Saturday, February 7, 2015

SAMBUTAN USKUP DENPASAR


Mgr. DR. Silvester San

 
Kita patut beryukur kepada Allah atas berkat-Nya yang telah menyertai perjalanan Sinode III dari awal hingga akhir. Selama empat hari para agen pastoral dari seluruh wilayah Gereja Lokal Keuskupan Denpasar (Bali-NTB) mengikuti Sinode III yang mengusung tema “Memancarkan Wajah Kristus Melalui Gereja yang Inklusif dan Transformatif”. Tema yang diangkat sangat relevan dengan situasi dan kondisi umat Katolik Keuskupan Denpasar yang hidup di tengah keanekaragaman agama, suku, ras, budaya, status sosial, status pendidikan dll. Demikian pula dengan  Gereja Katolik  yang dari waktu  ke waktu diharapkan mampu memiliki daya ubah ke arah yang lebih baik (transformatif) serta bersifat terbuka (inklusif) bagi siapa saja. Hal ini senada dengan Yesus yang semasa hidup dan karyanya berjuang  untuk kesejahteraan semua orang tanpa mengkotak-kotakkan. 
Selama proses Sinode, pesertadengan tekun dan setia bergumul dengan wajah Gereja lokal kita yang berjuang untuk memancarkan wajah Kristus ke tengah dunia. Selama pergumulan itu di satu pihak ada suasana tegang, ada perasaan tidak puas karena pendapatnya kurang diakomodir, tetapi di pihak lain ada suasana kegembiraan dan sukacita karena bisa bertemu dengan sesama agen pastoral dari berbagai wilayah. Semua pergumulan itu dimaknai secara positif sebagai bagian dari kesungguhan para peserta  untuk memperoleh hasil Sinode yang berkualitas dan mampu menjawabi harapan dan kebutuhan umat.

Penelitian Menghantar Penemuan Wajah Riil Keuskupan Denpasar
Kita menyadari bahwa Sinode III Keuskupan Denpasar ini dilaksanakan melalui suatu proses yang baik; ada penelitian yang menghasilkan wajah riil Gereja paroki, Gereja quasi paroki dan Gereja stasi kita masing-masing; lalu ada Pra Sinode tingkat Dekenat yang menghasilkan wajah Gereja level Dekenat, dan akhirnya kita bersinode di tingkat Keuskupan yang menghantar kita pada penemuan akan gambaran wajah Gereja Katolik Keuskupan Denpasar yang konkrit yakni:
Keuskupan Denpasar menghadapi kenyataan keanekaragaman dan minoritas.  Berdasarkan kenyataan ini kita perlu membangun Gereja yang terbuka (inklusif) dan kehadiran Gereja hendaknya mampu membawa perubahan ke arah yang lebih baik (transformatif) dan bukan larut dengan situasi yang ada.
Keuskupan Denpasar juga menghadapi kenyataan, bahwa masih ada umat yang hidup di bawah garis kemiskinan. Kenyataan ini hendaknya mendorong kita untuk membangun solidaritas antara si kaya dan simiskin dan juga program-program pemberdayaan untuk mengentaskan mereka dari kemiskinannya. Tidak mudah memang tetapi kita harus berjuang.
Keuskupan Denpasar menghadapi kenyataan bahwa KBG yang sejak tahun 2001 dicanangkan sebagai kendaraan berpastoral, hingga saat ini belum dipahami dengan baik dan benar oleh semua paroki. Tetapi ada juga berita yang menggembirakan karena ada paroki yang sudah memahami dengan baik dan benar sehingga KBG itu mampu menjalankan fungsinya dengan baik. Maka perlu kembali diadakan sosialisai tentang KBG,  khususnya bagi paroki-paroki yang belum memiliki KBG atau sudah memiliki, tetapi belum berfungsi dengan baik dan benar.
Hasil penelitian di tiga Dekenat menunjukkan bahwa Sekolah Katolik dikeluhkan oleh sebagian umat Katolik karena biayanya yang mahal, sehingga banyak anak Katolik tidak dapat mengenyam pendidikan di sekolah Katolik. Hasil penelitian ini kiranya menjadi masukan berharga bagi sekolah Katolik untuk kembali pada misinya, yang salah satunya berpihak kepada kaum miskin. Tidak dipungkiri bahwa operasional pendidikan memang mahal, tetapi untuk anak-anak Katolik yang kurang mampu tetapi ingin masuk di sekolah Katolik bisa dicarikan jalan keluar dengan bijaksana. Dengan demikian Sekolah Katolik juga menjadi komunitas yang memancarkan wajah Yesus yang penuh belas kasih kepada setiap orang khususnya bagi mereka yang kurang mampu.


Buah Sinode III: Visi, Misi dan Arah Karya Pastoral Periode 2012-2016
Penemuan wajah Gereja yang konkrit menjadi pijakan kita dalam merumuskan visi dan misi serta arah dasar dan program pastoral Keuskupan Denpasar lima tahun ke depan. Setelah melalui pergumulan yang melelahkan akhirnya kita dapat merumuskan Visi dasar Keuskupan Denpasar periode 2012-2016, yakni “Keuskupan Denpasar sebagai persekutuan umat beriman Kristen Katolik yang berkualitas, dialogis dan berdaya-ubah untuk memancarkan wajah Kristus di tengah dunia”. Visi dasar ini dijabarkan dalam 11 butir misi (bisa dilihat dalam sajian utama Agape edisi ini  yang berjudul Hasil Sinode III Keuskupan Denpasar) serta menetapkan arah karya pastoral selama lima tahun ke depan dengan rumusan: “Menuju Gereja yang Terlibat dan Berdaya Ubah”.
Saya berharap agar hasil Sinode ini dapat kita follow up secara bersama-sama dan terpadu. Dengan kata lain amanat Sinode III ini menjadi tanggungjawab kita bersama, bukan hanya di pundak Uskup maupun para imam saja, melainkan tanggung jawab seluruh agen pastoral mulai dari tingkat Basis hingga Keuskupan. Saya mengharapkan juga agar seluruh peserta sinode memiliki komitmen, kesediaan berkurban dan ocal diri untuk mengimplementasikan amanat Sinode III di Paroki/Stasinya masing-masing. Semoga buah-buah Sinode ini  menjadi gerakan pastoral kita dalam tindakan nyata.
Selaku Pimpinan Gereja ocal Keuskupan Denpasar, saya memberikan apresiasi yang tinggi kepada Ketua Panitia Rm. Herman Yoseph Babey Pr dan seluruh panitia yang telah bekerja keras untuk menyukseskan Sinode III ini mulai dari awal hingga akhir. Semoga kerja keras ini menghantar umat menjadi persekutuan umat beriman Kristen Katolik yang berkualitas, dialogis, terlibat dan berdaya ubah, sehingga mampu memancarkan wajah Yesus di manapun mereka berada.
Melalui media ini saya mengucapkan limpah terima kasih kepada para Narasumber: Rm. Raymundus Sudhiarsa, SVDdan Rm. Johanes Wayan Mariantha, SVD yang telah membantu penelitian dan memberikan paparan materi serta buah-buah pikirannya sebagai bahan masukan bagi karya-karya pastoral yang dibangun oleh Keuskupan Denpasar.
Limpah terima kasih juga saya tujukan kepada Pastor paroki, DPP, dan umat Paroki Kuta yang telah  menyiapkan tempat ini bagi berlangsungnya Sinode III. Tentu selama ocal berlangsung, ada banyak hal yang menganggu dan merepotkan. Semoga amanat sinode yang lahir dari tempat ini dapat membawa manfaat bagi kehidupan umat di Keuskupan ini.
Terima kasih juga saya tujukan kepada para ocal serta siapa saja yang dengan caranya masing-masing telah mengambil bagian dalam menyukseskan seluruh rangkaian kegiatan Sinode III. Semoga Tuhan mengganjari pengurbanan kalian dengan berkat surgawi dan duniawi.
Terima kasih saya tujukan kepada seluruh peserta Sinode III yang dengan tekun dan setia mengikuti seluruh rangkaian acara Sinode III. Berkat sumbangan pemikiran kita semua, Sinode ini mampu  menggariskan rumusan Visi Misi serta Arah Karya Pastoral seperti yang kita cita-citakan bersama.
Terima kasih saya tujukan kepada seluruh umat yang selama satu tahun penuh mendaraskan doa menyongsong Sinode III di Paroki/Stasi masing-masing.  Gerakan doa yang digemakan dengan rutin ini membuka pintu bagi jalannya tahapan-tahapan Sinode yang telah digariskan. Doa menjelang Sinode III juga menjadi roh dan spirit gerakan menyukseskan Sinode III. Sebab kita sadari bahwa segala upaya manusia tanpa disertai dengan doa, hasilnya sia-sia belaka. Kiranya umat juga terus berdoa agar kita dimampukan untuk mengimplementasikan hasil-hasil Sinode III dengan baik.
Marilah kita bergandengan tangan menyatukan hati dan pikiran, untuk menjalankan amanat Sinode III dengan tekun dan setia. Semoga kita mampu memancarkan wajah Kristus di Keuskupan ini melalui program-program pastoral yang akan kita laksanakan lima tahun ke depan. Semoga Tuhan menyertai dan memberkati seluruh perjuangan hidup kita dari waktu ke waktu.

Salam dan berkatku 
Mgr. Silvester San

No comments:

Post a Comment