Saturday, February 7, 2015

SERBA SERBI SINODE III


 Sinode Ini Mahal, Manfaatkan Dengan  Sungguh

Setelah Sinode I tahun 2000 dan II tahun 2006 kini saatnya  umat Keuskupan Denpasar bersama dengan Uskup sebagai pimpinan  Gereja Lokal  Keuskupan Denpasar menyelenggarakan Sinode III. Sinode  ini  mahal, karena itu harus dimanfaatkan sebaik mungkin, untuk menghasilkan buah-buah yang menyuburkan iman umat  dalam lima tahun ke depan.
Sekali lagi, Sinode ini mahal, baik dari aspek waktu, tenaga dan dana. Para peserta Sinode III telah rela membagi waktu beberapa hari, meninggalkan pekerjaan, meninggalkan kepentingan pribadi untuk pergi ke basement  gereja  St. Fransiskus Xaverius Kuta ini. Itu tidak gratis, karena untuk sampai di sini, tentu harus menguras tenaga, menempuh perjalanan yang sering dihadang oleh sejumlah tantangan.
Sinode ini mahal, karena selama lima hari seluruh pikiran dicurahkan  untuk mengikuti seluruh rangkaian acara sinode ini. Para peserta harus membayar mahal dengan  mengurangi waktu untuk bersenang-senang dengan keluarga, dengan teman atau dengan siapa saja. Anda ada di sini untuk  mencurahkan seluruh kemampuan untuk bersama-sama berpikir, berdiskusi dan merumuskan serta menetapkan Visi, Misi dan Arah Dasar Karya Pastoral Keuskupan Denpasar, lengkap dengan program strategis karya pastoral untuk lima tahun mendatang, 2012 – 2016.
Sinode ini mahal, karena untuk menyelenggarakan sebuah sinode  diperlukan dana ratusan juta. Bahkan, peserta yang mengikutisinode ini, mulai dari Paroki Bima dan Donggo di ujung Timur Sumbawa  hingga  Paroki Negara dan Palasari di ujung Barat Bali juga perlu dana, tidak gratis untuk sampai di tempat sinode ini.
Sinode ini mahal, maka harus dimanfaatkan sebaik mungkin. Adalah  tindakan yang cerdas jika selama di ruang rapat mematikan seluruh alat komunikasi, sebab dering  handphone bisa menjadi pengganggu keseriusan  rapat. Sebaiknya tidak meninggalkan ruang rapat hanya untuk bertemu dengan  tamu atau handaitaulan yang ingin sekedar kangen-kangenan. Sebaiknya  tidak mengikuti sinode ini dengan setengah hati, setengah badan, setengah kemauan, setengah hasrat, tetapi  dengan  seluruh tubuh dan jiwa.
Singkatnya, marilah kita manfaatkan Sinode ini  untuk  menghasilkan  reksa pastoral  yang semakin  membawa Gereja ke tengah tata dunia, sehingga Gereja semakin inklusif dan semakin transformatif. Selamat  Bersinode.*GUS  

Selamat Datang di Kuta
Akhirnya kita sampai juga pada puncak kegiatan kita yakni Sinode III. Selama satu tahun, dengan melewati berbagai tahapan menuju Sinode III, hari ini kita akan memulai pelaksanaan sidang raya kita hingga 25 November nanti. Para peserta sinode,khususnya dari daratan Sumbawa, Minggu (20/11) kemarin sudah tiba di arena penyelenggaraan Sinode III ini.
Hari ini dipastikan seluruh peserta akan tiba di Paroki St. Fransiskus Xaverius Kuta, tempat dimana dalam hari-hari ini kita akan bersidang. Panitia Pelaksana Sinode III, melalui JURNAL S3KD menyampaikan “SELAMAT DATANG” di Kuta, Bali, kepada seluruh peserta, narasumber maupun para tamu undangan dalam pembukaan Sinode III hari ini.
Perlu diinformasikan bahwa berdasarkan catatan panitia, sampai Minggu kemarin jumlah peserta yang namanya sudah masuk sekretariat panitia ada 173 orang. Dari jumlah ini sangat disayangkan, perimbangan jumlah perempuan dan laki-laki sangat tidak berimbang. Tercatat hanya ada 31 perempuan, itupun sudah termasuk kaum biarawati. Sisanya adalah peserta pria yang mencapai 142 orang. Peserta Sinode III antara lain Bapa Uskup beserta seluruh Kuria Keuskupan, Dewan Pastoral Keuskupan dan Komisi-Komisi Puspas, Dewan Keuangan Keuskupan, utusan paroki/stasi se-Keuskupan Denpasar, utusan kongregasi, utusan kelompok kategorial, utusan yayasan-yayasan Katolik. Juga sebagai peserta adalah Provinsial SVD Jawa, Rm. Felix Kadek Sunartha, SVD.
Kendatipun kondisinya demikian, tentu para peserta yang diutus ini adalah para agen pastoral yang handal di paroki/stasi atau komunitas masing-masing. Anda pastilah orang-orang pilihan yang sangat memahami kondisi di paroki/stasi atau komunitas dengan segala kekurangan dan kelebihan, termasuk perkembangan karya pastoral yang terjadi. Kita juga patut mengapresiasi seluruh peserta maupun panitia yang mau mengorbankan waktu, tenaga dan pikirannya untuk selama sekitar sepekan ada di tempat ini.
Di atas semua itu, tentu saja yang ditunggu-tunggu adalah buah dari sidang raya ini, antara lain lahirnya Visi, Misi dan Arah Dasar Karya Pastoral Keuskupan Denpasar, lengkap dengan program strategis karya pastoral untuk lima tahun mendatang, 2012–2016. Penampilan “Wajah Kristus” di bumi Bali dan NTB melalui GerejaNya, apakah mampu memancarkan “Wajah” yang ramah dan berseri (inklusif) dengan masyarakat sekitar, apakah bisa hadir sebagai kekuatan yang berdaya ubah (transformatif) dalam lima tahun ke depan, semuanya tergantung dari 173 orang, yang tentunya sudah siap memberikan yang terbaik untuk Gereja Katolik Keuskupan Denpasar melalui forum umat ini. Selamat Bersidang! HA

Selamat Datang Bapak Gubernur
Terimakasih Bapak Dirjen Bimas Katolik
Sore ini Senin 21 November 2011 Bapak Gubernur Provinsi Bali  I Made Mangku Pastika dijadwalkan akan membuka kegiatan Sidang Raya Sinode III Keuskupan Denpasar. Bapak Gubernur bersama pejabat terkait akan tiba di Gereja FX Kuta pukul 18.00 Wita.
Kehadiran Bapak Gubernur memberikan sambutan sekaligus membuka Sidang Raya Sinode III Keuskupan Denpasar merupakan kegembiraan bagi  umat Keuskupann Denpasar. Bapa Uskup, para imam, bruder dan suster serta  seluruh umat di Keuskupan Denpasar mengucapkan selamat datang. Terimakasih disampaikan pula kepada yang terhormat Bapak Dirjen Bimas Katolik Kementerian Agama Republik Indonesia yang berkenan hadir pada kesempatan istimewa ini.
Pada kesempatan yang penuh berkah ini, diinformasikan selayang pandang profil Keuskupan Denpasar. Tanggal 10 Juli 1950 Tahta Suci Vatikan  menetapkan wilayah Bali dan Lombok menjadi Prefektur Apostolik Denpasar dan mennunjuk Mgr.Hubertus Hermens,SVD sebagai Prefektur Apostolik. Tanggal 3 Januari 1961 Tahta Suci Vatikan meningkatkan status Prefektur Apostolik Denpasar menjadi Keuskupan Denpasar dan menunjuk Mgr.DR. Paulus Sani Kleden,SVD sebagai Uskup.
Tanggal 12 Januari 1973 Mgr. Antonius Tijsen, SVD ditunjuk menjadi  Uskup Denpasar menggantikan Mgr.Paulus Sani,SVD yang wafat  tanggal 28 November 1971 di Jakarta. Tanggal 13 Januari 1981 Mgr. Vitalis Djebarus,SVD dilantik menjadi Uskup Keuskupan Denpasar menggantikan Mgr.Anton Tijsen,SVD yang mengundurkan diri karena kesehatan (meninggal setahun kemudian 7 Juni 1982 di RKZ Surabaya).Di masa kepemimpinan Uskup Vitalis Djebarus wilayah Gereja di Pulau Sumbawa yang sebelumnya adalah wilayah Keuskupan Weetebula, bergabung dengan Keuskupan Denpasar.
Tanggal 18 April 2000 Paus Johanes Paulus II mengangkat Pastor DR. Benyamin Yoseph Bria,Pr menjadi Uskup Keuskupan Denpasar  menggantikan Mgr. Vitalis Djebarus,SVD yang wafat pada 22 September 1998. Dan  sejak tanggal 19 Februari  2009 Keuskupan Denpasar  dipimpin oleh  Mgr.DR. Silvester San,Pr. Beliau menggantikan Mgr. DR. Benyamin Yosef  Bria,Pr yang wafat di Rumah Sakit Elisabeth Singapura 18 September 2007.
Wilayah Gerejawi  Keuskupan Denpasar  mencakup  Pulau Bali, Lombok dan Sumbawa. Wilayah Keuskupan Denpasar dibagi menjadi 3 Dekenat yakni Dekenat Bali Barat mencakup wilayah Paroki Palasari, Paroki Negara, Paroki Singaraja dan Paroki Tabanan  dengan  deken  Romo Marsel Gede Myarsa,Pr. Dekenat Bali Timur  mencakup  wilayah Paroki  Tangeb, Paroki Tuka, Paroki Babakan, Paroki Kulibul, Paroki Kepundung, Paroki Katedral, Paroki St. Petrus Monang-Maning, Paroki Kuta, Paroki Nusa Dua, Paroki Gianyar, Stasi Klungkung dan Stasi Karangasem. Deken dipercayakan kepada Romo Kristianus Ratu,SVD.  Dekenat  NTB  mencakup  wilayah Paroki Ampenan, Paroki Mataram, Paroki Praya, Paroki Sumbawa Besar, Paroki Dompu, Paroki Bima dan Paroki Donggo  dengan  deken  Romo Ignasius Gede Adiatmika,Pr.

Rapat Koordinator Panitia Sinode Keuskupan Denpasar
Rapat Koordinasi terakhir, Minggu sore 20 November 2011 berlangsung di ‘ruang rapat’ Sinode III. Rapat dibuka dengan doa oleh  Lorens Soge. Rapat dipimpin oleh Ketua Umum Panitia Sinode Romo Herman Yoseph Babey,Pr. Rapat ini dimaksudkan untuk melakukan koordinasi terakhir kesiapan pelaksanaan Sinode III Keuskupan Denpasar. Romo Babey tegaskan, semua persiapan liturgi harus sudah beres sehingga pada saat penyelenggaraan Misa Pembukaan (sore ini, Senin 21 November) tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Informasi dari Seksi Liturgi, semua persiapan sudah beres, tinggal pelaksanaannya saja. Romo Babey pesan, anggota koor harus sudah ada di Gereja Kuta setengah jam sebelum misa, supaya jangan sampai misa ditunda karena menunggu anggota koor.
Untuk seksi sekretariat, hal-hal yang harus diperhatikan adalah, jika ada peserta  sinode yang hanya mengikuti kegiatan satu atau dua hari saja, secara tegas supaya ditolak, bila perlu suruh dia pulang saja. Agar ada penegasan, bagi peserta yang tidak menginap di penginapan yang disediakan oleh panitia, karena hal ini menyangkut akomodasi. Namun peserta yang tidak menginap  jam 06.00 pagi harus sudah hadir di arena sinode karena proses Sidang Sinode III mulai dari syering Kitab Suci pada pukul 06.00 pagi sampai dengan  selesai.
Tentang akomodasi, para peserta akan menginap di beberapa tempat penginapan yakni di Hotel Maria, Bethania, Susteran Maria Berduka Cita, Susteran Katekis Maria Imaculata. Seksi transportasi, menyatakan siap  melaksanakan antar jemput. Jadi peserta  tidak usah bingung karena akan ada yang menjemput dan mengantar.Namun perlu diketahui, seksi transportasi tidak melayani  antar jemput peserta  untuk urusan-urusan pribadi.
Seksi Keamanan, agar benar-benar memperhatikan aspek keamanan lingkungan serta keamanan peserta sinode. Pengamanan  dilakukan  di lokasi  sinode, yakni di pintu belakang dan depan Gereja FX Kuta, pengamanan di  Keuskupan Jalan Tukad Balian, pengamanan di tempat penginapan para peserta. Kedatangan Bapak Gubernur dan rombongan agar perlu pengamanan, namun harus diciptakan suasana yang menawan.

Panitia Pelaksana Audiensi dengan Bapa Uskup
Sempat Minta Foto Bersama
     “Segala persiapan panitia sudah beres dan sudah siap melaksanakan Sinode.” Demikian kurang lebih dilaporkan Ketua Umum Panitia Sinode III keuskupan Denpasar Rm. Herman Yoseph Babey,Pr saat panitia pelaksana melakukan audiensi dengan Bapa Uskup Denpasar, Mgr. DR. Silvester San, Sabtu (19/11) lalu, di ruang tamu lantai II Kantor Keuskupan Denpasar, jalan Tukad Balian Denpasar.
     Laporan kepada Bapa Uskup ini penting, sebab selama dua pekan sejak 4 – 17 November lalu Bapa Uskup berada di Jakarta menghadiri sidang tahunan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI). 
     Atas laporan tersebut, Bapa Uskup pun menyampaikan terima kasih dan bergembira karena Panitia sudah menyiapkan pelaksanaan Sinode III ini dengan baik. “Ya, saya tahu kerja panitia sudah baik, saya yakin pelaksanaan sinode ini dapat berjalan dengan baik juga,” harap Bapa Uskup.
     Seusai audiensi itu, sebagian panitia yang dipimpin Ketua Umum langsung menuju Paroki Kuta untuk menyiapkan segala sesuatu menjelang pelaksanaan Sinode III.  Namun, sebelum berangkat, Ketua Umum mohon doa dan berkat lebih dulu dari Bapa Uskup.
     Setelah doa dan berkat dari Bapa Uskup dan kaki hendak melangkah keluar ruangan, beberapa ibu Panitia minta Bapa Uskup untuk foto bersama dulu. Komplit deh, dapat pujian, doa, berkat, foto bersama lagi... HA

Sore Ini Sinode III Rencananya Dibuka Gubernur Bali
     Rencananya Sinode III Keuskupan Denpasar akan dibuka Gubernur Bali, Made Mangku Pastika. Konfirmasi terakhir saat rapat pleno panitia pelaksana Sinode III di lantai IV pastoran Kuta, minggu lalu, koordinator Seksi Humas Yusdi Diaz, melaporkan bahwa besar kemungkinan Gubernur Bali sendiri yang hadir dan membuka secara resmi Sinode III Keuskupan Denpasar.
     Dalam pembukaan nanti, diperkirakan akan dihadiri sekitar 500 orang undangan, termasuk peserta dan panitia. Hadir pula dalam pembukaan nanti Direktur Bidang Agama Ditjen Bimas Katolik Kementerian Agama RI. Warta terakhir dua hari lalu, Dirjen Bimas Katolik Bapak Anton Semara Duran yang semula dipastikan hadir, ternyata mendisposisikan kepada Direktur Bidang Agama, sebab Dirjen sendiri saat bersamaan ada tugas lain yang tidak dapat ditinggalkan.
     Selain dari unsur  Pemerintah, dalam pembukaan nanti akan dihadiri oleh tokoh-tokoh lintas agama dan tokoh masyarakat lainnya. Diundang juga perwakilan umat dari seluruh paroki/stasi di Bali serta para anggota komunitas ordo/kongregasi se-Bali selain peserta yang menjadi utusan paroki/stasi.
     Acara pembukaan nanti bakal diramaikan oleh tetabuhan gamelan Bali persembahan paroki St. Paulus Kulibul, lengkap dengan penarinya.
     Sebelum acara pembukaan yang rencananya dimulai pukul 18.00 wita, akan diadakan misa pembukaan secara konselebrasi yang dipimpin langsung Bapa Uskup, dan didampingi oleh seluruh imam di Keuskupan Denpasar. Paduan suara Paroki Katedral Roh Kudus Denpasar akan memeriahkan misa pembukaan nanti. Misa dimulai pukul 16.30 wita di Gereja St. Fransiskus Xaverius Kuta. HA 


Ada Tikus Kecil Lewat, Sound System Lancar
Om Stef Agung lumayan terlelap di tengah riuh rendah sidang sinode hari ketiga kemarin. Walau hanya sebentar, namun cukup memberi efek segar bagi “pimpinan” Seksi Sound System ini. Setelah tersadar dari lelapan beberapa menit itu, Om Stef yang setia ditemani Pak Pri dan Yulius, kembali mengutak-atik di depan peralatannya.
Ketika Jurnal ini menanyakan, apakah dalam tiga hari sinode berlalu ada masalah dengan sound system, dengan gembira Om Stef mengatakan, “Semua aman, tidak ada masalah.” Namun menurut Om Stef, dia sempat kwatir ada tikus kecil yang lewat dekat meja notulensi di sisi timur. “Saya lihat ada tikus kecil lewat, tetapi sudah pergi,” katanya. Om Stef pantas kuatir, kalau kabelnya dimakan tikus, pasti sidang  terganggu. Untung, tikusnya kecil ya Om.HA***

Pasien Seksi Kesehatan Lebih dari 40 Orang
“Sidang Tegang, Banyak Tensi Naik”
Selama tiga hari sinode, ternyata Seksi Kesehatan yang menempati Klinik Gereja St. Fransiskus Xaverius Kuta, ramai dikunjungi ‘pasien’ baik dari peserta maupun panitia. Petang kemarin, saat Jurnal Sinode III memantau situasi di klinik itu, kebetulan sedang tidak ada pasien yang berkunjung. Maklum, kala itu peserta sudah pada masuk ruangan mengikuti sidangpleno.
Namun, petugas Seksi  Kesehatan yang ditemui, termasuk dr. Setyawati, Koordinator Seksi Kesehatan, menceritakan kalau yang datang ke klinik lumayan banyak. Sejak sinode dibuka pada 21 November hingga sore kemarin sudah 46 orang yang mengunjungi kilnik kesehatan yang terletak di pojok barat ruang sidang ini. 
“Sakitnya apa saja Bu?”tanya Jurnal Sinode III. Dr. Setyawati, Koordinator Seksi Kesehatan spontan menjawab, “Mungkin karena suasana sidang tegang banyak yang tensinya naik.” Selain pusing karena tekanan darah, kebanyakan ‘langganan’ klinik beberapa hari ini karena capek dan sakit perut. Ya, semoga saja semua akan sehat-sehat ketika nanti pulang ke rumah masing-masing, seusai Sinode ini. HA***

HP Hilang
Salah seorang peserta Sinode III, ibu Erna Sandi mengalami nasib apes kemarin. Dua buah HP miliknya hilang di sekitar meja makan di depan gereja ketika hendak sarapan pagi kemarin. Ceritanya kedua benda berharga tersebut diletakkan ibu Erna di atas salah satu meja saat dia hendak mengambil makanan. Kendati demikian, ibu Erna tak mau terlalu larut dalam kesedihan. Terbukti, ibu Erna “tidak mati gaya” saat hendak difoto di sela-sela makan siang kemarin. Kepada peserta lain, supaya hati-hati saja meninggalkan barang berharga terutama ketika sedang berada di luar ruang sidang. Dan siapapun yang mengambil HP tersebut, segeralah bertobat, ingat Kerajaan Allah sudah dekat! HA***

Bertanya, Malah Tanya Balik. Itulah Orang Indonesia
Sadar atau tidak, orang Indonesia itu sukanya bertanya balik kepada orang yang bertanya. Mau bukti? Simak cerita ringan di ruang yang terletak di pojok timur ruang sidang sinode ini. Pemilik cerita ini adalah salah satu anggota SC, Rm. Pungky Setiawan, SVD. “Orang Indonesia itu suka bertanya balik,” Rm. Pungky memulai cerita. Lantas, Rm. Pungky memberi contoh. “Kalau ada yang bertanya, misalnya, gereja Kuta itu di mana ya? Bukannya langsung menjawab di mana alamat  Gereja Kuta, tetapi malah ditanya balik, Anda siapa, dari mana, keperluan apa, dst... dstnya...,” katanya. Apa karena itu menyebabkan bangsa kita tidak maju-maju ya???! HA*** 

Diskusi I, Musik Tak Bisa Bunyi
Ini  cerita dari Seksi Acara, yang salah satu acaranya adalah menghibur para peserta dengan memutar musik atau lagu-lagu yang menyenangkan, terutama ketika peserta sedang istirahat. Namun kemarin karena kelompok diskusi yang berlokasi di sekitar ruang makan di depan gereja, diskusinya cukup alot, sehingga musikpun tidak bisa bunyi. “Ada juga peserta yang sedikit protes kepada kita, karena musik tidak bisa dibunyikan,” kata Pak Bambang, Koordinator Seksi Acara, seraya menambahkan, “Tapi tidak apa-apa, yang penting sidangberjalan baik dan menghasilkan yang terbaik juga bagi karya pastoral di Keuskupan kita.” Betul itu Pak Bambang. HA*** 

Di sana Sinode, di Sini Sinoda
Ada-ada saja kelakar dari kawan-kawan yang mengamankan jalannya Sinode III ini. Kemarin petang mereka berkumpul dan saling bercanda santai di dekat pintu masuk utama Gereja St. Fransiskus Xaverius Kuta ini. Ketika melihat Jurnal Sinode III ini lewat di sana, mereka minta difoto. “Foto kami dulu Pak Hiro,” pinta Pak Rico, anggota TNI kita yang gabung dalam Seksi Keamanan Sinode. Ketika ditanya, bagaimana dengan keamanan, mereka kompak menjawab, “Siap, situasi aman-aman saja.” Namun salah seorang di antara mereka nyeletuk, “Di sana sinode kita di sini sinoda.” Maksudnya Pak? “Ya, seperti mas lihat, kita juga duduk setengah melingkar, tapi kita sedang sinoda. Agendanya adalah melihat-lihat orang yang lalu lalang di depan jalan,” katanya sambil terbahak. Ada-ada saja.. HA***

Foto Bersama
Kendati sangat sibuk dengan berbagai urusan demi menyukseskan penyelenggaraan Sinode III ini, namun Ketua Umum Panitia Sinode III, yang juga Pastor Paroki Tabanan, Rm. Herman Y. Babey, Pr, tidak sedikitpun mengurangi perhatiannya pada utusan lain dari Paroki St. Maria Immaculata Tabanan. Kemarin, saat istirahat untuk makan siang, Rm. Babey memanggil semua delegasinya guna foto bersama di depan meja sidang dengan latar belakang spanduk Sinode III. Kebetulan di ruangan sidangmasih ada Bapa Uskup, maka kesempatan itupun tidak disia-siakan. Jadi deh, utusan dari Tabanan ini foto bersama Bapak Uskup. HA***

“Ini Teman Kelas Saya Saat Novisiat”
Bukan hanya Pater Provinsial SVD Jawa (lihat Jurnal kemarin) yang bertemu sahabat lama di arena Sinode III ini. Pendamping Ahli Sinode III, Rm. Marianta, SVD juga ternyata bertemu teman lama saat sama-sama di Novis SVD Malang beberapa tahun silam. Teman yang dimaksud adalah mas Bambang, umat paroki St. Yoseph Denpasar. “Ini teman kelas saya saat novisiat SVD di Malang,” kata Rm. Marianta, memperkenalkan sahabatnya yang kebetulan juga kenal baik dengan Redaktur Jurnal Sinode III ini. Wah, banyak yang bertemu kawan lama rupanya.... HA***

Laporan Hari Pertama Sinode III
Perjalanan Persiapan  Sinode III Keuskupan Denpasar  selama satu tahun  akhirnya sampai juga  pada aksi nyatanya yakni penyelenggaraan Sinode III itu sendiri. Senin Sore 21 November 2011, rangkaian Sinode III yang direncanakan akan berlangsung selama  lima hari  diawali dengan Misa Kudus dan dibuka oleh pejabat Pemerintah.
Doa umat  yang didaraskan di paroki-paroki setiap hari Minggu selama satu tahun sejak November  2010 hingga Minggu  20 November 2011 tak sia-sia. Seluruh persiapan sinode  berjalan  sesuai dengan yang direncanakan. Senin siang, para peserta sinode  mulai berdatangan  di Gereja St. Fransiskus Xaverius Kuta, tempat dimana Sinode III berlangsung.
Dan sekitar jam 16.30 Wita Yang Mulia Bapak Uskup Denpasar Mgr.DR. Silvester san,Pr didampingi  Vikjen  Keuskupan Denpasar Romo Yoseph Casius Wora,SVD dan Ketua Umum Panitia Sinode III Romo Herman Yoseph Babey,Pr memimpin misa pembukaan bersama dengan para imam yang berkarya di Keuskupan  Denpasar dan peserta sinode.
Bapak Uskup dan para imam  diarak dari pastoran  Paroki St.Fransiskus Xaverius  dengan iringan  musik Bleganjur  dari  umat Paroki St. Paulus Kulibul. Misa  pembukaan semakin  hikhmat  oleh lagu-lagu yang dibawakan  anggota Paduan Suara Katedral.Misa berlangsung selama satu setengah jam.Usai misa pembukaan dilanjutkan dengan acara seremonial pembukaan  sinode oleh pejabat pemerintah, berlangsung di dalam Gereja  St. Fransiskus Xaverius Kuta. Acara pembukaan dengan pembawa acara Romo Flavianus Endi,Pr diawali dengan tarian ‘selamat datang’ yang dipersembahkan oleh gadis-gadis cilik  dari Paroki St. Paulus  Kulibul.
Selanjutnya, acara demi acara menandai kegiatan pembukaan itu yakni  sambutan Ketua Umum Panitia Sinode III  Romo Herman Yoseph Babey,Pr, sambutan Bapa Uskup Denpasar Mgr.DR. Silvester San,sambutan tertulis Dirjen Bimas Katolik Kementerian Agama RIyang dibacakan oleh  Sekretaris Dirjen Bimas Katolik FX Suharno dan sambutan tertulis Gubernur Bali  yang dibacakan oleh Kabiro Kesra Setda Provinsi Bali I Gusti Putu Yudi Arnawa,SH, sekaligus membuka Sinode III Keuskupan Denpasar ditandai dengan pemukulan gong.
Setelah makan malam, dilanjutkan dengan penyampaian alur kegiatan  selama lima hari oleh Ketua Umum Panitia Sinode serta perkenalan para peserta. Rangkaian kegiatan hari pertama sinode berakhir dengan nonton bareng pertandingan final sepak bola SEAG XXVI  antara  Indonesia melawan Malaysia yang berakhir dengan penalti dan dimenangkan oleh Malaysia  dengan skor 4-3. Ketua Umum Panitia Sinode III Romo Babey menghibur para peserta sinode katanya, “Jangan sedih, Indonesia kalah penalti, itu kalah terhormat.” Agust GT

Non Aver Paura
Non Aver Paura, jangan takut, inilah penegasan Bapak Uskup Denpasar Mgr. DR. Silvester San,dalam kotbahnya  pada misa pembukaan Sinode III, Senin  sore 21 November 2011 di Gereja St.FX Kuta. Bapa Uskup  mengutip pernyataan mendiang Paus Yohanes Paulus II, Non Aver Paura, jangan takut untuk memancarkan wajah Kristus  dimana saja kita berada.
Bapak Uskup  mengawali kotbah dengan  sebuah ilustrasi  bahwa  dewasa ini ada krisis tokoh model. Krisis tokoh model itu ditandai dengan banyak  tokoh yang tidak menunjukkan dirinya sebagai tokoh model, dimana  kata-kata  tidak sesuai dengan tindakannya. Seringkali apa yang  dikatakan tokoh, diucapkannya tidak sesuai dengan apa yang dilakukannya. Maka  muncul kebohongan, kemunafikan.
Bapak Uskup menegaskan bahwa Yesus Kristus adalah Tokoh Model. Ketika kita sulit menemukan tokoh model di masa kini maka kita  menemukan tokoh model dalam wajah Yesus Kristus. Apa yang dikatakanNya sesuai dengan apa yang diperbuatNya.Sebagai tokoh model Yesus memancarkan  wajah Allah di tengah dunia, memancarkan kebenaran kepada dunia.
Bapak Uskup tegaskan, Sinode III Keuskupan Denpasar mengajak kita semua  untuk memancarkan wajah Yesus Kristus di keuskupan ini di mana saja kita berada. Sinode III mengundang umat Katolik di Keuskupan Denpasar  yang hanyalah kawanan kecil diantara masyarakat Bali yang mayoritas Hindu dan masyarakat Nusa Tenggara Barat yang mayoritas Islam untuk jangan berkecil hati. Umat Katolik harus memancarkan wajah Kristus dimana saja berada. Meskipun harus berhadapan dengan tantangan karena harus  berhadapan dengan orang-orang yang mempunyai pandangan radikalis.
Bapak Uskup mengajak umat Katolik di Keuskupan Denpasar untuk tidak takut memancarkan wajah Kristus. Bapak Uskup minta agar umat Katolik di Keuskupan Denpasar  jangan takut untuk mewartakan kebenaran, jangan takut untuk memancarkan wajah Kristus dimana saja berada sehingga Gereja Keuskupan Denpasar  semakin  inklusif  dan transformatif. Agust GT

Romo Herman Yoseph Babey,Pr
Untuk Mencapai Bonum Commune

Dalam sambutan di depan BapakUskup Denpasar Mgr.DR. Silvester San, Sekretaris Dirjen Bimas Katolik Kementerian Agama RI FX Suharno, Kabiro Kesra Provinsi Bali, Pembimas Katolik Bali dan NTB serta pejabat pemerintah dan tokoh masyarakat, Ketua Umum Panitia Sinode III Keuskupan Denpasar  Romo Herman Yoseph Babey,Pr  mengatakan, sinode ini adalah kesempatan untuk merefleksikan keberadaan Gereja yang lebih terbuka dan berdaya ubah menuju  pada visi besar yakni tercapainya bonum commune, kesejahteraan umum.
Romo Babey sampaikan bahwa kehadiran para peserta yang didukung oleh kehadiran unsur Pemerintah, tokoh lintas agama dan undangan lainnya dalam acara pembukaan ini, memiliki makna strategis dalam segala karya pastoral Keuskupan Denpasar. Dalam peristiwa iman ini selaku Ketua Umum Panitia, Romo Babey pun melaporkan kerja kepanitiaan Sinode III yang setahun lalu menerima limpahan tanggung jawab dari Yang Mulia Bapak Uskup selaku pimpinan Gereja Lokal Keuskupan Denpasar. Romo Babey mengatakan, sebagai panitia pelaksana mereka telah berupaya sedemikian rupa dalam menyiapkan kegiatan ini dengan segala kekurangan dan kelebihannya demi suksesnya penyelenggaraan Sinode III Keuskupan Denpasar.
Romo Babey melaporkan tahapan Sinode III Keuskupan Denpasar yang mengusung tema: “Memancarkan Wajah Kristus melalui Gereja yang Inklusif dan Transformatif” dimulai dengan pelatihan fasilitator Focus Group Discussion (FGD) yang langsung difasilitasi oleh pendamping ahli Sinode III, yaitu putra Bali kelahiran Gumbrih Rm. Yohanes I Wayan Marianta, SVD, MA. Sejumlah agen pastoral dilatih menjadi fasilitator FGD guna mendapat evaluasi kritis sekaligus mengail segala masukan dan harapan umat mulai dari tingkat basis atas karya pastoral kita di Keuskupan Denpasar.
Setelah melewati tahap-tahap pengumpulan data, selanjutnya diselenggarakan Pra Sinode III di tingkat Dekenat. Mulai dari Dekenat NTB, kemudian Dekenat Bali Timur dan terakhir di Dekenat Bali Barat. Hasil Pra Sinode inilah yang nantinya akan kita godok lebih jauh lagi sambil mendengarkan masukan para nara sumber untuk beberapa bidang tertentu.Dilaporkan pula bahwa peserta atau delegasi Sinode III Keuskupan Denpasar terdiri dari Dewan Pastoral Keuskupan dan Dekenat, utusan Paroki/Stasi, Yayasan Pendidikan, Kesehatan, Kongregasi, unsur Pemerintah dan kelompok Kategorial. Data terakhir dari Seksi Sekretariat Panitia, peserta Sinode III berjumlah 173 orang, terdiri dari perempuan: 32 orang dan laki-laki 141 orang.
Romo Babey berharap agar segala proses yang terjadi di tempat ini selama beberapa hari ke depan tidak hanya berhenti pada rumusan-rumusan di atas kertas,tetapi biarlah buah-buah pertemuan ini sungguh-sungguh menjadi nyata, menjadi buah manis dengan menghadirkan Gereja yang memberi arti bagi umat dan masyarakat sekitar di manapun Gereja hadir. Agust GT***

Bapak Uskup Denpasar
Sinode  di Tengah  Umat

Bapak Uskup dalam sambutan saat pembukaan Sinode III Keuskupan Denpasar mengatakan pantas menghaturkan syukur kepada Tuhan, yang telah menyertai perjalanan karya pastoral yang dibangun sesuai hasil Sinode II 2006. Sinode II 2006 mengusung Visi Dasar, “Keuskupan Denpasar sebagai persekutuan umat beriman kristiani, berjuang mewujudkan Kerajaan Allah melalui Komunitas Basis Gerejawi yang Inklusif dan Transformatif.”
Bapak Uskup lebih lanjut mengatakan periode pastoral kurun waktu lima tahun dengan tema-tema yang berbeda setiap tahunnya ini telah dilalui bersama-sama dengan segala suka dan dukanya. Tahun 2011 adalah tahun terakhir dalam menjalankan amanat Sinode II yang mengusung tema: “Pendidikan nilai dalam Keluarga, Sekolah dan Kesetaraan Gender.” Dengan berakhirnya tema ini maka perlu rumusan arah karya pastoral serta visi,misi yang baru untuk periode pastoral lima tahun berikutnya.
Bapak Uskup tegaskan, sebagai pelanjut karya misi di wilayah Gereja Lokal Keuskupan Denpasar, dirinya terpanggil untuk menyelenggarakan Sinode III. Baginya tidak ada alasan untuk  meniadakan sinode, sebab dasar hukum sinode secara jelas diatur dalam Kitab Hukum Kanonik. Sinode  menjadi jaminan kesinambungan karya pastoral dari waktu ke waktu serta menjadi kesempatan untuk membaharui visi dasar Keuskupan agar karya pastoral yang dibangun senantiasa aktual dan sesuai zamannya.
Soal tempat penyelenggaraan sinode di Gereja FX Kuta dan bukan di hotel, Bapak Uskup mengatakan, selain umat sebagai narasumber utama dalam Sinode III ini, tempat berlangsungnya Sinode III ini sengaja dipilih di lingkungan gereja dengan alasan sederhana, sinode adalah sidangnya umat sehingga tempat juga dipilih yang ada di tengah-tengah umat. 
Bapak Uskup juga ungkapkan, sebagai pelanjut karya misi di Gereja Lokal Keuskupan Denpasar, Uskup mengucapkan terima kasih kepada para Uskup pendahulu yang telah berpulang menghadap hadiratNya, yang telah meletakkan dasar yang kuat bagi kesinambungan karya pastoral  di tempat ini. Allah yang maharahim berkenan menerima mereka dalam kebahagiaan abadi di surga. Agust GT***

 Dirjen Bimas Katolik
Jadilah Orang Katolik Yang Benar

Melalui  sambutan tertulisnya yang dibacakan oleh Sekretaris Dirjen Bimas Katolik FX Suharno, Dirjen  Bimas Katolik Kementerian Agama RI minta agar umat Katolik benar-benar menjadi orang Katolik yang benar. Dirjen Bimas Katolik menyatakan apresiasi karena Keuskupan Denpasar menggelar Sinode III dengan mengusung tema: “Memancarkan Wajah Kristus Melalui Gereja  yang Inklusif dan Transformatif.”
Dirjen mengatakan merasa terhormat diundang untuk hadir dalam acara pembukaan Sinode III Keuskupan Denpasar. Dikatannya di era  globalisasi ini  kehidupan menggereja secara global semakin terpinggirkan lantaran dinilai bahwa dinamika kehidupan Gereja Katolik sangat monoton, statis, membosankan akibat kalah bersaing dengan perkembangan dan dinamika  kehidupan global yang penuh dengan warna modernis, kapitalisme, konsumerisme, inovasitisme dan hedonisme.
Menurut Dirjen, dalam  suasana  demikian, maka  sangat penting umat  Katolik memahami dengan benar kekatolikannya, menghayati kekatolikannya secara mendalam, dan mengamalkan ajaran Katolik secara  sungguh-sungguh. Jadilah umat Katolik 100 persen dan warga negara 100 persen. Dirjen Bimas Katolik juga mengatakan akan terus membangun kerja sama dengan Gereja  sebagai mitra kerja. Agust GT***

Gubernur  Bali
Hindari Sikap Eksklusif

Dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan oleh  Kabiro Kesra Provinsi Bali I Gusti Putu Yudi Arnawa,SH, Gubernur menyatakan menyambut baik dan mendukung pelaksanaan Sidang Sinode ini sebagai salah satu upaya meningkatkan kualitas kehidupan  keagamaan dan kemasyarakatan, khususnya umat Katolik.
Gubernur katakan sangat bangga dengan terwujudnya keharmonisan dan kerukunan masyarakat serta suksesnya penyelenggaraan pembangunan di daerah Bali. Dan ini adalah berkat komitmen dan partisipasi seluruh masyarakat Bali termasuk seluruh komponen umat beragama. Gubernur tegaskan, modernisasi telah membawa nilai-nilai baru dalam lingkungan sosial  budaya agama. Setiap orang yang telah tersentuh dengan nilai-nilai tersebut  akan mencoba memberi makna baru pula dalam tatanan individu dan sosialnya.
Lebih lanjut Gubernur katakan, berbagai nilai modernitas yang berkembang sangat berpotensi menimbulkan gangguan dan ancaman pada keharmonisan dan kerukunan masyarakat Bali, salah satunya adalah sikap eksklusif. Gubernur minta agar sikap ini dihindari.Gubernur mengajak umat Katolik untuk menjauhkan sikap eksklusif dan selalu mengembangkan sikap inklusif sebagai masyarakat Bali yang terbuka sesuai dengan filosofi Tri Hita Karana. Gubernur minta agar dalam kehidupan bermasyarakat umat Katolikharus berpegang pada norma agama dan tatanan nilai-nilai budaya dengan didasari pikiran yang jernih serta hati nurani yang damai.
Gubernur berharap agar Sinode III ini menjadikan proses perjalanan hidup Yesus Kristus sebagai inspirasi kebangkitan umat menuju ketentraman dan kedamaian hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Gubernur juga berharap Sinode III ini dapat melahirkan Visi, Misi dan Program Strategis Pastoral yang sungguh memancarkan wajah Kristus yang hidup, sinergis, dinamis di tengah situasi masyarakat yang dinamis dan penuh persaingan global.

Pilih Gemuk atau Kurus?
Yang Mulia Bapak Uskup Denpasar Mgr. DR. Silvester San Selasa malam (22/11)  tiba-tiba masuk ke ruang  sekretariat. Kebetulan  panitia yang sedang bertugas di sekretariat sedang makan malam. Dan ada menu khusus RW. Apollo Daton sedang  menikmati  RW tersebut.
Entah mau berbasa-basi, Apollo Daton menawarkan RW kepada Bapak Uskup. Lalu dengan santai Bapak Uskup  menjawab, “Eeeh, kita umur sudah begini, jangan lagi makan RW, nanti tambah gemuk.” Lalu Apollo Daton  menoleh ke arah  Agust Thuru sambil berkata, “Om Agus mari makan RW.” Dan Agust Thuru pun menjawab, “Eeeh…kita juga umur sudah 50-an, jadi jangan makan RW lagi.” Dan Bapak Uskup pun berkata, “Eh…kalau Agust  biar makan banyak-banyak karena dia kurus begitu, tidak apa-apa.”
Lalu entah siapa yang memulai, terdengar kata-kata “Orang kurus itu  malah susah mati.” Dan sopir Bapak Uskup Sius Lewar pun dengan  suara  mantap  berkata, “Orang kurus sulit mati, soalnya kalau mati, bakteri malas makan.” Maka meledaklah tertawa di ruang sekretariat. Nah, mau pilih gemuk  atau kurus? Terserahlah…GUS

Tidak Gampang Tak Berarti Tidak Bisa
“Tidak gampang tak berarti tidak bisa.” Ini merupakan sepercik dari pelbagai percikan kotbah YM Bapak Uskup Denpasar, Mgr.DR. Silvester San saat merayakan misa pembukaan sidang akbar Sinode III Keuskupan Denpasar. Alasan di balik pernyataan ini yakni adanya fakta krisis “tokoh Model” dalam kehidupan dunia dewasa ini. Krisis terjadi karena banyak tokoh yang diharapkan untuk menjadi model bagi orang lain tak konsisten dalam mengsinkronkan kata dan perbuatan, ucapan dan teladan. Krisis tersebut sangat tidak diharapkan menjiwai pelayanan kita. Kita para agen pastoral sangat diharapkan untuk menjadi “tokoh model” bagi umat, layaknya Yesus Kristus “Sang Tokoh Model” sejati bagi kita. Upaya menggapai “tokoh model” sejati memang tak gampang. Namun itu tidak lalu berarti tidak bisa.
Untuk menjadi “bisa” butuh sebuah keyakinan. Rm. Evensius Dewantoro, Pr selaku Ketua Panitia SC telah menginspirasi kita untuk membangun keyakinan. Melalui refleksinya bertajuk: “Menerobos batas Ketakmungkinan” beliau meyakinkan dirinya untuk “pasti bisa” mengemban tugas yang dipercayakan sebagai Ketua Panitia SC. Buah dari keyakinan tersebut telah dapat kita nikmati dari persiapan Pra Sinode Dekenat dan perjalanan awal Sinode III ini.
Sinode III yang kita ikuti, hemat saya merupakan “An intelectual & spiritual quest,” sebuah pertualangan intelektual dan spiritual. Pertualangan intelektual karena kita (seturut harapan Ketua Umum Panitia Sinode III Keuskupan kita, Rm.Herman Y. Babey, Pr) diminta untuk berpikir, merefleksikan secara kritis perjalanan 5 tahun buah Sinode II yang telah berlalu, lalu dengan bertumpu pada refleksi atas pengalaman tersebut kita menatap dan menata perjalanan pastoral 5 tahun selanjutnya di keuskupan kesayangan kita bersama ini. Pertualangan spiritual karena dasar dan kekuatan utama dari perjalanan sinode yang kita lakukan ini yakni iman akan Tuhan kita Yesus Kristus. Pemilihan gereja sebagai tempat pelaksanaan sinode ini (sebagaimana yang telah kita dengar dari pengakuan YM Bapak Uskup San), merupakan representasi dari iman kita akan Yesus Kristus di mana gereja merupakan simbol dan sarana pemersatu para umat beriman yang universal dan menyelamatkan.
Sinode III sebagai “An intelectual & spiritual quest” bagi kita memang merupakan sebuah pekerjaan “tak gampang”. Namun tak berarti kita “tak bisa”. Meminjam spirit masyarakat kita menyambut dan merayakan SEA Games ke-26: “KITA BISA, KITA PASTI BISA”, Kita para peserta Sinode III pun perlu menanamkan keyakinan dalam diri kita bahwa “KITA BISA, KITA PASTI BISA” mensukseskan sinode ini, bahkan bisa “menerobos ketakmungkinan.” 
“Memancarkan Wajah Kristus melalui Gereja yang Inklusif dan Transformatif”, yang menjadi target kita dari Sinode ini, bagi kita memang “tidak gampang”. Namun tak berarti kita “tidak bisa”. Bersama “Allah yang memberi Pertumbuhan” KITA PASTI BISA. Selamat bertualang dalam Sinode III. Rm. Eman Ano, Pr***

Adonan Ragi di “Sasambo”
Pertualangan Sinode hari ke-3 dimulai dengan upaya menemukan dan menampakkan diri sebagai figur transformator dalam tugas-tugas sebagai “imago Christi.” “Ragi” yang tercampur dalam adonan (tepung), yang diangkat oleh Yesus dalam perumpamaan tentang hal Kerajaan Surga menjadi “inspirator” refleksi diri untuk saling membagi pengalaman kemuridan Kristus.           Tulisan ini tidak bermaksud untuk melanggar kode etik sharing Kitab Suci, karena motif dan tujuan dibalik pemunculan sharing pengalaman ini yakni bisa saling memperkaya dalam menambah bekal penghayatan misi inklusivitas dan transformatif yang kita impikan. Bagaimanapun kebijaksanaan ini tak terbantahkan kebenarannya: “experience is the best teacher: pengalaman adalah guru yang terbaik” untuk menata kehidupan dan pastoral kita selanjutnya.
Dari pelbagai pengalaman yang mencuat dalam sharing kelompok kami, dalam tulisan ini, saya membatasi diri pada  sharing dari rekan-rekan se-Dekenat NTB, yang terangkum dalam budaya “SASAMBO” yang adalah Sasak (Lombok), Samawa (Sumbawa), Mbojo (Bima).
Dari Sasak (Lombok), Bp Egi Siba dengan bertumpu pada Sabda Yesus “berjaga-jaga dan berwaspada”,  mengungkapkan betapa penting memiliki sikap berjaga-jaga dan berwaspada dalam “meragi”: melakukan interaksi dan bergaul dengan masyarakat yang tak seiman. Hal ini penting karena tidak semua orang tak seiman memiliki kejujuran dan ketulusan hati dalam bergaul. Jadi, butuh sikap yang kritis dalam berdialog.
Sr. Margareta, JMJ dari Samawa (Sumbawa) membagi pengalaman “menjadi ragi” saat menjabat sebagai Kepala Sekolah baru di SMAK St. Gregorius Sumbawa Besar. Berhadapan dengan kondisi sekolah yang didominasi oleh kelompok mayoritas muslim, dengan gaya lama yang permisif dan tak disipilin, beliau harus mengambil keputusan untuk mengeluarkan seorang murid yang melakukan tindakan tidak etis di lingkungan sekolah pada jam sekolah. Protes dari rekan kerja sempat mencuat, bahkan mengancam untuk mengajukan masalah dikeluarkannya anak tersebut ke lembaga hukum. “Silahkan Pak. Yesus, Guru saya juga sudah diperlakukan dan diadili depan hukum yang tak adil koq”, tegas Sr. Margareta menyergap pernyataan tersebut. Kata-kata itulah yang ternyata amat manjur meruntuhkan intimidasi lawan bicaranya tersebut, sehingga akhirnya bergumam: “O..gitu ya Suster. Ya tidak jadi kita protes.” Di balik keberanian untuk “meragi” dengan cara seperti itu, Suster JMJ yang belum setahun berkarya di Pulau Samawa tersebut mengakui kalau keberanian itu merupakan penyelenggaraan Allah dalam dirinya.
Adonan ragi di daerah Sasambo berakhir di Mbojo (Bima). Ibu Marry, selaku Ketua WKRI Bima mencoba “meragi” melalui pertandingan bola voli para ibu di Kabupaten Bima. Kisah menarik terjadi saat partai final menghadapi tim ibu bupati. Beliau dilema antara menuruti permintaan ibu bupati yang meminta pertandingan ditunda esok harinya, dengan catatan harus melawan gairah bertanding dari timnya yang sudah hampir meraih kemenangan, atau sebaliknya (WKRI pada saat itu sudah unggul 2 set pertandingan). “Saya dilema dengan permintaan ibu bupati. Di satu pihak, kalau saya menerima maka konsekwensinya, saya akan dibenci oleh tim saya. Di pihak yang lain, kalau menolak, saya merasa tidak enak dengan ibu bupati yang nota bene sudah mengetahui kalau Gereja katolik sudah terkenal dengan ajaran cinta kasihnya. Alhasil, yaya memutuskan untuk mengikuti permintaan Ibu Bupati dengan konsekuensi siap dibenci dan dimarahi oleh tim saya. Alhamdulilah, setelah melewati pergulatan yang panjang, akhirnya tim saya rela bermain kembali esok harinya dan kami tetap muncul sebagai pemenang”, kenang beliau saat membagikan pengalaman menghayati diri sebagai “ragi” yang bisa berpengaruh dan berguna bagi orang lain.
Tentu masih banyak pengalaman yang bisa diungkapkan dari pengalaman menjadi murid Kristus di mana pun kita dipanggil dan diutus. Kita selayaknya mensyukuri semuanya. Namun, misi pastoral kita tak kenal kata selesai, berkesinambungan sembali selalu membaharui diri sejalan dengan prinsip “Ecclesiae Semper Reformanda”. Semoga dengan spirit baru berkat Sinode III ini, semangat kita untuk menjadi “ragi” yang berpengaruh dan berdayaguna, bisamakin memantapkan langkah dan perjuangan kita menuju Gereja Katolik Keuskupan Denpasar yang makin inklusif dan transformatif. Khusus buat rekan-rekan agen pastoral dari Dekenat NTB, proficiat dan selamat berjuang lebih lanjut untuk menjadi “ragi” dalam adonan budaya masyarakat “SASAMBO” di Pulau Lombok, Sumbawa, dan Bima. Rm. Eman Ano, Pr***

Pesona “Tingting”
Sinode III kita diberi kenikmatan oleh kehadiran permen “Garuda Tingting.” P. Gaby Mite, SVD menurut pengamatan kami menjadi peserta yang paling kepincut dengan kenikmatan yang dipersembahkan oleh permen tersebut. Kepergok, saat jedah salah satu session kemarin, Pastor Paroki Bima ini sedang sibuk dari meja ke meja, dengan dipandu oleh Mbak Selly Sembiring (peserta asal Mataram) mencari permen berlabel “Tingting.” Setelah dikonfirmasi, beliau mengaku kalau amat terpesona dengan kenikmatan mengecap permen “garuda tingting” tersebut.
Pesona “garuda tingting” ternyata tidak hanya menghipnotis Pastor dari daerah “Ngaha Aina Ngoho.” Pastor Paroki bertaraf internasional F.X. Kuta, Romo Hadi, juga sempat kepergok sedang mencicipi permen “Garuda Tingting”. Selamat menikmati “Garuda Tingting.” Kita berharap agar pesona permen “Garuda Tingting” tidak sampai mengalahkan pesona Sinode III kita.-Romeo,Pr)***

     Sinode dan Sepak Bola
Kalah Pinalti itu Terhormat

Ada yang istimewa di hari pertama Sinode III Keuskupan Denpasar, Senin Sore 21 November 2011. Setelah makan malam agenda rapat adalah Orientasi Acara dan Perkenalan yang dipandu oleh Ketua OC,SC dan Sekretaris. Tapi rupanya daya hipnotis “Garuda Muda” membuat peserta maupun Panitia Sinode tidak bisa tenang.
Maka yang terjadi adalah, di ruang  sidang Ketua Umum Panitia Sinode III Romo Herman Yoseph Babey,Pr harus tampil sebagai reporter, “Kedudukan sementara satu kosong untuk Indonesia.” Dan di luar ruang sidang, panitia mengarahkan pandangan mata ke  televisi 21 inci. Di menit ke-7 sundulan kepala seorang pemain tim Garuda Muda merobek gawang  Malaysia. Luapan gembira pun meledak, hanya saja tanpa suara…teriakan ….goolll….dengan berbagai ekspresi hanya bagaikan desiran angin, pokoknya lucu…
Usai session Orientasi Acara dan Perkenalan, peserta langsung bisa menyaksikan pertandingan sepak bola antara Indonesia dan Malaysia  di ruang sidang, layar lebar lagi. Maka komentar dan teriakan bisa lepas bebas. Sedangkan panitia  mengumumkan, supaya peserta segera  menuju kendaraan masing-masing karena akan segera dihantar ke penginapan masing-masing. Dasar si kulit bundar bola…banyak peserta yang pura-pura tak dengar  suara panitia.
Ketika Malaysia berhasil menjebol gawang  Indonesia, suara-suara kurang puas terhadap permainan Tibo, cs mulai  muncul berseliweran. Macam-macam komentar dilahirkan sepanjang pertandingan. Dan 90 menit kemudian, pertandingan berakhir dengan kedudukan kosong-kosong. Di perpanjang  waktu 2 x 15 menit dua kesebelasan tak berhasil menjebol gawang masing-masing.
Dan…akhirnya mau tidak mau harus pinalti sebab tak mungkin dua-duanya kalah, juga tak mungkin dua-duanya menang. Pinalti diawali Indonesia, ditendang oleh Tibo dan gollll, dan seterusnya secara bergantian berusaha memasukkan bola ke dalam liang gawang. Akhirnya skor 4-3  untuk kemenangan Malaysia. Ketua Umum Panitia Sinode Romo Herman Yoseph Babey,Pr pun menghibur para panitia di ruang sidang, “Jangan terlalu sedihkah, kalah pinalti itu kalah terhormat” dan kami panitia pun meledak tawa…hahahaha…. Yah, ternyata Romo Babey masih memberi  obat penawar lelah. Begitulah kalau kerja di larut malam. Agust GT

Belajar ‘Semangat’ dari Romo Tertua
Para peserta Sinode sukses mengikuti proses selama lima hari. Tapi  seperti pepatah mengatakan, tak ada gading yang tak retak, demikian pula keberadaan para peserta Sinode III  ini.
Masih ada peserta yang seperti para wakil kita di Gedung Wakil Rakyat Senayan Jakarta yang suka tidur saat sidang atau suka bolos tetapi menitip tanda tangan di daftar hadir. Jadi, percaya atau tidak, masih ada peserta sinode  yang mengalami ‘ekstase’ sampai tertidur. Masih ada peserta yang ‘keluar masuk’ ruang sidang hanya untuk menerima telepon dari mana-mana,tanda  bahwa betapa sulitnya meninggalkan sejenak kelekatan terhadap alat-alat teknologi komunikasi yang semakin canggih ini.
Masih ada peserta yang terpaksa harus meninggalkan ruang sidang  karena  kalah  pada kemahakuasaan sebatang rokok dalam berbagai merek. Pokoknya masih ada yang mengikuti sinode ini dengan setengah badan, setengah rasa, setengah pikiran, setengah semangat dan sebagainya. Memang yang setengah-setengah itu jumlahnya sedikit. Tapi idealnya jangan ada yang begini ini. Mudah-mudahan di Sinoode IV nanti tak ada lagi yang setengah-setengah itu.
Dan di arena ruang sidang sinode, ada sosok yang setia mengikuti tahap demi tahap proses Sinode III ini. Dia adalah Romo Servasius Subhaga,SVD  Pastor Paroki St. Yoseph  Denpasar. Di usianya yang sudah kepala 7 alias di atas 70 tahun,  Romo Subhaga memperlihatkan stamina yang luar biasa. Ia  mengikuti kegiatan sinode ini mulai dari  shering  Kitab Suci  pada jam 06.00  Wita hingga selesai pada jam 21.00 Wita. Tak heran kalau Romo Wanto  memberikan apresiasi kepada Romo Subhaga,”Mari kita tepuk tangan untuk Romo Subhaga yang setia mengikuti sinode ini” dan tepuk tangan peserta sinode pun menggema.
Sosok Romo Subhaga, ia adalah imam Serikat Sabda Allah (Societas Verbi Divini/SVD), tercatat dalam sejarah Keuskupan Denpasar sebagai imam  sulung di keuskupan ini yang ditahbiskan pada bulan Juli 1969. Romo  Subhaga  menjadi inspirator  panggilan imamat di Bali. Kita bersyukur  Romo Subhaga diberikan  umur panjang dan kemampuan untuk  menjadi pembangun  manusia pembangun. Romo Subhaga adalah peserta Sinode I tahun 2001, Sinode II tahun 2006 dan kini, Romo Subhaga adalah salah satu peserta Sinode III yang turut menghasilkan rekomendasi Visi, Misi dan Strategi Pastoral Keuskupan Denpasar 2012-2016 ke depan. Semangatnya pantas  diteladani. Agust GT***

Demokrasi ‘ Tour’  dan Monyet Nakal
Ada yang menarik di ruang sidang  saat  menunggu pemaparan  rumusan Visi, Misi dan Strategi Pastoral Keuskupan Denpasar 2012-2016  oleh  Romo  DR. Dominikus Bagus Kusumawanta, Pr dan Romo Evensius Dewantoro,Pr, Kamis (24/11). Ketua Umum Panitia Sinode III Romo Herman Yoseph Babey,Pr  menuntun para peserta untuk menentukan tempat ‘tour’ bagi para peserta sinode.
Maka diskusi pun tak kalah seru dibandingkan dengan diskusi-diskusi selama Sinode III berlangsung. Banyak usulan tempat-tempat mana yang pantas dikunjungi. Agenda panitia adalah, para peserta diajak untuk melihat  kompleks rumah ibadat ‘Puja Mandala’ di Nusa Dua, mengunjungi ‘Dreamland’ kemudian lanjut ke ‘Bhumiku’ untuk menikmati serangkaian acara  hiburan dan makan malam. Tapi  dalam diskusi  berkembang soal tempat yang  mau dikunjungi.
Seksi Transportasi Bapak Frans Hendrik mengusulkan tour ke Puja Mandala, ke Pantai Ulu Watu, lanjut  ke Bhumiku. Tapi  usulan ini mendapat tanggapan dari peserta. Ada yang mengingatkan peserta harus berhati-hati  kalau ke Uluwatu sebab  di sana  banyak monyet-monyet nakal yang suka nyolong kaca mata, HP atau dompet.
Rupanya peringatan ini cukup mendapat respon peserta lain. Vikjen  Romo Yosef  Wora,SVD  mengusulkan agar peserta berkunjung ke Puja Mandala terus ke Gereja Yesus Gembala Baik Ubung dan lanjut ke  Bhumiku, daripada ke tempat-tempat yang ada monyet-monyet nakal yang bisamengganggu kenyamanan peserta. Seorang suster pun menyetujui usulan Romo Vikjen, kata dia, daripada  ke tempat yang ada monyet-monyet itu.
Masih banyak usulan, misalnya para peserta berkunjung ke Puja Mandala, ke Pantai Nusa Dua, ke Gereja Ubung terus ke Seminari Tuka. Namun, ternyata  ada peringatan  jalan menuju Gereja Ubung sedang direnovasi dan  dipastikan akan terjadi kemacetan. Setelah berdikusi cukup hangat  akhirnya…keputusan akhir adalah peserta tour ke Puja Mandala untuk melihat rumah ibadah lima agama (Islam, Katolik, Protestan, Hindu dan Budha), dan kalau masih ada waktu bisa ke pantai Uluwatu, setelah itu  peserta  langsung ke Bhumiku di Jalan Gunung Soputan. Dan ini adalah hasil  demokratisasi ala peserta Sinode III  Keuskupan Denpasar. Nah…adakah yang merasa ‘dinakali’ oleh para monyet Uluwatu kemarin? Agust GT***

     Lima Tahun Ke Depan
Ada Kesepakatan, Aksi dan Reaksi

Lima hari yang melelahkan telah berlalu. Tak terasa hari ini Jumat (25/11) adalah hari terakhir sinode. Sebentar, kita akan kembali ke habitus kita masing-masing. Dalam seluruh proses selama lima hari sinode telah dihasilkan  sejumlah kesepakatan. Tinggal bagaimana aksi-aksi nyata dan bagaimana reaksinya.
Sinode III telah menghasilkan Visi, Misi dan Arah Dasar Keuskuan Denpasar 2012-2016. Sidang  dengan materi ‘Pembahasan Visi dan Misi serta Arah Dasar Keuskupan Denpasar  2012-2016’  berlangsung Kamis (24/11) di aula sidang dipimpin oleh Romo DR.D.Gusti Bagus Kusumawanta, Pr dan Romo Evensius Dewantoro,Pr. Peserta sepakat Visi Keuskupan Denpasar 2012-2016 adalah Keuskupan Denpasar, sebagai persekutuan umat beriman Kristen Katolik yang berkualitas, dialogis dan berdaya-ubah dalam memancarkan wajah Kristus di dunia.
Visi ini akan diaktualisasikan melalui misi-misi. Ada 12 misi yang mau dicapai dalam karya pastoral lima tahun ke depan. Para peserta sinode tentu sudah ‘memegang dan menyimpan’ butir-butir kesepakatan Visi dan Misi tersebut. Sebaiknya taruh baik-baik agar jangan hilang. Kalau ada waktu bisa baca-baca lagi, biar kesepakatan sinode tetap segar, tak lekang dimakan waktu.
Visi dan Misi serta Arah Dasar Pastoral yang telah disepakati bersama  adalah keputusan sinode. Tentu saja keputusan tersebut diambil setelah melalui  diskusi yang melelahkan, koreksi secara cermat baik dari para  imam  maupun awam peserta Sinode III. Seluruh masukan, entah ditujukan kepada para pastor maupun kepada umat, hendaknya  tidak dipandang sebagai hal-hal yang membekas dan menjadi luka batin, tetapi sebagai refleksi yang menginspirasi umat dalam membangun gerakan Memancarkan Wajah Kristus Melalui Gereja yang Inklusif dan Transformatif.

Tanggapan Bapa uskup
Sejumlah harapan  peserta sinode memang terpancar keluar. Maka Bapak Uskup Denpasar Mgr. DR. Silvester San,Pr  menjelaskan, kata sinode dari sin dan odos yang berarti berjalan bersama-sama, tidak sendiri-sendiri. Maka  Visi, Misi dan Arah Dasar Keuskupan Denpasar yang dirumuskan oleh Tim Perumus sudah maksimal. Peserta wajib memberi masukan karena rumusan apapun tidak mungkin bisamemuaskan semua orang. Bapak Uskup katakan, keuskupan dilihat sebagai lembaga, agar tidak terjadi salah tafsir maka ditambah dengan kata persekutuan umat.
Bapak Uskup juga berpendapat, kata persekutuan lebih cocok ketimbang komunitas, kata Katolik lebih cocok di Indonesia untuk tidak menimbulkan salah tafsir  orang lain. Kata dialog juga lebih baik bertolak dari hasil SAGKI. Dan Bapak Uskup juga sebutkan, rumusan Visi, Misi dan Arah Dasar Keuskupan Denpasar sudah mencakup banyak unsur. 

·    Romo Wayan Maryanta,SVD
Berusaha Menyelesaikan Persoalan
Nara sumber  Romo  Wayan Maryanta,SVD,MA telah mengambil  bagian secara aktif dalam Sinode III ini. Putra Paroki Gumbrih ini telah mendampingi para peserta baik pada saat Pra Sinode maupun selama sinode berlangsung.
Ketika rapat pembahasan Visi, Misi dan Arah Dasar Keuskupan Denpasar, Kamis (24/11) kemarin, Romo Maryanta mengatakan bahwa masalah  ekonomi adalah persoalan yang menarik. Karena itu perlu  masuk dalam  misi. Masalah KBG, umat masih mengalami kesulitan mendapatkan tempat untuk melakukan kegiatan KBG.
Dikatakannya, persoalan ekonomi menghambat mereka (umat) untuk aktif dalam kegiatan gereja. Jika diperhatikan kesepakatan dari Pra Sinode kalau kita jejerkan hasilnya, persoalan ekonomi memang dimunculkan. Di samping itu soal pendidikan Katolik, ada keluhan bahwa Sekolah Katolik mahal. Keluhan ini harus dibaca bahwa umat menginginkan anak-anaknya  bersekolah di Sekolah Katolik.
Soal kualitas iman, masih harus dilakukan upaya peningkatan iman umat melalui kegiatan katekese baik katekese umat maupun katekese sekolah. Soal KBG yang belum optimal, hal ini disebabkan oleh, salah satunya karena kurangnya kualitas fasilitator yang menggerakkan KBG.Masalah keluarga dengan kualitas rendah, kumpul kebo adalah keprihatinan dalam karya pastoral. Maka perlu upaya penyegaran kembali pemahaman keluarga sebagai Gereja Kecil yang sedang hidup di tengah dunia dewasa ini.
Ada keprihatinan terhadap Orang Muda Katolik. Orang muda kurang terlibat dalam kegiatan Gereja atau tidak dilibatkan dalam kegiatan pastoral.Juga harus diakui bahwa dalam struktur hirarkis, pastor sangat menentukan. Figur pastor yang diharapkan adalah sebagai pelayan yang tulus. Maka perlu ada peningkatan kualitas kepemimpinan hirarkis dan kepemimpinan kaum awam.

Wajah Yesus  di Sekitar Kita
Malam ini, dini hari Rabu 23 November 2011, entah mengapa, aku tak bisa memejamkan mata. Aku sangat terganggu dengan wajah seorang pria kumal, tak terurus, yang aku foto saat pulang dari kegiatan Sinode III Keuskupan Denpasar. Pria kumal itu dengan lahap menyantap nasi bungkus  pemberian seorang penjual nasi di kompleks pertokoan tepi jalan By Pass Ngurah Rai, Kuta Denpasar.
Aku semakin terusik oleh foto pria ini manakala aku ingat bahwa di ruang  Sidang Sinode III, Selasa malam (22/11) antara pukul 19.00– 21.00 Wita, 150-an peserta Sinode III mendengar laporan kelompok-kelompok yang mendiskusikan tema ‘Wajah Yesus Macam Apakah Yang Kita Inginkan?’ Yah…para peserta yang dibagi dalam lima kelompok memang diberikan waktu khusus untuk menemukan ‘Wajah Yesus’  yang sesuai dengan  tuntutan zaman masa kini melalui sebuah diskusi yang, kata mereka sangat seru.
Dari hasil diskusi, muncul sederet litani Wajah Yesus yang sesuai dengan  ini. Wajah Yesus yang lembut, Wajah Yesus yang murah hati, Wajah Yesus yang selalu tersenyum, Wajah Yesus yang dialogis, Wajah Yesus yang proaktif. Wajah Yesus yang cinta damai, wajah Yesus yang toleran, dan seterusnya…dan seterusnya…dan seterusnya. Pokoknya, wajah Yesus zaman modern ini adalah Wajah Yesus yang berada di segala aspek kehidupan dan di dalam semua orang yang berkehendak baik membangun tata dunia untuk semakin beradab.
Wajah Yesus  sejak dahulu, kini dan selama-lamanya, dipastikan akan tetap berpihak pada ‘Rakyat Kecil’, mereka yang terpinggirkan, termarginalisasi, yang tak beruntung, yang  teraniaya, yang terpaksa  hidup di pengasingan, tanpa harapan akan masa depan. Mereka yang hidup sekedar hidup, menunggu kapan datang giliran untuk pulang ke rumah Bapa di surga.
Wajah Yesus zaman ini memang mudah ditemukan di seantero kota besar dan kecil, di bawah kolong jembatan, di emperan toko, dan tempat lainnya yang ‘nyaman’ bagi mereka. Wajah Yesus pun bisa ditemukan di tong sampah, dimana mereka mengais-ngais mencari sesuatu, kalau-kalau ada sisa ‘nasi bungkus’ yang masih bisa dimanfaatkan untuk mengganjal perut yang lapar.
Ratusan Wajah Yesus  bisa ditemukan di Tempat Pembuangan Sampah (TPA) Suwung Denpasar yang saban hari berebutan sisa-sisa makanan  dengan ratusan sapi yang juga mengais rejeki di tempat yang sama. Wajah Yesus ada di Pasar Badung dan Kumbasari, dimana perempuan-perempuan  bercucuran keringat menjalankan profesi sebagai ‘Tukang  Suun’, semalam suntuk, bukan karena ia hidup dalam lingkaran kemiskinan secara material, tetapi akibat digempur oleh kemiskinan secara sosial, bahwa perempuan secara adat harus bekerja.
Kalau Wajah Yesus yang ada di sekitar kita dipaparkan di lembaran ini, pasti tak akan ada habisnya. Bagi saya, Wajah Yesus yang kutemukan di jalan….. dan ketika aku mengarahkan lensa kamera ke arahnya, ia tersenyum, itu juga Wajah Yesus yang harus ‘disapa’ dalam berbagai cara, bukan sekedar sapaan kata-kata, tetapi terutama menyapa mereka dengan aksi… membebaskan mereka dari belenggu ketidakadilan dan ketidaksetiakawanan sosial. Wajah Yesus adalah wajahku, wajahmu, wajah kita, wajah mereka, terutama yang tak beruntung. Wajah Yesus  yang tetap mempesona! ***Agust GT
Wajah Yesus yang Teraniaya di Paroki Praya
Bulan Oktober 1998, Gereja Katolik Paroki St. Yohanes Pemandi Praya, Lombok Tengah  dibakar massa. Dan sejak itu kawanan kecil umat Katolik di sana tak punya tempat untuk merayakan ekaristi secara wajar.Bukan tanpa upaya untuk membangun kembali gedung gereja yang layak.Tapi,selalu ada  hadangan di depan, merintangi seluruh gerak dan aksi-aksi menuju pencapaian  cita-cita, sebuah Gereja baru yang transformatif. “Sudah enam kali kami mengajukan permohonan untuk mendapatkan IMB dari Pemerintah, tapi  sampai sekarang belum ada tanda-tanda akan disetujui”, ujar Mikael No Mite, Katekis Paroki Praya yang juga saksi sejarah kerusuhan massa Oktober 13 tahun  silam.
Di Praya, ada wajah Yesus, yang tetap teguh berhimpun di bawah kaki salibNya. Mereka seperti layang-layang, diombang–ambingkan angin, tetapi  mereka adalah layang-layang yang benangnya terikat erat di kaki salib. Istilah  Mikael No Mite, kawanan kecil murid Yesus di Praya bagaikan ‘bola pingpong’, dipimpong ke sana ke mari, tapi mereka tetap teguh pada imannya. Masyarakat katakan, tak masalah gereja dibangun di Praya, tetapi yang berkuasa di sana mengatakan, harus ada ijin dari masyarakat. Hasilnya, sampai sekarang, hanya ada saling lempar alasan.
Apa yang harus dilakukan untuk mewujudkan keinginan kawanan Yesus  di Praya? Menurut No Mite, kalau Sinode III ini berhasil, salah satunya  karena umat di paroki seluruh keuskupan mendaraskan doa setiap misa hari minggu.”Kami umat Praya minta, bisakah didaraskan doa ‘Untuk Pembangunan Gereja di Praya’ setiap hari Minggu di seluruh paroki Keuskupan Denpasar?”, pintanya.
Nah, maukah kita mendengar suara dari  murid Yesus  di Praya? Mereka  adalah Wajah Yesus  yang teraniaya. Kapan penganiayaan akan berakhir, doa  selalu bisa memutarbalikkan apa yang tak mungkin menjadi sebuah kemungkinan. Doa membuat apa yang tak bisa menjadi  bisa. Berdoalah untuk Praya. Agust GT***


  PENUTUP 
Menuju Gereja Yang Terlibat Dan Berdaya Ubah akan menjadi tema pastoral kita saban hari. Tema ini bergaung (mempunyai resonansi) yang begitu kuat di tengah retorika politik pragmatis tanpa komitmen jelas dan nyata untuk kemaslahatan bersama. Asal muasal tema ini bukan sesuatu yang jatuh begitu saja dari langit, tapi merupakan hasil refleksi dan jalan panjang bersama-sama dengan pimpinan Gereja Lokal Bapak Uskup Denpasar, Mgr. DR. Silvester San, para imam, biarawan-biarawati dan umat yang tersebar di Pulau Bali, Lombok dan Sumbawa serta siapa saja yang telah merelakan waktu, tenaga dan pikiran bagi tercapainya tujuan sinode ini.
Jalan panjang dan bersama-sama ini tidaklah mudah, tetapi bukan berarti tidak mungkin. Ketidakmungkinan itu telah kita terobosi, karena kita percaya pada Tuhan sekalipun Ia diam. Keyakinan kepada Tuhan inilah realitas yang tidak pernah mati atau lebur kala kita sedang berjalan bersama-sama selama kita mempersiapkan dan melaksanakan Sinode III Keuskupan Denpasar.
Sinode III Keuskupan Denpasar selanjutnya akan menjadi kaidah emas bagi umat untuk menemukan kebahagiaan hidup di sini dan di akhirat. Viktor Franklin dalam bukunya Man’s Search for Meaning mengatakan ”Kebahagiaan hidup tertinggi tidaklah terengkuh melalui pencapaian kehendak untuk bersenang-senang (the will to pleasure), atau kehendak untuk berkuasa (the will to power), tetapi dalam pencapaian kehendak untuk menemukan makna (the will to meaning). Lima tahun ke depan adalah pekerjaan rumah kita semua untuk menemukan makna pastoral yang tersirat dalam tema Menuju Gereja Yang Terlibat Dan Berdaya Ubah.

No comments:

Post a Comment