Saturday, February 7, 2015

Hidup dan Peran KBG






 
1.      Sejak tahun 2000, Keuskupan Denpasar berkomitmen menjadikan KBG sebagai kendaraan pastoral.
2.      Definisi KBG yang dipakai oleh Keuskupan Denpasar adalah “persekutuan umat yang relatif kecil (sekitar 10-15 KK), dalam suatu wilayah teritorial yang berdekatan,  mudah berkumpul secara berkala untuk mendengarkan Firman Tuhan, membagi masalah harian bersama dan mencari pemecahannya dalam terang Kitab Suci.”
3.      Setelah lebih dari 10 tahun, apakah komitmen pengembangan KBG tersebut hanya GERAK-GERIK belaka?
4.      Jawabannya jelas TIDAK! Keuskupan Denpasar telah melakukan gerakan pelembagaan (institusionalisasi) KBG. Dari gerakan pelembagaan itu telah muncul banyak KBG di paroki-paroki, sebagaimana dapat dilihat pada tabel berikut ini:

1.      Sistem Organisasi Paroki Di Dekenat Bali Barat
PAROKI
STASI
WILAYAH/SEKTOR
KBG
TABANAN
2
7 wilayah
31
GUMBRIH
2
-
5
NEGARA
-
5 lingkungan/kring
10
PALASARI
3
3 lingkungan
15
SINGARAJA
-
3 lingkungan
5
TOTAL
7
18
66

2.      Sistem Organisasi Paroki Di Dekenat Bali Timur
PAROKI
STASI
WILAYAH/SEKTOR
KBG
KATEDRAL
1 stasi
14 wilayah
78
ST.YOSEP KEPUNDUNG
1 stasi
5 sektor
14
ST. PETRUS DPS
-
6 sektor
26
KUTA
-
4 wilayah
-
NUSA DUA
-
5 lingkungan
15
GIANYAR
-
4 kring
8
TUKA
-
11 sektor/wilayah
-
KULIBUL
-
6 sektor
-
BABAKAN
-
2 wilayah dan 5 sektor
-
TANGEB
3
-
4
KLUNGKUNG
-
-
3
AMLAPURA
-
-
4
TOTAL
3
62
148

3.      Sistem Organisasi Paroki Di Dekenat NTB
PAROKI
STASI
WILAYAH/SEKTOR
KBG
AMPENAN
-
9 lingkungan
26
MATARAM
1
12 lingkungan
30
PRAYA
1
-
3
DOMPU
-
-
13
BIMA
-
-
10
SUMBAWA
5
7
24
DONGGO
2
1
16
TOTAL
9
29
122

·        Data tabel-tabel di atas berasal dari: Laporan FGD dari semua paroki Keuskupan Denpasar.
·        Menurut laporan FGD dari semua paroki, sampai tahun 2011 ini total terdapat 336 KBG di Keuskupan Denpasar: 66 di Dekenat Bali Barat; 148 di Dekenat Bali Timur; 122 di Dekenat NTB. Catatan: Tim Penelitian mengalami sedikit kesulitan dalam menghitung jumlah KBG karena dalam laporan dari beberapa paroki, ada stasi dan wilayah yang dilaporkan sebagai KBG.
·        Sebagai pembanding, menurut Laporan Penelitian Sinode II (hlm. 57), sampai tahun 2005 di Keuskupan Denpasar terdapat 244 KBG. KBG-KBG tersebut terdapat di 16 Paroki. 8 Paroki belum membentuk KBG.
·        KBG-KBG tersebut memiliki pengurus dan anggota seperti dapat dilihat dalam tabel berikut ini: 

4.      KBG-KBG Di Dekenat Bali Barat
PAROKI
RATA-RATA
JUMLAH KK KBG
JUMLAH KK TERBESAR
JUMLAH KK TERKECIL
RATA-RATA JUMLAH PENGURUS
TABANAN
10,29
15
6
2,9
GUMBRIH
15,4
23
6
3,2
NEGARA
19,6
36
9
4,7
PALASARI
17,07
27
11
6,3
SINGARAJA
23,4
32
14
2,8

5.      KBG-KBG Di Dekenat Bali Timur
PAROKI
RATA-RATA
JUMLAH KK KBG
JUMLAH KK TERBESAR
JUMLAH KK TERKECIL
RATA-RATA JUMLAH PENGURUS
KATEDRAL
23,06
72
9
3,26
ST.YOSEP KEPUNDUNG
28,57
52
6
1,78
ST. PETRUS DPS
25,5
41
10
3
KUTA
Tidak ada data



NUSA DUA
26,73
47
5
3,6
GIANYAR
20
30
8
4,16
TUKA
49,81
65
15
5,72
KULIBUL
32,16
58
17
4,16
BABAKAN
Tidak ada data



TANGEB
13,75
14
13
2
KLUNGKUNG
11,6
13
9
4
AMLAPURA
12,5
24
7
3,75








6.       KBG-KBG Di Dekenat NTB
PAROKI
RATA-RATA
JUMLAH KK KBG
JUMLAH KK TERBESAR
JUMLAH KK TERKECIL
RATA-RATA JUMLAH PENGURUS
AMPENAN
17
25
4
3,5
MATARAM
17,20
40
5
3,7
PRAYA
16
20
12
5
DOMPU
9,2
16
2
2,6
BIMA
22,67
35
11
5,1
SUMBAWA
23,46
55
11
3
DONGGO
18,69
34
11
2,9

·         Data di atas menunjukkan bahwa KBG-KBG di Keuskupan Denpasar telah menjadi organisasi yang memiliki kepengurusan dan keanggotaan yang jelas.
·         Dalam Focus Group Discussion (FGD) tingkat paroki, tokoh-tokoh umat yang menjadi pengurus di paroki diminta memberi pandangan mereka (YA atau TIDAK) terhadap strategi Keuskupan Denpasar menjadikan KBG sebagai kendaraan pastoral. Laporan hasil FGD dari paroki-paroki menunjukkan hasil sebagai berikut:

PAROKI
YA
TDK

PAROKI
YA
TDK

PAROKI
YA
TDK
TABANAN
6
0

KATEDRAL*
4  klp
0

AMPENAN
15
3
GUMBRIH
12
3

ST.YOSEP KEPUNDUNG
30
12

MATARAM
26
1
NEGARA
-
-

ST.PETRUS DPS
10
10

PRAYA
9
1
PALASARI
12
0

KUTA
-
-

DOMPU
-
-
SINGARAJA
21
0

NUSA DUA
9
5

BIMA
5
3

51
3

GIANYAR
5
7

SUMBAWA
40
0




TUKA
24
3

DONGGO
20
1




KULIBUL
8
5








BABAKAN
-
-








TANGEB
-
-








KLUNGKUNG
15
0








AMLAPURA
20
0




TOTAL
51
3

TOTAL
121
42

TOTAL
115
9
PERSENTASE
94,4%
5,6%

PERSENTASE
74,2%
25,8%

PERSENTASE
92,7%
7,3%

CATATAN: *Katedral melakukan diskusi dalam kelompok dan menghitung YA/TIDAK berdasarkan kelompok. Di paroki-paroki lain suara YA/TIDAK dihitung per orang. Karena itu, suara dari Katedral tidak dihitung dalam jumlah total.

·        Data di atas mengindikasikan bahwa sebagian besar pengurus Gereja di tingkat paroki menerima kebijakan menjadikan KBG sebagai kendaraan pastoral. 
·        Catatan kritis perlu diajukan atas argumenyang disampaikan baik oleh mereka yang mengatakan “YA” dan “TIDAK.”Argumen-argumen yang disampaikan oleh mereka yang mengatakan YA lebih berkisar soal efektivitas pengorganisasian, antara lain kelompok kecil lebih mudah diorganisir, lebih mudah saling mengenal, lebih mudah menjalin keakraban, lebih mudah dikontrol, dan lain-lain. Pihak yang menyatakan TIDAK [SETUJU]”memberi alasan, yakni kelompok kecil kurang ramai, pembentukan KBG memecah rasa persatuan yang telah terbina sebelumnya, kehadiran KBG tidak akan berbeda dengan kelompok-kelompok doa yang sudah ada sebelumnya, dan beberapa alasan lain.
·        Argumentasi yang diberikan oleh kedua kubu melupakan konsep inti KBG yaitu cita-cita menerjemahkan Kitab Suci ke dalam praktik hidup sehari-hari. Ini menunjukkan bahwa wacana tentang KBG di Dekenat Bali Barat masih lebih berputar soal KBG sebagai sistem pengorganisasian untuk memekarkan (baca = memecah) wilayah/sektor menjadi kelompok yang lebih kecil, idealnya 10-15 KK. Konsep KBG sebagai semangat tranformasi sosial dengan inspirasi Kitab Suci belum mengakar dalam kesadaran umat, termasuk di kalangan para pengurus.
·        Penelitian Sinode II, 5 tahun yang lalu,  memberi catatan kritis perihal adopsi KBG di Keuskupan Denpasar:  “Arus umum dalam Gereja di sini adalah ritualisme, sementara KBG menekankan dimensi transformatip. Jadilah anggur baru dimasukkan dalam kerbat lama, akhirnya dianggap tidak berguna oleh umat dan pelan-pelan ditinggalkan. Pencangkokan KBG dalam keuskupan ini tanda perencanaan matang dan proses perobahan paradigma dalam hidup menggereja [sic!] merupakan akar masalah utama mengapa KBG belum berkembang seturut idealnya dan mimpi untuk menjadikan Gereja keuskupan ini Gereja umat yang inklusip masih merupakan cita-cita yang jauh” (hlm. 103).
·        Penilaian kritis atas Penelitian Sinode II tersebut masih valid dengan beberapa catatan. Penerapan KBG, yang idenya dipinjam dari Gereja Amerika Latin dan Filipina dan diilhami oleh Teologi Pembebasan, dilakukan seperti melakukan “pencangkokan” sistem organisasi asing ke konteks lokal tanpa studi kelayakan yang dibuat secara matang. Dalam proses pencangkokan, terlihat spirit sistem organisasi itu hilang dan akhirnya KBG tumbuh seperti organisasi yang sudah ada sebelumnya. Artinya, setelah KBG dibentuk, aktivitas dan perannya tidak berbeda dengan kelompok-kelompok teritorial yang sebelumnya sudah ada yakni wilayah/sektor/lingkungan/kring. Perbedaannya terletak hanya pada ukurannya yang dibuat menjadi lebih kecil (idealnya 10-15 kk).Karena ukurannya lebih kecil, kemampuan KBG jauh lebih terbatas daripada wilayah/sektor. De facto, sektor/wilayah lebih berperan sebagai “basis” kegiatan paroki daripada KBG.
·        Meski demikian, tidak benar bahwa KBG dianggap tidak berguna dan ditinggalkan umat. Faktanya, KBG-KBG tetap hidup,memiliki struktur dan kegiatan-kegiatan yang relatif stabil dan terpola. 
·        Persepsi umat yang dijaring melalui survei dalam Penelitian Sinode II (hlm. 61-60) menunjukkan bahwa kegiatan yang sering dilakukan oleh KBG di Keuskupan Denpasar adalah doa rosario (80% responden menyatakan hal itu). Kegiatan rohani kedua sering dilakukan adalah syering Kitab Suci (59%). Kegiatan lain yang sering dilakukan mengumpulkan iuran gereja (66,5%), turut serta menjaga keamanan lingkungan (64,1%), menolong tetangga yang butuh bantuan (59,5%), mengunjungi tetangga beragama lain yang mengalami musibah (55,5), ibadat (55,3%), koor (55,2%). CATATAN: persentase ini menunjukkan persepsi responden, bukan kegiatan nyata yang dilakukan oleh KBG. Dari hasil survei ini, kita juga tidak bisa memastikan apakah kegiatan-kegiatan itu dilakukan oleh KBG, oleh wilayah/stasi/paroki, atau oleh pribadi-pribadi yang kebetulan adalah anggota KBG. 
·        Penelitian Sinode III menemukan, berdasarkan Laporan FGD dari setiap paroki, bahwa kegiatan KBG terpusat pada kegiatan rohani yang sifatnya eksklusif, terutama doa rosario dan pendalaman Kitab Suci dan kegiatan karitatif khususnya mengunjungi orang sakit.
·        Berikut ini adalah cuplikan data kegiatan KBG berdasarkan rangkuman yang diberikan dalam Laporan FGD paroki-paroki. Perlu diingat bahwa tidak semua KBG memberikan laporan kegiatan mereka.

7.      Kegiatan KBG Berdasarkan Laporan Dari Paroki-Paroki
KEGIATAN
BALI BARAT
BALI TIMUR
NTB
Doa Rosario
57 KBG
121 KBG
101 KBG
Syering Kitab Suci
58 KBG
107 KBG
65 KBG
Misa
9 KBG
22 KBG
26 KBG
Doa Lingkungan/KBG
4 KBG
20 KBG
18 KBG
Ziarah Gua Maria
22 KBG
35 KBG
4 KBG
Koor
8 KBG
13 KBG
7 KBG
CU
19 KBG
21 KBG
29 KBG
Kunjungan Orang Sakit
41 KBG
36 KBG
39 KBG
Gotong Royong Kebersihan
32 KBG
6 KBG
18 KBG
Arisan
5 KBG
23 KBG
9 KBG
Sosialisasi Pemilu
5 KBG
12 KBG
12 KBG

·        Dari tabel tersebut tampak ada tiga kegiatan yang menonjol yakni: doa rosario, syering Kitab Suci dan kunjungan orang sakit. Ini mengindikasikan spiritualitas yang devosional, aktivitas KBG yang bersifat ritualistik dan semangat karitatif untuk mengunjungi dan menolong orang yang membutuhkan.  
·        Semangat dasar KBG yakni transformasi sosial berdasarkan terang inspirasi Kitab Suci belum tampak di lapangan. Kesan ritualistik masih terasa. Pendalaman Kitab Suci umumnya dilakukan dalam rangka APP, BKSNdan bukan dilakukan secara rutin untuk membicarakan masalah sehari-hari dan mencari pemecahannya dalam terang Kitab Suci seperti idealisme KBG.
·        Semangat saling membantu dan gotong royong ini sangat tampak di paroki-paroki pedesaan. Anggota KBG saling menolong dalam acara perkawinan, upacara kematian, sakit, dan lain-lain.
·        Gerakan ke arah keterbukaan dengan masyarakat beriman lain sudah mulai tampak, antara lain melalui CU, arisan, sosialisasi pemilu, kerja bakti, pelatihan-pelatihan ketrampilan, gotong-royong dan aneka kegiatan karitatif lainnya. Hanya saja, porsi kegiatan-kegiatan itu masih kecil, sifatnya insidental dan sering bukan atas inisiatif KBG.
·        Perlu dibuat studi mendalam tentang peran dan kegiatan nyata KBG. Dari laporan yang diberikan oleh paroki-paroki, sulit dibedakan antara kegiatan-kegiatan personal, kegiatan wilayah/lingkungan/sektor/kring, kegiatan paroki dan kegiatan-kegiatan yang diorganisir oleh KBG.
·        Kebijakan menjadi KBG sebagai kendaraan untuk mewujudkan karya pastoral yang transformatif belum berjalan optimal. Keluhan banyak paroki bahwa pastor kurang mengunjungi dan memberiperhatian pada KBG menunjukkan bahwa kendaraan pastoral itu kurang dipakai dan dikembangkan. Juga, tidak begitu jelas bagaimana strategi menjadikan KBG sebagai kendaraan pastoral itu hendak dilaksanakan di lapangan.
·        Perlu dibuat studi kasus atas KBG-KBG yang dinilai aktif/dinamis untuk mengukur batas-batas kemampuan nyata KBG di lapangan. Dengan studi kasus semacam ini kita bisa melihat sejauhmana impian/ideal tentang KBG dapat dilaksanakan secara nyata dalam konteks kita di lapangan. Sejauh ini wacana yang dikedepankan soal KBG lebih bersifat idealisme daripada pengalaman nyata dari lapangan.
·        Tim penelitian membuat wawancara mendalam (in-depth interview) dengan pengurus dari 3 KBG yang dinilai baik: 1 KBG di Paroki Palasari, 1 KBG Paroki Kuta, 1 KBG Paroki Singaraja.Pemilihan tersebut mempertimbangkan aspek konteks pedesaan, pinggiran perkotaan dan perkotaan.
·        Dari studi tersebut, ditemukan bahwa KBG bisa hidup baik dalam konteks masyarakat pedesaan maupun perkotaan.

  • KBG St. Fransiskus Asisi – Palasari (Terbentuk 4 Oktober 2005)
1.      Situasi pedesaan, tempat tinggal berdekatan, tersedianya waktu dan kekompakan anggota memungkinkan KBG ini “sangat hidup”. Selain berpartisipasi dalam kegiatan paroki dan lingkungan, mereka memiliki kegiatan sendiri: doa koronka setiap Rabu Minggu I, doa rosario dan syering Kitab Suci dilanjutkan dengan arisan setiap Rabu Minggu II, doa di Gua Maria Palasari setiap Rabu Minggu III, Syering seputar kehidupan basis (permasalahan umum di basis, usul saran dan suka duka anggota) setiap Rabu Minggu IV, ibadat dan doa rosario setiap Rabu Minggu V.
2.      Selain kegiatan rutin di atas, kegiatan lain yang biasa dilakukan KBG ini adalah: menengok dan memberikan santunan kepada anggota yang sakit;  Usaha simpan pinjam khusus anggota KBG; berpartisipasi dengan memberikan bantuan jajan dan kebutuhan lainnya selama 3 hari kepada anggota KBG yang mengalami duka (meninggal); melayani atau menemani anggota berduka sampai selama 3 hari secara bergilir oleh semua anggota. Setiap ulang tahun KBG dilaksanakan aksi sosial berupa pemberian bingkisan (hadiah) kepada lansia, memberi perhatian atau bantuan natura kepada anggota yang lagi ada acara pernikahan/syukuran, bantuan sosial (insidental).
3.      Daya ubah yang dihasilkan: lebih kompak, semua anggota bisa memimpin doa, terasa dikuatkan dan dibantu dalam peristiwa duka, kegiatan simpan-pinjam dan arisan membantu dan meringankan beban ekonomi, memecahkan persoalan nyata sehari-hari dalam pertemuan setiap Rabu Minggu ke IV dalam bulan. Buah nyata dari kegiatan-kegiatan KBG adalah: anggota semakin kompak dan saling membantu.
4.      Kegiatan yang inklusif menjangkau orang beriman lain: memberi bantuan sembako dan pernah dalam bentuk uang kepada keluarga di sekitar KBG (1 KK Hindu dan 1 KK Islam), mengundang keluarga (Hindu- 1 KK) ikut misa dan memberikan kesaksian setiap HUT KBG. Keluarga Hindu ini sebelumnya memeluk Katolik.

·         KBG Nuansa – Wilayah St. Maria Jimbaran Paroki Kuta (terbentuk 26 November 2008)
1.      Selain berpartisipasi dalam kegiatan lingkungan dan paroki, KBG ini memiliki kegiatan: syering Kitab Suci setiap hari Rabu; doa dan makan bersama setiap Sabtu akhir bulan; kunjungan sosial ke panti jompo dan Seminari Tuka, rekoleksi, kunjungan orang sakit, Natal Bersama di KBG. 
2.      Daya transformasi yang dirasakan: syering memperdalam pengetahuan iman Katolik, membantu menemukan ayat-ayat yang menyentuh situasi hidup harian, menjadi ruang untuk membicarakan persoalan ekonomi, dan lain-lain.
3.      Buah nyata dari pertemuan seperti itu: anggota semakin termotivasi untuk bekerja keras, percaya diri, bersemangat mengubah pola hidup, lebih rajin berdoa dan mengikuti kegiatan KBG, menumbuhkan kebersamaan yang solid,memekarkan kerinduan membaca Kitab Suci dan mengembangkan iman.

·         KBG Bisma – Lingkungan St. Yoseph – Paroki Singaraja (Terbentuk 2001)
1.      Kegiatan yang dikoordinir oleh KBG: doa bulanan, pendalaman Kitab Suci, ziarah, pengumpulan iuran untuk basis, kunjungan kepada keluarga yang jarang aktif di KBG, kunjungan dan aksi sosial (insidental) misalnya kunjungan kepada orang sakit, membantu mahasiswa yang mengalami kesulitan.
2.      Kegiatan yang dikoordinir oleh lingkungan:doa bersama, arisan, simpan pinjam dan pelayanan liturgi di gereja
3.      Semangat transformasi berdasarkan terang Kitab Suci: KBG ini biasa berkumpul satu kali dalam satu bulan melakukan ibadat sabda dan dalam kegiatan ini ada juga membaca dan merenungkan Kitab Suci; Pertemuan para anggota dengan membaca, merenungkan dan mencari inspirasi dari Kitab Suci, biasanya pada pendalaman AAP, APP, BKSN dan BULINAS (bulan Liturgi Nasional).  Persoalan nyata yang dibicarakan antara lain persoalan ekonomi, partisipasi anggota KBG dalam kehidupan menggereja.
4.      Buah nyata dari pertemuan-pertemuan itu: arisan, simpan pinjam (bersama basis lain dalam satu lingkungan), semakin giat dalam kehidupan menggereja.
5.      Buah nyata lainnya, KBG ini sedang mengumpulkan modal dari para anggota dalam bentuk kolekte dan iuran wajib Rp. 5000/bulan/KK. Dana terkumpul ini rencananya disalurkan untuk memberikan kesempatan kepada anggota KBG yang hendak membuka warung/usaha kecil atau membangun kos-kosan.Sampai saat ini danatersebut belum tersalur karena jumlahnya masih terbatas.

8.      Kesimpulan
1.      Perjuangan memberdayakan KBG sebagai komunitas yang inklusif dan transformatif masih harus menempuh jalan panjang. Tentu saja hal ini bukan berarti mustahil.
2.      KBG-KBG sudah terbentuk, memiliki kepengurusan dan anggota yang jelas. Persoalannya sekarang bagaimana menggerakkan KBG-KBG ini untuk menjadi komunitas-komunitas yang berdaya ubah secara integral – spiritual, ekonomis, sosio-politis, kultural, dan ekologis.
3.      PETA JALAN KE DEPAN: (1) Pemberdayaan KBG perlu dimulai dengan penanaman spiritualitas transformasi yang  integral: KBG tidak dimaksudkan hanya untuk membuat umat bertambah saleh namun berkembang dalam seluruh aspek kehidupan. Pembentukan komunitas-komunitas tanpa spiritualitas hanya akan menghasilkan komunitas-komunitas ritualistik. (2) Pemberdayaan animator-animator KBG harus dilangsungkan secara berkelanjutan. (3) Keuskupan melalui media komunikasi perlu menampilkan syering kehidupan KBG-KBG yang dinilai baik untuk menjadi contoh dan memberi animasi bagi KBG-KBG lain bahwa ber-KBG itu bermanfaat bagi mereka.

No comments:

Post a Comment