Saturday, February 7, 2015

STRATEGI PASTORAL KEUSKUPAN DENPASAR 2012-2016

 LIMA STRATEGI PASTORAL KEUSKUPAN DENPASAR

1.Memancarkan Wajah Kristus Melalui Katekese Dan Lembaga Pendidikan Katolik
Dalam Sinode ini disadari bahwa Katekese dan Pendidikan Sekolah Katolik menjadi salah satu perhatian yang perlu diangkat sebagai strategi pastoral Gereja Keuskupan Denpasar (bandingkan Pesan Pastoral Sidang KWI 2011). Hal itu didasarkan pada tugas pokok Gereja dalam mewartakan Injil (Mat. 28:19; EN, 14). Katekese sebagai pendidikan iman umat merupakan hal penting dalam kehidupan Gereja, seperti dinyatakan oleh bapak-bapak Konsili Vatikan II (GE 1-3). Dari hasil Pra-Sinode dan diskusi kelompok selama sinode berlangsung peserta melihat adanya persoalan pendidikan iman (katekese umat) dan pendidikan Sekolah Katolik.
Permasalahan umat di bidang katekese berkaitan dengan kurangnya pemahaman tentang sakramen-sakramen dan ajaran-ajaran resmi Gereja Katolik. Untuk itu diperlukan katekese yang kreatif, sehingga umat semakin memahami dan mengamalkan iman Katolik secara benar dan mendalam. Umat juga melihat masalah pokok tentang pendidikan Sekolah Katolik.
Biaya pendidikan di Sekolah Katolik dirasakan mahal dan tidak terjangkau. Sekolah Katolik kalah bersaing dengan lembaga pendidikan lain. Perlu disadari bahwa pendidikan di Sekolah Katolik merupakan jalur strategis dalam mewartakan Injil. Sekolah Katolik perlu meningkatkan kinerja dan kualitasnya agar di tengah persaingan global tetap menunjukkan identitasnya.
Pendidikan Sekolah Katolik bersumber pada Kristus sebagai teladan dan model hidup, sehingga menjadi sarana mewartakan Kabar Gembira, unggul dalam pembentukan manusia, memihak kepada orang miskin, bekerja sama secara internal dan luwes dalam mencapai visi dan misi pendidikan Katolik.


2.Memancarkan Wajah Kristus Melalui Pengembangan Ekonomi Umat
Disadari oleh para peserta Sinode III Keuskupan Denpasar bahwa kemiskinan dan pengembangan ekonomi umat merupakan salah satu pokok perhatian yang perlu diangkat sebagai strategi pastoral agar umat semakin mandiri dan sejahtera.
Hasil penelitian Sinode menunjukkan bahwa umat Katolik Keuskupan Denpasar merupakan kawanan kecil (Luk 12:32) di tengah umat beragama lain, multietnis dan berasal dari kalangan ekonomi menengah ke bawah serta tersebar di Bali dan Nusa Tenggara Barat. Kemiskinan dan pengangguran terjadi karena kurangnya lapangan pekerjaan, rendahnya tingkat pendidikan dan ketrampilan umat yang mengakibatkan pendapatan yang rendah. Kesalahan pengelolaan keuangan dalam keluarga dan gaya hidup yang konsumtif juga menimbulkan kemiskinan. Perjuangan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari sering menjadi alasan ketidakterlibatan dalam kehidupan menggereja.
Pengembangan ekonomi diarahkan untuk memberdayakan umat dengan meningkatkan kapasitas untuk pengentasan kemiskinan dan peningkatan kesejahteraan ekonomi. Di Keuskupan Denpasar sudah ada sejumlah Koperasi, Credit Union dan KBG yang patut dijadikan dasar dan sarana membangun perekonomian umat.

3.Memancarkan Wajah Kristus Melalui KBG Dan Kepemimpinan Pastoral
Sejak Sinode I tahun 2001, KBG dipilih sebagai kendaraan dalam menggapai cita-cita pastoral Keuskupan Denpasar. Namun hingga Sinode III tahun 2011, disadari bahwa umat belum memahami apa itu KBG dan bagaimana cara hidup menggereja yang baru. Hal ini disebabkan KBG belum menjadi suatu habitus baru umat dalam kehidupan menggereja, dan hubungan sesama anggota KBG kurang solid dan kurang harmonis turut memperlemah KBG sebagai cara hidup menggereja yang baru.
Kunci keberhasilan dalam karya pastoral terletak pada kemampuan pemimpin.  Pemimpin yang diharapkan memiliki semangat pelayanan seperti Kristus (bdk. Mat. 20: 28), terlibat, inspiratif dan memberdayakan umat. Pemimpin pastoral di sini adalah para klerus maupun awam yang diberi kepercayaan oleh otoritas Gereja dalam mengemban tugas penggembalaan umat. Keluhan umat seperti adanya krisis kepemimpinan pastoral, kurangnya kaderisasi tenaga pastoral awam sebagai pemimpin pastoral menjadi fokuskarya pastoral di Keuskupan Denpasar. Selain itu, dibutuhkan keseragaman dalam menata Gereja sebagai organisasi, seperti pedoman kerja Dewan Pastoral Paroki, Dewan Keuangan Paroki dan pastoral berbasis data.

4.Memancarkan Wajah Kristus Melalui Orang Muda Katolik
Orang Muda Katolik adalah generasi yang menentukan masa depan Gereja. Proses Sinode III menemukan bahwa keterlibatan Orang Muda Katolik dalam hidup menggereja masih rendah. Persoalan tersebut disebabkan orang tua kurang mendorong anaknya terlibat dalam kegiatan Gereja. Di samping itu, Orang Muda Katolik rentan oleh pengaruh globalisasi dan gaya hidup yang mengagungkan materi. Selain itu, ditengarai adanya fenomena Orang Muda Katolik pindah agama.
IndonesianYouth Day 2012 menjadi momentum yang tepat untuk menggerakkan Orang Muda Katolik di Keuskupan Denpasar dan sarana untuk pendidikan iman Orang Muda Katolik. Gerakan kaderisasi dan pendampingan Orang Muda Katolik diarahkan pada berkembangnya orang muda yang tangguh, tanggap dan siap terlibat dalam semua ranah publik.

5.Memancarkan Wajah Kristus Melalui Keluarga Katolik
Peserta Sinode menyadari bahwa pendidikan iman Katolik berawal di dalam keluarga. Keluarga disebut juga sebagai Gereja Kecil (Ecclesiola). Oleh karena itu fokus pastoral pada keluarga menjadi penting.
Karya pastoral yangmemberi perhatian pada keluarga dirasa perlu untuk menjawabi persoalan seperti hubungan suami-istri yang renggang dan bahkan bubar karena ketidaksetiaan pada janji perkawinan, perselingkuhan dan kekerasan dalam rumah tangga, hubungan yang tidak harmonis antara orang tua dan anak, adanya hidup bersama tanpa peneguhan perkawinan (kumpul kebo). Kenyataan itulah yang menjadi kesadaran bersama peserta sinode untuk memperhatikan secara serius karya pastoral yang diarahkan untuk membangun keluarga Katolik sebagai Gereja kecil yang utuh, harmonis, sejahtera dan merasul.

No comments:

Post a Comment