Thursday, February 12, 2015

Paroki St. Yoseph Denpasar



Paroki St. Yoseph Denpasar menjadi paroki sejak tahun 1935 dan buku permandian sejak tahun 1946. Saat ini wilayahnya mencakup Kecamatan Denpasar Barat dengan desa/kelurahan; Pemecutan Kaja, Padang Sambian, Ubung Kaja, Peguyangan Kaja dan Peguyangan Kangin sedangkan Denpasar Timur mencakup desa/kelurahan; Tonja, Penatih, Penatih Kangin Puri, Kesiman, Kesiman Petilan, Kesiman Kertalangu, Sumerta, Sumerta Kaja, Sumerta Kauh, Sumerta Klod, Danging Puri Kauh, Dangin Puri Kangin.Sejak tahun 1976 Paroki St. Yoseph Denpasar digembalakan oleh P.Servatius Subhaga,SVD.
Paroki St. Yoseph Denpasar menjalankan misi Gereja Universal dan Gereja Lokal berupa pendidikan iman dan moral umat sebagaimana diamanatkan oleh Yesus Kristus sendiri. Gereja katolik St. Yoseph Denpasar merupakan wahana tempat dilangsungkan pembinaan umat dalam bidang iman dan moral. Umat yang juga adalah warga Negara Indonesia ingin melaksanakan pelayanannya secara efektif.
Kongregasi/biara yang berkarya di wilayah Paroki St. Yoseph Denpasar adalah suster-suster CB dan suster-suster OSF. Sedangkan kelompok kategorial adalah sekolah minggu, PD Kharismatik St. Yoseph, Paduan suara Gamaliel, Rukun Ibu Paroki, Mudika, Putra-Putri Altar.

Mgr. H.Leven,SVD Uskup Sunda Kecil yang berdomisili di Ende Flores menugasi Pastor Johanes Kersten,SVD melayani umat katolik yang ada di Bali dan untuk itu pada tanggal 11 September 1935 Pastor Johanes Kersten,SVD tiba di Bali. Lalu menyewa sebuah gudang di Jalan kepundung 2 sebagai kapela untuk pelayanan mula-mula untuk para serdadu KNIL dan kemudian juga terhadap umat.

Sekarang tempat itu dikenal sebagai Gereja Katolik St. Yoseph, Jalan Kepundung. Karena pastor Kersten sakit maka tahun 1936 diganti oleh Pastor Simon Buis,SVD. Beliau membeli tanah kapela seharga 150 gulden dari pemiliknya yang bernama I Made Reguh.
Pada awalnya wilayah paroki St. Yoseph meliputi Kabupaten Badung, Kotif Denpasar yang kemudian menjadi Kotamadya dan sekarang Kota Denpasar. Juga melayani stasi Tuban, Tanjung Benoa, Nusa Dua, umat diaspora Kabupaten Gianyar, Bangli, Karangasem dan Klungkung. Uskup Denpasar Mgr. A Tjijsen,SVD pada tahun 1977 meminta kepada P.Servatius Subhaga,SVD agar di wilayah-wilayah diaspora mempunyai tempat ibadah dan melayani misa dari rumah ke rumah.
Umat diaspora makin bertambah maka status berubah menjadi stasi, meningkat menjadi quasi paroki dan menjadi paroki dan saat ini dilayani oleh pastor. Di Gianyar mulai tahun 1978, Amlapura mulai tahun 1984, Klungkung mulai tahun 1985. Paroki St. Yoseph pun dimekarkan menjadi Paroki St. Fransiskus Xaverius Kuta (1983), Paroki St. Petrus Monang Maning (1995), Paroki Roh Kudus Katedral (1998).
Gereja di Jalan Kepundung pada saat ini sudah tidak bisa menampung umatnya. Karena itu dibangun di lokasi LC Ubung “Griya Bhakti Pastoral (Pastoral Care) Paroki ST. Yoseph Denpasar”. Di kompleks ini dibangun bangunan pastoral sebagai sentrum pembinaan keluarga, sentrum sekolah alkitab, sekolah doa. Juga dibangun bangunan untuk pembinaan iman umt yakni Gereja.
Secara berturut-turut Paroki St. Yoseph Denpasar pernah dilayani oleh P. Johanes Kerstens (1935-1936), P. Simon Buis,SVD (1936-1946), P. H. de Beer,SVD (1947-1948), P. Bernadus Blanken,SVD (1948-1949, 1970-1971), P. J.Heijne,SVD (1949-1970), P. Herman Embuiru,SVD (1949-1970), P. Paulus Boli Lamak,SVD (1971-1976), dan sejak 24 Mei 1976 sampai sekarang dipimpin oleh P.Servasius Subhaga,SVD. Alamat yang dapat dihubungi: Jalan Kepundung No.2 Telpon: 0361- 222729, 7463787. (Ditulis kembali oleh Agust G Thuru berdasarkan laporan Paroki St. Yoseph Denpasar)

No comments:

Post a Comment