Saturday, February 7, 2015

Jelang Sinode III


Umat Nara Sumber Utama dalam Sinode 
Oleh Mgr. DR. Silvester San

Bulan Februari 2011, saya genap dua tahun menggembalakan umat di wilayah Gereja Lokal Keuskupan Denpasar. Reksa pastoral selama kepemimpinan saya masih melanjutkan program pastoral yang dibangun Uskup pendahulu saya Mgr. Benyamin Bria yang mengusung visi dasar “KeuskupanDenpasar sebagai Persekutuan Umat Beriman Kristiani Berjuang Mewujudkan Kerajaan Allah Melalui Komunitas Basis Gerejawi yang Inklusif dan Transformatif.” Visi ini dijabarkan dalam lima tema pastoral yang dijalankan setiap tahun, selama periode 2007-2011. Tahun 2011 yang mengangkat tema “KBG dan pendidikan nilai dalam keluarga, sekolah dan kesetaraan gender” adalah tema terakhir hasil rumusan Sinode II yang diselenggarakan tahun 2006.
Dengan berakhirnya tema pastoral 2011, selaku pelanjut karya misi di bumi Bali dan NTB ini saya berkewajiban dan terpanggil melaksanakan sidang akbar bagi para agen pastoral yang menjadi motor pastoral di keuskupan ini dengan menggelar Sinode III. Dasar hukum penyelenggaraan sinode ini diatur dalam Kitab Hukum Kanonik (KHK) dalam kanon 461 § 1 yang berbunyi: ”Hendaknya sinode keuskupan diselenggarakan di setiap Gereja partikular, bila menurut pandangan Uskup diosesan dan pendapat dewan imam, keadaan menganjurkannya”.
Mengacu pada KHK Kanon 461, Sinode saya pandang penting karena menjadi jaminan kesinambungan reksa pastoral dalam suatu wilayah Gereja Lokal. Perumusan visi–misi, program kerja harus senantiasa dibarui dan disesuaikan dengan situasi dan zamannya. Zaman semakin maju dan berkembang, menuntut Gereja terus menerus membaharui dirinya, demi pelayanan yang tepat sasar dan sesuai kebutuhan umat. 
Sinode yang diselenggarakan setiap lima tahun, sangat ideal untuk membarui visi misi keuskupan serta menjadi arena evalusi pelaksanaan karya pastoral selama kurun waktu lima tahun yang telah berlalu dan mengagendakan program pastoral lima tahun ke depan. Sinode juga menjadi kesempatan berahmat bagi para agen pastoral dari berbagai paroki untuk bisa saling bertemu, syering serta saling menimba pengalaman pastoral yang dijalankan di masing-masing paroki. Pengalaman berhasil, gagal, suka duka dalam menjalankan karya pastoral akan menjadi suka-duka bersama sebagai sesama agen pastoral yang mengemban tugas dan visi yang sama.

Jelang Sinode III, Pusat Pastoral Perlu Menggali Masukan Dari Bawah
Pusat Pastoral (Puspas) Keuskupan Denpasar yang membantu Uskup dalam bidang pastoral perlu melakukan persiapan dengan matang baik secara transformatif, teknis maupun turun langsung ke lapangan untuk memperoleh masukan-masukan berharga dari umat. Sinode ini diharapkan membawa suara umat, maka dalam persiapannya perlu melibatkan umat dalam KBG-KBG. Salah satu cara adalah dengan membuat angket atau bertanya langsung kepada umat akan harapan-harapannya yang hendak dititipkan dalam Sinode III. Untuk memperoleh masukan-masukan umat tidak mungkin Puspas bekerja sendirian. Hendaknya diciptakan sistem kerja sama yang efektif dengan para agen pastoral paroki sehingga memudahkan Puspas dalam menghimpun usulan-usulan umat. Bila asprasi umat dari masing-masing paroki bisa terkumpul, akan diperoleh data akurat yang akan menjadi masukan berharga bagi proses pelaksanakan Sinode III 2011.
Tahapan selanjutnya adalah pelaksanaan  Pra Sinode di tingkat dekenat. Pra Sinode di tingkat dekenat hendaknya melibatkan utusan-utusan agen pastoral dari tingkat paroki dan penggerak KBG. Pelaksanaan Pra Sinode di tingkat dekenat perlu dipikirkan secara mendalam, karena masing-masing dekenat memiliki karakteristik umat yang berbeda, sehingga kemasan acara serta materinya juga berbeda. Target Pra Sinode tingkat dekenat adalah terinventarisirnya persoalan-persoalan, harapan-harapan, usul saran umat serta ditemukannya kekuatan, kelemahan dan peluang dalam berpastoral. Hasil akhir Pra Sinode di tingkat dekenat direkomendasikan sebagai masukan dalam Sinode III.
Saya berharap tahapan-tahapan ini bisa dijalankan dengan baik. Pusat Pastoral perlu memikirkan langkah-langkah strategis untuk pelaksanaannya. Metode survey yang paling efektif untuk menjaring masukan umat serta metode pengolahannya perlu dikaji dengan cermat, sehingga hasil survey itu maksimal serta layak dipresentasikan dalam sinode yang hanya terjadi setiap lima tahun. Persoalan yang sering terjadi adalah survey tidak mampu menjangkau seluruh umat dan pengolahan hasil survey mentah atau hanya setengah-setengah saja. Hal ini jangan sampai terjadi. Kita harus berjuang menjalankan tahapan ini secara total dan tuntas sehingga diperoleh wajah Keuskupan Denpasar yang sebenarnya dan akurat, sekaligus menjadi dasar  perumusan Visi, Misi, Arah Karya Pastoral serta Program Kerja Keuskupan Denpasar periode 2012-2016. 

Umat Nara Sumber Utama Dalam Sinode
Umat yang digolongkan dalam kelompok kaum awam diharapkan partisipasinya dalam keikutsertaannya mensukseskan Sinode III. Tumbuh kembang serta mati hidupnya Gereja juga merupakan tanggung jawab umat. Tugas-tugas pastoral yang dibangun Keuskupan Denpasar, dalam pelaksanaannya memerlukan partisipasi dan keterlibatan seluruh umat, termasuk mensukseskan tahapan-tahapan menuju Sinode III yang diprogramkan Pusat Pastoral. Masa persiapan hendaknya menjadi gerakan seluruh umat dalam keikutsertaannya membangun Gereja Lokal Keuskupan Denpasar. Sinode diselenggarakan dari kita oleh kita dan untuk kita. Sinode adalah salah satu strategi pastoral untuk mewujudkan Kerajaan Allah supaya hadir dan meraja di hati setiap orang. Misi Yesus yang ingin menyejahterakan dan menyelamatkan umat manusia dimungkinkan dengan sikap proaktif kita yang mau membuka hati dan terlibat aktif dalam proses hadirnya Kerajaan Allah itu sendiri. Agar umat memahami makna sinode dengan baik serta keterlibatannya dalam mensukseskan Sinode III, saya mengharapkan agar para Pastor Paroki mensosialisasikan kepada umat, menyangkut tahapan-tahapan yang akan dilalui yang mencapai puncaknya pada bulan November 2011.
Dalam pelaksanaan Sinode III peranan umat sangat besar, yakni menjadi nara sumber utama dalam memberikan berbagai masukan seputar persoalan kehidupan menggereja yang dihadapi umat, hal-hal yang dirasakan dalam hidup harian umat yang ada di tataran dasar Gereja (KBG). Tetapi harus diingat umat tidak boleh terjebak dengan masukan yang bersifat uneg-uneg atau keluh kesah pribadi yang ujung-ujungnya menuntut Gereja. Masukan yang diharapkan adalah berbagai persoalan mendasar yang dialami dan dirasakan menghambat tumbuh kembangnya KBG sebagai basis kehidupan dan kerasulan umat. Berbagai sumbangan pikiran positif juga sangat diharapkan demi eksistensi Gereja dari waktu-waktu. Keberadaan Gereja menjadi tanggungjawab kita bersama, bukan hanya di pundak Uskup, para imam, biarawan-biarawati atau para  agen pastoral semata. Masing-masing kita merupakan tiang penyangga Gereja yang memungkinkan Gereja ini bertumbuh dan berkembang baik secara kualitas maupun kuantitas. Sebagai tiang penyangga, kita harus membekali diri dengan iman yang kokoh, hidup rohani yang baik serta memiliki keteladanan dalam hidup sesuai keutamaan-keutamaan yang dimiliki Yesus Guru Agung kita.
Sinode III masih akan menempatkan KBG sebagai skala prioritas perhatian Gereja, sebab KBG merupakan basis kerasulan dan kehidupan umat. Kehadiran dan keterlibatan kaum awam dalam KBG-KBG adalah bentuk sumbangan terbesar bagi keberlangsungan kehidupan Gereja Lokal Keuskupan Denpasar. KBG adalah motor utama yang memberi daya hidup serta menggerakkan Gereja untuk terus berjalan maju dalam merealisasikan proyek besar Allah yakni untuk keselamatan manusia.

Mengambil Bagian dalam Misi Yesus
Mengutip pesan Paus Yohanes Paulus II yang ditujukan  kepada umat kristiani, pesan yang sama saya tujukan kepada seluruh umat di wilayah Keuskupan Denpasar, untuk menerima martabat serta tanggungjawab kerasulan dengan giat serta gigih. Esensi panggilan Kristen adalah kerasulan. Hanya dalam dimensi pelayanan Injil itulah orang-orang Kristen dapat menemukan kepenuhan martabat serta tanggungjawabnya. Sebenarnya kita telah dipersatukan dengan Kristus dan umat Allah melalui pembaptisan. Kita telah dijadikan peserta, pengambil bagian dalam tugas Kristus sebagai imam, nabi dan raja. Kita dipanggil menuju kekudusan dan diundang untuk mewartakan serta merealisasikan Kerajaan Kristus sampai kedatanganNya kembali.
Kesetiaan pada martabat ini belum cukup hanya dengan menerima secara pasif harta karunia iman yang diwariskan oleh tradisi dan budaya saja. Harta karun serta bakat, barang titipan Allah yang dipercayakan kepada kita, harus diterima dengan pertanggungjawaban, yakni agar berbuah melimpah. Rahmat pembaptisan dan penguatan senantiasa diperbarui dengan ekaristi dan disegarkan dalam pertobatan. Rahmat itu juga memiliki kekuatan untuk menghidupkan serta membangkitkan iman, dan dalam dinamika kreatif Roh Kudus, memberiarah bagi segala kegiatan anggota Tubuh Mistik. Kita juga dipanggil untuk mengembangkan hidup rohani, yang menjadikan kita sebagai rekan sekerja Roh Kudus. Melalui karunia yang diterima, kita memperbarui, meremajakan serta menyempurnakan karya Kristus yang mengemban misi BapaNya untuk menghadirkan Kerajaan Allah bagi semua orang. Misi luhur ini tidak mungkin terwujud tanpa keterlibatan kita sebagai pengikutNya.

Memancarkan Wajah Kristus melalui Gereja yang Inklusif dan Transformatif”
Saat ini bangsa kita berwajah penuh penderitaan oleh karena sesama anak bangsa saling melukai, menyakiti dan banyak kelompok saling menyerang satu sama lain. Akibatnya manusia tidak lagi merasakan kedamaian, suka cita dan sejahtera dalam kehidupannya. Bangsa Indonesia sebagai rumah tinggal bersama tidak dirasakan nyaman lagi bagi para  penghuninya. Rakyat semakin menderita dengan beban ekonomi yang kian berat dan tidak mampu ditanggungnya lagi. 
Keuskupan Denpasar sebagai patner Pemerintah terpanggil untuk menciptakan masyarakat yang adil, damai dan sejahtera. Menyadari bahwa Keuskupan Denpasar yang meliputi Bali dan NTB  serta berada di tengah masyarakat mayoritas berkeyakinan lain,  umat yang beraneka ragam suku dan budaya yang rentan menimbulkan konflik dan perpecahan maka Sinode III mengusung tema: “Memancarkan Wajah Kristus Mmlalui Gereja yang Inklusif dan Transformatif. Tema yang mau digumuli ini  selaras dengan tema yang diusung SAGKI 2010, “Ia datang supaya semua memperoleh hidup dalam kelimpahan” (bdk. Yoh 10:10) dengan memancarkan wajah Yesus dalam keanekaragaman budaya, dialog dengan agama dan kepercayaan dan dalam pergumulan dengan dan bersama orang-orang yang dipinggirkan dan diabaikan. Tema Sinode III yang senada dengan tema SAGKI ini mengajak kita agar sebagai orang kristiani seluruh diri dan kehidupan kita hendaknya memancarkan citra Kristus yang penuh kasih, peduli, solider kepada semua orang, lebih-lebih yang miskin dan menderita. 
Gereja disadarkan pentingnya mewujudkan iman yang mendalam akan Kristus dalam tindakan-tindakan kemanusiaan dengan belajar dari Yesus yang berwajah lembut dan penuh empati bagi siapa saja tanpa membeda-bedakan.
Sehubungan dengan tugas luhur panggilan yang kita emban, hendaknya kita senantiasa peka terhadap situasi yang terjadi di lingkungan hidup harian kita. Kita dipanggil untuk bersikap terbuka (inklusif) mengembangkan kerja sama dengan semua orang yang berkehendak baik yang berasal dari pelbagai agama dan kepercayaan melalui  dialog karya dan dialog kehidupan dan aksi-aksi kemanusiaan demi terwujudnya situasi yang damai dan sejahtera. Melalui kebajikan serta cinta yang terpancar dari belaskasihNya kita menjadi saudara bagi setiap orang serta agen pembaharuan (transformatif) dari situasi yang cenderung larut dalam tindak kekerasan, kejahatan dan ketidakadilan. 
Selaku Pimpinan Gereja Lokal Keuskupan Denpasar, saya mengucapkan selamat mempersiapkan Sinode III, semoga melalui tema yang diusung dalam Sinode III, kita mampu memancarkan wajah Yesus melalui Gereja yang inklusif dan transformatif. Marilah kita berdoa serta menyatukan hati dan bergandeng tangan mensukseskan Sindode III Keuskupan Denpasar demi pertumbuhan Gereja Keuskupan Denpasar.  Tuhan memberkati kita.

No comments:

Post a Comment