskup menegaskan, harus menjadi tugas Keuskupan melalui Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE) dalam penyusunan program yang bisa membantu umat untuk mau keluar dari kemiskinan mereka. “Bagaimana mereka bisa dibantu untuk membantu dirinya sendiri. Jadi, program PSE yang dicanangkan Keuskupan Denpasar saya tidak tahu seperti bagaimana. Tapi, kalau di Keuskupan Agung Ende itu mereka biasa memberikan penyadaran ke mana-mana dulu. Karena kadang orang tidak menyadari bahwa dia miskin. Bagaimana kita bisa membantu dia untuk keluar dari kemiskinan kalau dia tidak mengatakan dia miskin. Orang harus disadarkan dulu sehingga ia merasa miskin, baru pelan-pelan diajak keluar dari kemiskinan itu dengan tindakan kongkret,” urai Bapa Uskup.
Menurut Mgr. San, tentang kemiskinan ini memang perlu perhatian khusus dengan membuat program bersama dan bisa dimulai dari KBG-KBG. “KBG-KBG itu bisa digerakan untuk membangun solidaritas. Saya yakin tidak mungkin dalam satu KBG itu semua orangnya miskin. Jadi bagaimana kita membangun solidaritas dan bagaimana mereka (yang mampu secara ekonomi) bisa membantu teman-teman lain yang miskin. Mereka tidak harus dengan memberikan uang tetapi bisa pikiran-pikiran atau bisa memberikan peluang-peluang, kesempatan juga transfer pengetahun-keahlian-teknologi.”
Upaya pemberdayaan lainnya adalah mengoptimalkan pengembangan koperasi-koperasi karena ada semangat solidaritas di dalamnya. “Ada seorang imam namanya Rm. Blino dari Kalimantan yang sangat konsern memberikan perhatian terhadap masalah ini. Dia biasa jalan terus ke mana-mana untuk mempromosikan koperasi atau Kopdit. Jadi, ini menjadi salah satu kemungkinan untuk pengembangan sosial ekonomi umat,” katanya menyebut nama seorang imam yang mungkin bisa diajak kerjasama di kemudian hari.

Pandangan Mengenai Orang Muda
Bagi Bapa Uskup kondisi orang muda itu bisa positif, bisa negatif tergantung bagaimana mengarahkan mereka. Bali dan NTB dengan kemajuan pariwisatanya, dapat memanfaatkan pariwisata itu ke arah yang positif terutama untuk menghidupi dirinya sendiri dan bukan malah untuk merusak dirinya. “Orang muda itu generasi pelanjut masa depan bangsa, negara dan Gereja. Kita punya Komisi Kepemudaan itu harus memberi perhatian khusus. Saya tidak tahu kesulitan apa yang dialami Keuskupan Denpasar.”
Secara spesifik, Mgr. San mengaku belum mengetahui secara pasti masalah yang paling krusial terkait dengan orang muda di Keuskupan ini, tetapi ia berharap apapun masalahnya harus ada upaya pendampingan terhadap orang muda. “Terus terang, saya tidak tahu masalah krusial di Bali dan NTB dengan banyak turis dan macam-macam. Mungkin sudah ada masalah HIV/AIDS, narkoba, prostitusi, drugs. Apakah orang-orang muda kita bisa dibina, masih bisa didampingi menghadapi tantangan zaman seperti sekarang. Ini kerja berat, biasanya di paroki juga ada Seksi OMK (orang muda katolik), memang tidak mudah mengumpulkan mereka, tetapi kita akan berusaha.”

Ibu yang Lembut
Mama Katharina No’o Nere ibunda dari Mgr. Silvester San,Pr boleh mengalami bahagia berlipat ganda. Bahagia ketika 20 tahun lalu anaknya ditahbiskan sebagai imam praja Keuskupan Agung Ende. Bahagia karena salah satu putranya diangkat oleh Sri Paus Benediktus XVI menjadi Uskup Denpasar.
Kebahagiaan itu tersirat ketika berbincang-bincang dengan Faris Wangge salah seorang tim penulis buku kenangan tahbisan uskup Denpasar yang menemui keluarga ini di kediaman Km 3 Jl.Gatot Subroto Ende Flores pertengahan Januari 2009 lalu. Kala itu, mama Katharina No’o Nere sambil membawa dua gelas teh di tangannya tampak sehat dan kuat. Dari raut wajah, Ibu Katharina adalah ibu yang lembut.Kelembutan itu diakui oleh Mgr. Silvester Sa,Pr. “Ibu mendidik anak-anaknya dengan lembut” demikian ungkap uskup tentang ibundanya.
Tentang putranya yang sekarang menjadi Uskup Denpasar ibu Katharina mengisahkan Mgr.Silvester waktu kecil adalah anak yang manja dan nakal. “Dulu dia nakal betul, kita omong dia tidak ikut, waktu kecil minta digendong terus. Tapi kalau sekolah, otaknya cepat” Ujar Mama Katharina mengenang. Nakal dimaksud dalam arti nakal sebagai anak-anak dalam masa pertumbuhan. Otak cepat, sebuah istilah yang menunjukan bahwa Mgr San kecil adalah anak yang cerdas dan selalu berprestasi di Sekolahnya. “Ada saya punya anak kerja,namanya Thomas yang tiap hari gendong dia. Kalau cari gurita di laut, dia ikut, tunggu di pinggir pantai. Itu anak jalan ke mana, dia ikut terus” tambah Mama Katharina.
Ibu Katharina tidak pernah membayangkan putranya menjadi uskup. Yang dibayangkannya adalah lagi lima tahun putranya akan merayakan 25 tahun imamat atau pesta perak. Ibu Katharina menyatakan sukacitanya atas terpilihnya Romo San menjadi Uskup. “Dia masih muda, baru 47 tahun.Kami tidak menyangka dia akan jadi Uskup.Kami justru sedang mempersiapkan pesta peraknya yang tinggal lima tahun lagi” tambah Mama Katharina. Ibu Katharina mengatakan akan mendukung karya pastoral Uskup Silvester dengan doa “Kami dukung dengan doa dari belakang”. Maksudnya doa dari keluarga di rumah.

Ayah yang Keras Penuh Cinta
Ketika tim penulis buku kenangan berkunjung ke kediaman di kilometer 3 kota Ende, Baba Robe, ayah Mgr.Silvester San,Pr sedang sibuk membolak-balik beberapa catatan dagang di tangannya. Ia tak menyangka jika hari itu ia akan diwawancarai. Setelah tim memperkenalkan diri, Baba Robe lalu memanggil Istrinya. Baba Robe pun bercerita “Dulu saya beragama Protestan, tapi tidak tahu sembayang. Saya dipermandikan menjadi Katolik, satu minggu menjelang tahbisan Romo San. Kemudian saya menerima Komuni pertama langsung dari Romo San” kisah bapa Roben Robo.
Dikisahkan Baba Robe, mereka menikah dengan perjanjian oleh Pastor Both tahun 1955. Dalam perjanjian nikah seluruh anak-anak mengikuti Agama dari Ibu yakni Katolik. Menurut Baba Robe, sebetulnya yang paling rajin sembahyang itu Istrinya. “Saya dulu tidak tahu berdoa” ungkapnya.Tentang kabar diangkatnya Romo San, menjadi Uskup Denpasar diketahuinya dari beberapa kerabat yang mendengar pengumuman tersebut di Gereja dan Radio.
Hal yang tak diduga ketika berita pengangkatan Mgr San, kedua orang tua dan seluruh sanak kerabatnya sedang berada di Maumere. “Kami waktu itu, ikut masuk minta (tunangan) cucu, anak yang punya Toko Go di Maumere. Anak-anak bilang Romo San sudah jadi uskup. Kami kaget, karena jadi Uskup itu tidak gampang” Ujar Baba Robe. Diungkapkan setelah mendengar kabar, mereka ke Ritapiret untuk memberi selamat. “Saya pegang tangan dan memeluknya” ungkapnya.
Dimata Mgr.Silvester San,Pr ayahnya adalah pekerja keras yang mendidik anak-anaknya dengan keras, dengan rotan. Namun pendidikan itu dengan tujuan supaya anak-anak menjadi patuh, sebuah pendidikan yang keras namun penuh cinta. Mgr.San juga mengalami didikan ayahnya dengan rotan, namun hanya sampai Sekolah Dasar. Semua anak-anak dididik dengan rotan hanya sampai sekolah dasar. Setelah SMP tidak lagi dididik dengan rotan tetapi hanya marah saja.

Jago Komputer Jadi Uskup Denpasar
(Rm. Huber Leteng, Pr, kini Mgr. Hubert Leteng,Pr, Uskup Ruteng))

Siapa sangka mereka mesti berpisah karena tugas.Yang satu ke pulau Dewata. Yang lain tetap di Puri Ritapiret.Terpisah oleh ruang dan waktu.Namun persahabatan yang bertahun-tahun lamanya dibangun tidak sirna begitu saja.Malah mampu mengatasi ruang dan waktu.
Rasa Kehilangan seorang sahabat dan rekan kerja akan selalu ada, tetapi pengabdian dan komitmen tidak boleh tidak ada.Rm.Hubertus Leteng,Pr adalah orang ‘dekat’ Mgr.Silvester San,Pr.Selain sebagai wakil Praeses, Rm.Hubert juga teman satu angkatan Mgr.San selama masa pendidikan di Seminari Tinggi dan pendidikan di Roma.Bersama-sama pula sebagai rekan pembina dan dosen di Ritapiret dan STFK Ledalero.Sejak Terpilihnya Mgr.San sebagai Uskup Denpasar,maka berdasarkan Surat Keputusan Uskup Maumere, tertanggal 5 Januari 2009, Rm.Hubert ditetapkan sebagai Praeses Seminari Tinggi St.Petrus Ritapiret untuk masa jabatan 2009–2012.Ternyata benih persahabatan itu sudah jauh ditabur di tanah yang subur ketika siswa Seminari St. Yohanes Berchmans Mataloko mengunjungi Seminari Kisol. Waktu itu Hubert dan San masih siswa kelas 3 SMP.
Rm. Hubert mengungkapkan perasaan hatinya ketika mendengar Rm.Silverster San, Pr diangkat menjadi Uskup Denpasar. “Saya bangga Rm.San bisa diangkat menjadi Uskup, karena beliau itu teman kelas saya dan juga warga komunitas Ritapiret. Ini berkat Tuhan untuk Seminari Ritapiret , karena salah satu warga komunitas kita mendapat kepercayaan untuk menjadi Gembala”. Menurut Rm.Hubert,menjadi uskup adalah karya Roh.Ia sulit ditebak, karena pilihan ini merupakan Providentia Dei, R ahmat Allah, bukan bayangan atau prediksi manusia. Walaupun demikian secara pribadi Rm.Hubert sangat merasakan kehilangan besar. “Dia itu teman dekat saya selama bertahun-tahun. Beliau itu jago komputer. Saya tidak tahu, mau minta bantuan pada siapa”, demikian aku Rm.Hubert dalam sambutannya pada upacara pelepasan Mgr.San oleh komunitas Ritapiret.
Di mata Rm.Hubert,Rm.San adalah seorang yang siap setiap saat untuk membantu.Rm. San juga seorang yang bertanggung jawab terhadap tugasnya.Ia seorang yang tegas, tepat waktu dan memiliki rasa kesetiakawanan yang tinggi.Ke Bali dan di Keuskupan Denpasar Mgr.Silvester San,Pr akan melabuhkan perahunya.Rm.Hubert berharap beliau harus bisa membangun dialog dan kerja sama dengan masyarakat.Mgr.San perlu membangun hubungan yang baik dengan tokoh-tokoh masyarakat dan pemerintah setempat.Misi Kristen dapat bertumbuh dengan cara-cara seperti itu.Rm.Hubert menegaskan,“Misi Kristen bukan suatu yang samar-samar. Misi Kristen harus diwartakan dengan jelas dan tegas. Walaupun orang Kristen merupakan kaum minoritas, kesaksian hidup menjadi sangat penting.”

Tidak Kaget tapi Cemas
(Rm. Martoni Tangi, Pr.)

Rm.Martoni tidak pernah membayangkan bahwa Rm.San akan menjadi Uskup, tapi yakin bahwa setiap angkatan akan menjadi “generasi emas” untuk keuskupannya masing-masing. Ada yang terpilih sebagai petinggi keuskupan, regio Nusa Tenggara dan dosen. Sebagai teman seangkatan sejak seminari kecil sampai dengan seminari tinggi,Rm.Martoni tidak telalu kaget atas pengangkatan Rm.San sebagai Uskup Denpasar, karena beliau orangnya tekun dengan tugas dan belajar, mengerjakan sesuatu sampai tuntas dan disiplin.
Terpilihnya Rm.San sebagai Uskup Denpasar disambut gembira oleh Rm. Martoni. Tetapi dalam hati kecilnya ada rasa cemas karena Denpasar itu wilayah ‘orang’, sekalipun ada banyak imam yang menjadi bekas muridnya.Namun dia berharap agar Mgr.San maju terus dalam mengerjakan karya pastoral. Apa yang baik di Keuskupan Agung Ende dan Keuskupan Maumere dapat dilanjutkan dan diteruskan di Keuskupan Denpasar. Mencontohi Mgr. Kherubim Pareira, SVD, Uskup Maumere, Rm.Martoni mengatakan bahwa doa itu perlu dalam pelayanan pastoral.Intelektual tidak ada masalah,tetapi pada saat kritis, doa menjadi sangat penting. Menurut Rm.Martoni,jabatan Uskup harus dilihat sebagai Providentia Dei,Rahmat Allah. Kalau ia hanya dipandang sebagai ‘jabatan’, maka stres dan frustrasi akan muncul, terutama di saat-saat kritis.

Cocok dan Pas Menjadi Uskup
(Rm. Fransiskus Eduard Byre, Pr)

Rm.Fransiskus Eduard Byre, Pr (Rm. Petty) punya kesan dan perasaan tersendiri terhadap Mgr.Silvester San,Pr, sahabat dan rekan kerjanya. Kebersamaan mereka berlangsung sejak Seminari Menengah berlanjut pada Seminari Tinggi dan kemudian menjadi formatur pada Seminari Tinggi St. Petrus Ritapiret dan dosen di STFK.
Ada dua perasaan Rm.Petty waktu mendengar pengangkatan Rm.Silvester San,Pr menjadi Uskup Denpasar. Di satu pihak bangga dan gembira karena seorang sahabat,rekan kerja dan Praeses Seminari Tinggi St. Petrus Ritapiret terpilih menjadi Uskup. Di lain pihak Rm. Petty merasa kehilangan karena kebersamaan dengan Rm.San bukan waktu yang singkat tetapi panjang sejak Seminari Menengah Mataloko dan Seminari Tinggi St. Petrus Ritapiret baik sebagai frater maupun staf pembina.
Ada bersama dengan Rm. San dalam waktu yang cukup lama membuat Rm. Petty memiliki kesan dan perasaan istimewa tentang beliau. Rm.Petty mengatakan bahwa beliau memiliki sejumlah keutamaan untuk bisa menjalankan tugasnya sebagai Uskup. Dia sangat sederhana, menampilkan diri apa adanya, tekun, pintar, semangat belajar dan membaca yang tinggi.Beliau juga adalah orang yang suka membantu, peka terhadap kebutuhan umum, mengerjakan sesuatu sampai tuntas,jujur,terbuka,berani mengatakan kebenaran,merangkul siapa saja, prinsipil dengan tetap menjunjung tinggi kemanusiaan dan kepentingan banyak orang.Ia sangat bijaksana dan bertanggung jawab dalam memimpin.Ia selalu membuat pertimbangan yang matang dan melibatkan rekan-rekankerja dalam mengambil keputusan, jika hal itu diperlukan.
Berdasakan kualitas dan kapasitas pribadinya ini,Rm.Petty mengakui,“Dia sangat cocok dan pas untuk menjadi seorang uskup”. Rm.Petty berharap agar Mgr. San menjadi figur seorang gembala dan sahabat bagi semua.Rm.Petty yakin bahwa Allah yang memberi pertumbuhan, pasti akan menyempurnakan apa yang masih kurang dalam diri Uskup.

Jadilah Gembala yang Baik
(Rm. Yakobus Soba,Pr)

Pastor Paroki St. Thomas Morus Maumere, Rm.Yakobus Soba,Pr,mengungkapkan kebanggaannya karena sahabatnya,Rm.San dipercayakan untuk tugas dan tanggung jawab dalam perkara yang besar untuk menjadi Uskup Denpasar justru karena ia sudah setia dalam perkara-perkara kecil. Kesetiaannya ini sudah nampak sejak dia belajar di SMP Seminari St.Yohanes Berchmans Mataloko. Di mata Rm.Yakobus,Rm.San adalah seorang pribadi yang sederhana,khususnya dalam hal menu makanan dan pakaian. Beliau seorang yang tekun, teliti,tidak gampang menyerah,pintar dan rasional.Karena itu ada kesan sepertinya beliau kurang menjaga perasaan lawan bicaranya. Tapi sebenarnya beliau tak ada niat untuk itu.
Rm.Yakous menitipkan harapan agar Mgr.San menjadi gembala yang baik.

Persahabatannya Berbobot
(Rm. Benediktus Daghi, Pr.)

Pertama kali diberitahu diangkat sebagai Uskup Denpasar tepatnya tanggal 18 November 2008 bukannya menjadi sebuah kabar gembira bagi Rm.Silverster San,Pr.Begitu pula saat pertama kali diumumkan oleh Tahta Suci Vatikan tanggal 22 November 2008.Hari-hari sebelum dan sesudah diumumkannya secara resmi Rm.San menjadi Uskup Denpasar adalah hari-hari yang diliputi perasaan terkejut,kalut,bingung dan gelisah.Makan tak enak tidur pun tak nyenyak. Begitulah kira-kira perasaan hati Rm.San di antara keterkejutan, kegelisahan dan kenyataan yang yang sedang dan akan dia hadapi.
Ia lalu ke Seminari Mataloko untuk bertemu dengan rekan-rekan imam dan awan untuk mengungkapkan perasaan hatinya,setelah lama disuruh diam dalam keheningan doa,bagi Rm.San,sedikit tidaknya mengurangi kebingungan dan kegelisahannya.Rekan-rekan imam menjadi semacam tempat Rm.San menumpahkan semua bebannya karena disadarinya bahwa kekuatan panggilan itu justru tumbuh dalam kebersamaan,tidak bertumbuh sendiri. Memory akan kebersamaan di masa lalu seakan mengalir seperti air,menerobos batas waktu dan tempat untuk menegaskan bahwa rencana Tuhan indah pada waktunya sekalipun harus dilewati dalam kegelisahan dan kebingungan.
Rm.Bene Daghi,Pr, Praeses Seminari St. Yohanes Berkhmans Mataloko saat ini,ketika diwawancarai oleh team, menuturkan perasaan dan pengalaman serta pendapatnya tentang terpilihnya Rm.San menjadi Uskup Denpasar.“Saya patut berbangga sewaktu mendengar bahwa Vatikan mengangkat San menjadi Uskup”, ungkap Rm.Bene.Tentu kebanggaan Rm.Bene ini tidak lepas dari pengalaman kerja sama dengan Rm.San selama masih sebagai calon imam projo dan sebagai staf pembina di Seminari St.Petrus Ritapiret.Sebagai imam senior,Rm. Bene biasanya berkelakar,“Saya sangat berbangga dengan adik-adik yang punya potensi gemilang sebagai imam projo...seperti kamu,San.Kalau mendengar ini,San biasanya senyum-senyum saja”.
Bagi Rm.Bene,Seminari St.Yohanes Berkhmans Mataloko dan Seminari Tinggi St.Petrus Ritapiret ternyata menyimpan segudang pengalaman berarti.Rm.Bene menceritakan bahwa tahun 1974,saat dia di kelas 7 (kelas 3 SMA),dia mengetahui bahwa ada anak keturunan China dari Paroki Maukeli masuk kelas I SMP.Beberapa tahun setelah berada di Seminari Tinggi Ritapiret,San ternyata memilih menjadi imam projo Keuskupan Agung Ende.“Kami merasa satu arah, dalam arti sama-sama mempersiapkan diri menjadi pelayan umat Allah di Keuskupan yang sama”,demikian ungkap Rm. Bene.
Rm.Bene ditabiskan sebagai imam pada tahun 1984 dan dikirim untuk studi Islamologi di Roma.Kembali dari Roma tahun 1988, Rm.Bene masih mengikuti tahbisan Rm.San dan kawan-kawannya di Maumere.Sebagai rekan imam se-Keuskupan Rm.Bene merasa bahwa San adalah orang yang bisa diajak untuk berbicara dan merupakan rekan se-imamat yang bisa diharapkan untuk masa depan Gereja Lokal Keuskupan Agung Ende.Kerekanan dalam imamat dengan Rm.San berlanjut terus.Setelah menyelesaikan licenciat dalam bidang studi Teologi Biblis di Universitas Urbanianum Roma tahun 1993, Rm.San kembali ke Ritapiret dan bertugas sebagai staf pembina calon imam projo sekaligus dosen pengajar pada STFK Ledalero.Tahun 1995 Rm.San melanjutkan studi di bidang yang sama, di Universitas yang sama, untuk program doktoralnya dan selesai pada tahun 1997. Awal tahun 1998, Rm.San kembali lagi ke Ritapiret dengan tugas sabagai staf pembina calon imam projo dan staf pengajar STFK Ledalero.Ia menjabat sebagai wakil praeses bersamadengan Rm.Bene sebagai Praesesnya hingga tahun 2004.Sejak tahun 2004 sampai waktu pengangkatannya sebagai Uskup Denpasar, Rm.San menjabat sebagai Praeses Seminari Tinggi St. Petrus Ritapiret.
Kerekanan yang dibangun dari waktu ke waktu itu mematangkan sosok seorang pemimpin dan Gembala umat.Rm.Bene mengatakan,“San memiliki rasa persaudaraan yang cukup kental dan berbobot. Sekalipun dia orangnya diam, tetapi dia kenal orang dengan rasa persaudaraan yan gcukup baik. Dia bukan tipe orang yang memilih-milih dalam pergaulan atau relasi dengan teman-teman”. Dalam soal kepemimpinan itu, saya melihat San seorang pemimpin yang memperhatikan orang lain dengan penuh kasih, tegas dan disiplin pada waktu bukan demi kepentingan dirinya sendiri tapi demi kepentingan pihak-pihak lain. San tidak sekedar mengatakan ya..ya, tetapi dia punya ide demi teman dan anak binaannya. Kalau di tengah umat, pasti dia buat demi kepentingan mereka.
Rm.Bene melihat San adalah orang yang bisa membangun kerekanan dengan imam-imam,biarawan-biarawati,agen-agen pastoral dan awam demi pelayanan umat.Kerekanan tersebut harus merangkul semua pihak agar tercipta semangat persaudaraan yang kuat. Bertolak dari semangat tersebut Rm. Bene meyakini Rm. San bisa menyusun program-program pastoralnya. “Karena di Keuskupan Agung Ende, San punya pengalaman pastoral, terlibat langsung dalam berbagai pertemuan pastoral dan musyawarah pastoral, maka saya yakin dia tidak akan keluar dari apa yang dialaminya. Tinggal menyesuaikannya dengan situasi dan kebutuhan umat Keuskupan Denpasar”, demikian harapan Rm. Bene. Sebagai pembina yang lama berkecimpung di dunia pendidikan calon imam, Rm.Bene melihat Mgr.San bukan orang baru dan yakin dia akan memberi perhatian yang besar pada Seminari Tuka.
Sejumlah harapan dititipkan oleh Rm.Bene kepada Uskup terpilih Mgr.San, para imam, biarawan-biarawati dan umat. Keberhasilan karya pastoral tidak melulu mengandalkan pengalaman kerja dan ijazah, tapi membangun sikap saling pengertian dengan semua rekan imam dan agen-agen pastoral. Rm.Bene mengharapkan agar umat Katolik dan non Katolik bisa menerima Mgr.San dengan segala keunggulan dan kelemahannya sebagai seorang manusia, apalagi dia adalah orang yang baru masuk di Denpasar. “Terimalah dia sebagaimana adanya dan siap untuk membantu kerja sama dengan dia”, titip Rm.Bene dalam nada harapan.

Bukan Superman, tapi Tokoh Panutan
(Bapak Petrus Jelalu)

Yang menyenangkan adalah pengalaman lari pagi dan sore hari bersama-sama.Keliling kompleks seminari bebebera putaran. Kadang berlari di tengah ramainya lalu lintas kendaraan jurusan Maumere, Nita dan Lela. Bertemu dengan ibu-ibu yang membawa hasil kebun dalam bakul yang menggelantung di punggung mereka, sementara kaum lelaki menuntun kuda yang sarat beban.Sesekali terdengar suara orang-orang kampung memanggil frater yang sedang berlari. Panorama senja hari inilah yang diingat oleh bapak Petrus Jelalu, anggota DPRD Kabupaten Sikka yang adalah teman seangkatan Mgr.San sewaktu masih frater.
Kedua-duanya adalah pemimpin yang diberi kepercayaan oleh Tuhan untuk menghadirkan kerajaanNya sesuai dengan panggilan hidup masing-masing.Bapak Petrus Jelalu melihat pada diri Rm.San ada jiwa kepemimpinan. Hal ini nampak dalam kepribadiannya yang tegas, disiplin,terbuka dan merangkul orang lain serta penuh tanggung jawab dalam melaksanakan tugasnya.
Bapak Petrus Jelalu berharap agar Rm.San menjadi Uskup sampai kekal.Ia bukan seorang superman, tetapi tokoh panutan untuk imam-imamnya dan juga tidak kalah pentingnya menjadi panutan bagi umat. Berkarya di tengah kultur Bali diharapkan agar Mgr.San melakukan inkulturasi yang arif untuk bisa mewartakan Kabar Gembira berakar dalam kebudayaan setempat.Sebagai pemimpin Mgr.San diharapkan agar bisa membina hubungan yang baik dengan pemimpin-pemimpin duniawi,pemerintah.Dan yang tidak kalah pentingnya adalah jangan lupa teman-teman lama karena kekuatan panggilan bertumbuh dalam kebersamaan dengan teman-teman.

Tenang, Kritis dan Teliti
(Fr. Roberthus Gaga NaE Mahasiswa Seminari Ritapiret-Frater TOP di Seminari Tuka, kini Rm. Robertus Gaga NaE,Pr,)

Beliau ini seorang yang tenang, tidak banyak ngomong atau kalau ngomong seperlunya saja.Kalau mengajar atau aktivitas apapun sangat kritis dan teliti. Sebagai Praeses beliau pekerja keras.Bila sedang tidak mengajar jarang rileks dan lebih banyak dalam kamar kerja untuk membaca atau pekerjaan lainnya.”Saya sendiri cukup segan dengan beliau dan sebagai mahasiswa di Ritapiret saya pernah ditegur beliau. Tetapi dalam menegur para frater tidak dengan ekspresi marah, justru sifat kebapakan beliau yang muncul. Ini yang membuat kita gugup bila berhadapan dengan beliau.”
Kesan lainnya adalah Bapa Uskup seorang yang sederhana.Selama di Ritapiret,bila sore-sore beliau suka bercelana pendek dan baju kaus saja,sesekali pakai sarung.Beliau suka memakai bajuolahraga putih bergaris merah.Bapa Uskup juga jago badminton dan jago program komputer sekaligus memperbaiki komputer rusak. Bila ada komputer rusak, termasuk kepunyaan frater beliau dengan senang hati mau memperbaikinya.Beliau memang suka membantu.Seringkali para frater bila berpapasan di jalan dan beliau lagi bawa mobil para frater dipersilahkan ikut numpang.Atau saat pulang kuliah, kita biasanya menunggu beliau di pinggir jalan supaya bisa ikut numpang di mobilnya.”Dalam mobil juga kita biasa cerita-cerita rileks dengan beliau. Jadi Bapa Uskup ini sangat memahami ruang dan waktu bila berhadapan dengan mahasiswa atau para frater.” Ini yang membuat segan dan terkadang gugup berhadapan dengan beliau.

Pohon Kenangan
(John, sopir Rm.San,Pr)

Pemuda gagah ini tak kuasa menahan haru ketika mengetahui bahwa Romo San yang sangat dikenalnya itu terpilih menjadi Uskup Denpasar.”Sebagai sopir pribadi,saya sering menemani monsignur terutama ke luar kota.Jika hendak menempuh perjalanan jauh, romo tak terbiasa makan di warung.Romo kerapkali bilang kita cari nasi bungkus dulu, di mana kita rasa lapar, kita berhenti makan” kenangnya.
John, pemuda asal Kabupaten Nagekeo NTT mengisahkan kepada Faris Wangge tim penulis buku kenangan saat dijumpai di Ritapiret beberapa pekan silam.”Saya diajak untuk menjadi sopir romo setelah beliau kembali dari tugas belajar di Roma tahun 1996.Jadi saya telah bersama romo selama 13 tahun ini”, ungkapnya. Lanjutnya, romo pernah mengajaknya ke kampung di Maukeli,dua minggu bersama beliau liburan disana. Keluarga romo, sangat sederhana. “Bapa mama dorang sederhana, padahal kaya raya. Orang tua pagi-pagi iris batang pisang untuk kasi makan babi, pelihara ayam, hanya pake sarung saja”, kisah John.
Hal yang membuatnya terkenang terus adalah sebatang pohon,tempat yang biasa mereka singgahi makan. Ada dua pohon yang ada diantara kota Maumere dan Ende juga kota Maumere dengan Larantuka. “Saya sudah hafal pohon mana yang dia suka, di situ kami berhenti untuk makan” pungkasnya.

Telah Merasa Rm. San jadi Uskup
(Sr.Savera,OSF)

Pimpinan Komunitas Susteran Ordo St.Fransiskus (OSF) Detusoko Ende NTT itu,tampak begitu bersemangat ketika mengetahui bahwa Rm.San telah terpilih menjadi Uskup Denpasar.“Saya memang kaget waktu mendengar berita itu,namun sejak dulu saya telah merasa bahwa dirinya akan menjadi Uskup,tapi kapan saya belum tahu” Sr.Savera,OSF demikian namanya, ditemui Faris Wangge tim penulis buku kenangan di Wolowaru Ende, pertengahan januari 2009 lalu. Ia menuturkan bahwa dirinya sering membantu Seminari,sejak beliau masih bertugas di Semarang, lalu selama 3,5 tahun bertugas di Ritapiret.Jadi cukup mengenal kepribadian Uskup San dan kehidupan rohaninya.
Saat pertama mengenal Romo San ia melihat kepribadiannya yang luar biasa. Dalam kerjasama beliau sangat memperhatikan kolega, tidak pernah membeda-bedakan orang, pikirannya sangat bijaksana dan sangat jauh ke depan. Dia juga lebih memperhatikan kepentingan umum,bukan kepentingan dirinya sendiri.Menurut suster kelahiran Semarang ini, “Dulu saya paling sering berkelakar dengan beliau bahwa ia pantas jadi uskup”, ucapnya sambil tertawa.
Harapannya semoga Mgr.Silvester San,Pr dapat merangkul para rohaniwan di Keuskupan Denpasar. Suster yang pernah bertugas sepuluh tahun di Keuskupan Denpasar ini dimasa mendiang Mgr. Antonius Thijssen,SVD.

Apresiasi dan Harapan Mereka


Tak perlu menunggu terlalu lama, hanya kurang lebih satu tahun Tuhan berkenan menganugerahi salah seorang putra terbaik dari Seminari Tinggi Ritapiret menjadi Uskup Denpasar.Kabar gembira ini tentu disambut dengan sukacita.Berikut ini beberapa apresiasi dan harapan bagi Mgr.DR.Silvester San,Pr.

Chris Wisnu Sridana
(Denpasar)

Berita pengangkatan Mgr.Silvester San seperti matahari yang terbit dari timur, kita bergembira karena diberi cahaya baru.Terpilihnya Mgr. San adalah wujud karya agung Tuhan yang mempersembahkan putra terbaiknya dari daratan Flores. Sebagai pribadi saya sangat apresiatif kepada Bapa Uskup yang datang ke tanah Bali, Lombok dan Sumbawa dengan penuh ketulusan, kesederhanaan, kelembutan hati untuk mempersembahkan dirinya bagi umat Keuskupan Denpasar. Kerinduan mendalam seluruh umat adalah hadirnya seorang gembala yang berdiri di atas semua kelompok dan golonganKeahlian beliau di bidang Kitab Suci, menurut saya merupakan pilihan Tuhan yang mau berbicara kepada umat Keuskupan Denpasar untuk hidup sesuai kehendakNya sebagaimana difirmankanNya dalam Kitab Suci. Tuhan pasti menghendaki umat bersatu dan bergandengan tangan untuk membangun Keuskupan Denpasar bersama gembala kita yang baru. Kita bangga bahwa ini pilihan terbaik karena Tuhan menjawabi doa-doa umatNya.
Seluruh umat pasti merindukan kunjungan Bapa Uskup untuk menyapa mereka sampai kepada umat yang ada di pedesaan di Bali maupun NTB.”Saya yakin beliau pasti dengan senang hati datang dan menyapa seluruh umatnya yang tersebar di mana-mana di tiga pulau besar Keuskupan Denpasar ini. Beliau juga pasti sangat memahami apa yang mesti dilakukan di daerah yang majemuk seperti ini, melalui sikap keterbukaan dan dialog dengan semua kelompok agama termasuk membangun hubungan baik dengan pemerintah setempat.” Profisiat Buat Bapa Uskup.

Bernardus I Gusti Ngurah Wisnu Purwadi
(Paroki Palasari)

Secara pribadi saya gembira dengan pengangkatan Bapa Uskup dan sangat percaya bahwa ini merupakan pilihan Roh Kudus melalui keputusan terbaik pimpinan Gereja di Vatican. Tentu Bapa Suci mengangkat beliau dengan pertimbangan yang sangat matang dan dalam bimbingan Roh Kudus.”Harapan saya, semoga beliau dapat mengakar pada budaya setempat paling tidak dapat memahami budaya Bali sehingga keuskupan ini dapat berkembang dengan mengakar pada budaya setempat. Saya yakin dengan bantuan Roh Kudus dan kerjasama yang baik dengan seluruh umat beliau mampu melaksanakan karya-karyanya.” Doa Kami Menyertai Bapa Uskup.

Novita Rani Sulistyo
(Kaum Muda-Denpasar)

Saat pengangkatan Bapa Uskup, secara pribadi saya senang karena keuskupan kita akhirnya kembali memiliki seorang gembala, sehingga ke depan arah karya pastoral kita jelas mau dibawa ke mana. Sebagai orang muda saya pastinya mengharapkan Bapa Uskup mau membaur dan mencintai orang muda dengan perhatian-perhatiannya yang tulus, ramah dan mendengarkan. Orang muda Katolik sendiri juga saya mengajak supaya lebih maju lagi baik dalam pelayanan maupun tekun dalam doa. “Saya juga berharap para Imam di Keuskupan Denpasar supaya boleh saling bekerjasama untuk memajukan keuskupan ini, tidak saling bersaing.” Kerjasama yang baik antara imam tentu sangat mendukung karya Bapa Uskup. Demikian pula sebagai umat kita dapat mendukung setiap kebijakan Bapa Uskup agar keuskupan kita menjadi lebih baik di masa mendatang.”Semoga Bapa Uskup juga lebih memperhatikan umat di wilayah terpencil yang memang perlu diperhatikan seperti di Donggo atau stasi-stasi di pedesaan di Bali.” Selamat dan Sukses Buat Bapa Uskup.

Selly Ester Sembiring
(Paroki Mataram-NTB)

Mendengar Pastor Paroki kami mengumumkan telah terpilihnya uskup baru bulan Desember 2008 lalu, terus terang saya senang dan terharu.Rasanya Tuhan begitu cepat mendengarkan doa-doa umatNya. Pikiran saya paling cepat dua tahun,ternyata hanya satu tahun.Semoga Bapa Uskup San dapat menyatu dan bekerjasama dengan umat dalam membangun keuskupan tercinta ini, dapat melanjutkan karya Bapa Uskup Benyamin serta tidak ada jarak dengan umat. Yang paling dirindukan juga adalah dapat menjalin hubungan baik dengan masyarakat dan pemerintah di Bali dan NTB serta menyatu dengan budaya di Uskup baru dapat membawa umat semakin dewasa dalam iman dan semua umat juga menerima Bapa Uskup dengan sukacita. Juga Bapa Uskup dapat menerima tugas penggembalaan sebagai Uskup Denpasar ini dengan sukacita dan menjadi gembala yang baik bagi domba-dombanya. Sebagai karyawan keuskupan kami selalu siap mendukung setiap gerakan dan karya pastoral Bapa Uskup. Semoga Tuhan Selalu Menolong.

Caecilia Riyanti 
(Pendamping Mudika Mataram-NTB)

Mendengar terpilihnya Uskup baru tentu merasa gembira karena jawaban atas doa-doa umat keuskupan ini begitu cepat, karena biasanya cukup lama. Saya yakin ini berkat doa-doa umat. Harapan untuk Bapa Uskup, semoga bisa melanjutkan agenda hasil Sinode II yang telah diwariskan Bapak Uskup sebelumnya dan tentunya lebih maksimal lagi. Saya juga berharap Bapa Uskup San dekat dengan umat, mendengarkan langsung harapan-harapan umat.”Saya bangga memiliki Bapa Uskup yang masih muda dan energik.Saya yakin Bapa Uskup pasti lebih care dan memahami orang muda agar orang muda lebih menemukan jati dirinya, peduli terhadap Gereja, Negara dan masyarakat sekitarnya. Kepada seluruh umat, mari kita menerima Bapa Uskup kita dengan hati terbuka dan bisa bekerjasama dengan beliau demi kebaikan keuskupan kita tercinta.” Selamat Berkarya Bapa Uskup.**