Saturday, February 7, 2015

TEMUAN PENELITIAN BERDASARKAN METODE WAWANCARA (TOKOH-TOKOH LINTAS AGAMA


Prof. Dr. dr. Luh Ketut Suryani

Jangan Ada Mayoritas dan Minoritas
Prof.Dr.dr.Luh Ketut Suryani adalah salah satu tokoh perempuan Bali yang cukup disegani. Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Udayana ini juga dikenal  sebagai psikiater  dan bertempat tinggal di Jalan Gandapura Kesiman Denpasar. Apa pandangannya  tentang  Gereja Katolik  di Bali, berikut ini penuturannya  kepada Blasius Naya Manuk,S.Pd yang mewawancaranya  untuk masukan  bagi penyelenggaraan Sinode III Keuskupan Denpasar.
Sudahkah Gereja Katholik  dalam hal ini orang (umat) dan institusi di masa lalu dan masa kini menampilkan cita-cita Gereja Katolik yang inklusif dan transformatif dalam kehidupan nyata? Ketika pertanyaan ini disodorkan  kepada  tokoh perempuan Bali Prof.Dr.dr. Luh Ketut Suryani, ia mengatakan,berbicara mengenai Gereja Katolik yang inklusif dan transformatif, ia berharap agar umat Katolik jangan menyinggung perasaan  umat  beragama lain.
Prof.Suryani menjelaskan pula keresahan sebagian besar orang Bali akan  penataan pembangunan di Bali yang  semakin menghilangkan nuansa Bali.Maka diharapkan agar Gereja Katolik juga memperhatikan penataan pembangunan gedung gereja agar tidak menyinggung perasaan umat beragama lain. Dalam menjalankan upacara keagamaan, kiranya  umat Katolik  perlu mengedepankan tepo seliro dan mengatur supaya ibadat tetap jalan, tetapi jalan raya juga jangan ditutup. Bila umat Katolik sudah memberi contoh melakukan seperti itu, yang lain pun akan berbuat demikian.
Atas pertanyaan apakah dirinya juga dapat melihat hal-hal yang menjadi kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman bagi Gereja Katolik untuk mewujudkan cita-cita Gereja yang inklusif dan transformatif, Prof. Suryani  katakan, kekuatannya, suatu hal yang positif ialah bahwa siapa saja  yang mau ke Gereja, tanpa pandang suku atau agama boleh saja. Asalkan dengan tujuan yang baik dan untuk sembayang.Ini suatu contoh bahwa Gereja itu inklusif. Kecuali kalau orang ke gereja dengan maksud  jahat atau mengganggu.Selain itu, pergaulan kami dengan para romo juga sangat bagus. Kami sering belajar bersama. Saya juga selalu menyampaikan kepada romo bahwa  romo boleh saja datang menyebarkan agama dan berkegiatan di Bali asal jangan  mengagamakan kami, karena kami sudah beragama.
Kelemahannya: Prof. Suryani  katakan, hal yang menjadi kelemahan  dari Gereja Katolik sebagaimana yang saya tahu dan alami adalah, kenyataan bahwa dalam Gereja juga masih ada sikap dan perlakuan yang memantik  permusuhan dengan orang lain. Ini harus dihilangkan.
Peluangnya: Prof. Suryani katakan, hal yang menjadi peluang yang perlu dimanfaatkan Gereja Katolik untuk membangun kehidupan yang inklusif dan trransformatif adalah bagaimana memperjuangkan agar ajaran agama itu benar-benar masuk dalam diri dan menjadi “way of life” tanpa perlu mengatakan saya Katolik. Ajaran agama sebaiknya tidak hanya menyentuh otak tapi hati dan bisa dipraktekkan. Karena  proses  pengajaran itu tidak hanya teori, tapi praktek hidup yang baik. Karena itu kita semua perlu meresapkan filosofi agama dengan baik. Untuk mengamalkan ajaran agama itu, keluarga memegang peranan kunci untuk menanamkan nilai-nilai ajaran agama seperti  kedamaian, kasih sayang dan cinta.
Ancamannya: menurut Prof. Suryani, ancaman yang kita bersama hadapi adalah masih kuatnya pengaruh pandangan mayoritas dan minoritas. Seolah-olah yang mayoritas lebih diprioritaskan dari yang minoritas. Hal ini melahirkan tindakan diskriminasi dari kalangan mayoritas terhadap yang minoritas. Untuk itu ke depan kita tidak perlu berpikir mayoritas dan minoritas karena kita semua sama-sama berarti di dalam hidup ini.  Pemerintah dalam segala hal tidak boleh melakukan diskriminasi. Misalnya jangan memaksakan semua orang Indonesia harus berbusana batik. Biarkan juga daerah lain berkembang dengan kekhasan daerahnya seperti di Bali dengan kain endeknya dan daerah lain dengan kekhasannya.
Atas pertanyaan apa harapannya terhadap Gereja Katolik ke depan, Prof.Suryani katakan, yang menjadi harapan saya kepada Gereja Katolik adalah, bisakah umat Katolik meresapkan filosofi agamanya ke dalam dirinya dan menjadi “way of life? Saya memperhatikan ada banyak keluarga yang hidup dengan situasi yang tertekan karena kurangnya kasih sayang. Mungkin ke depan Gereja Katolik bisa lebih menekankan soal bagaimana membangun hidup yang penuh kasih sayang dan cinta mulai dalam keluarga, karena keluarga adalah kunci penanaman nilai. Bila keluarga hidup penuh kasih sayang dan cinta, maka itu akan meluas ke dalam pergaulan hidup di tengah masyarakat. Blasius Naya Manuk,SPd***

Bishop GKPB Pdt. Drs. I Wayan Sudira Husada, M.MGereja Harus Lebih Memperhatikan Kaum Papa

Pdt. Drs. I Wayan Sudira Husada, M.M lahir di Tihingan Banjang Angkan, Kabupaten Klungkung Bali 28 Maret 1953, menyelesaikan S1 Teologi di UKSW Surakarta. Saat ini ia menjabat sebagai Bishop GKPB. Alamat yang bisa dihubungi, Kantor Bishop GKPB Kapal Badung. Nomor yang bisa dihubungi HP 0811388127. Untuk mendapatkan masukan-masukan bagi penyelenggaraan Sinode III Keuskupan Denpasar Agustinus Apollo Daton mewawancaranya. Berikut hasil wawancara.        
Gereja Katolik selama ini sudah cukup memperlihatkan perannya di bidang pendidikan, kesehatan dan pelayanan lainnya. Pandangan Gereja Katolik juga dinilai sudah jauh lebih maju dibandingGereja lainnya tentang keselamatan, di mana keselamatan melalui Yesus Kristus juga ada pada agama lain. Pandangan seperti ini diinspirasi oleh Konsili Vatikan II. Bahwa kemudian, belum sepenuhnya terlaksana sampai ke level terbawah dalam struktur Gereja Katolik, persoalannya lebih pada masalah sosialisasi.
Bishop Gereja Kristen Protestan di Bali (GKPB) Pdt. Drs. I Wayan Sudira Husada, M.M menilai pilihan tema Sinode III Keuskupan Denpasar “Memancarkan Wajah Kristus Melalui Gereja Yang Inklusif Dan Transformatif” sangat tepat. Tema tersebut sangat bagus dan kami sangat senang dengan tema tersebut. Hal ini sesuai dengan  Firman Tuhan dalam 2 Korintus pasal 3 ayat 18, bahwa semua orang Kristen merupakan Tubuh Yesus Kristus.
Sebagai Tubuh Yesus kita harus memacarkan wajah Yesus di tengah masyarakat yang sangat mejemuk.Memahami Yesus berarti memahami kerendahan hati Allah, yang kudus dan suci, namun menyentuh orang di kelompok terbawah yang tersisih, tak berdaya dan orang berdosa. Justru dalam kekudusan Yesus merendahkan diri, yang dibuktikan dengan menderita, mati di salib untuk mengangkat manusia, agar manusia mempunyai nilai, sebagai ciptaan Allah yang mulia. Itu sesungguhnya wajah Kristus yang harus diperankan oleh Gereja di tengah masyarakat.
Bishop Husada mengaku agak prihatin, melihat peran Gereja sekarang ini. Masih banyak di antara kita, baik Katolik maupun Protestan, belum menampakkan wajah Kristus, melalui keterlibatan dan respek kepada kaum papa. Sebagian dari kita masih suka memilih-milih orang. Semestinya yang ditolong adalah orang-orang yang tidak beruntung. Tetapi dalam kenyataannya, Gereja justru lebih banyak memihak kepada orang-orang yang berdaya, elit dan mampu, baik secara ekonomi, jasmani maupun rohani.
Oleh karena itu sangat tepat Keuskupan Denpasar yang mewilayahi Bali dan NTB mengangkat tema “Memancarkan Wajah Kristus Melalui Gereja Yang Inklusif Dan Transformatif” dalam Sinode III yang berlangsung November 2011. Hal ini merupakan momentum introspeksi untuk melihat kembali apakah dalam keseharian Gereja sudah memancarkan wajah Kristus? Sebagai masukan, introspeksi ini nantinya bisa dirumuskan dalam program-program nyata dan aksi konkret Gereja Katolik dengan segenap hirarkinya. Bahkan, sangat bagus kalau hasil rumusan Sinode III nantinya bisa dibagikan kepada gereja-gereja Protestan, khususnya GKPB.
Peran Gereja Katolik, sudah cukup menonjol di bidang pendidikan dan pelayanan kesehatan. Pendidikan dengan identitas Katolik (dan juga Protestan) selalu mengedepankan mutu. Persoalan mutu erat kaitannya dengan masalah sumber daya, termasuk finansial. Di sini, menjadi tantangan tersendiri, bagimana ke depan pendidikan dengan identitas Kristen juga bisa menampung sebanyak mungkin orang Kristen (Katolik maupun Protestan) dari keluarga tidak mampu, namun anaknya cerdas. Bagaimana kita bisa menampakkan wajah Yesus keluar, kalau ke dalam internal sendiri justru kita abaikan.
Keterlibatan orang-orang Katolik dalam politik praktis, dinilainya sebagai bentuk “perlawanan” terhadap realitas praktik politik di tanah air, yang tak lagi berhati nurani. Apalagi kecenderungan pengambilan keputusan politik di Indonesia saat ini bukan lagi berlandaskan pada kepentingan bersama, tetapi lebih pada suara terbanyak. Akibatnya, kelompok minoritas cenderung terpinggirkan. Namunorang-orang Kristen tidak boleh pasrah pada kenyataan ini. Para rohaniwan justru perlu mendorong kaum awam untuk terlibat dalam politik, tidak hanya dalam pengertian praktis, tetapi ikut mewarnai kehidupan berbangsa dan bernegara melalui karya-karya sosial kemasyarakatan.Agustinus Apollo Daton***

Made Arga Pynatih (Wakil Bupati Buleleng)
Tidak Ada Minoritas atau Mayoritas Di Buleleng

Made Arga Pynatih adalah Wakil Bupati Kabupaten Buleleng. Dalam rangka Sinode III Keuskupan Denpasar, perlu mendapatkan masukan-masukan, saran dan kritik dari birokrat. Untuk itu Maisir mewawancarainya di kediamannya di Kota Singaraja. Berikut hasil wawancara tersebut.
Meski terbilang kecil dalam segi jumlah, namun umat Katolik di Kabupaten Buleleng telah memainkan peran yang cukup signifikan dalam dinamika pembangunan. Demikian juga peran Gereja secara institusi, telah memberi kontribusi riil dalam banyak bidang kehidupan di wilayah ini.
Peran yang sama juga ditunjukan oleh umat agama lain seperti Islam, Kristen maupun Budha. Semua umat beragama di Buleleng, sesuai kapasitas masing-masing, telah memainkan peranan yang strategis dalam derap pembangunan wilayah ini, sama halnya dengan apa yang dilakukan oleh umat Hindu sebagai umat dengan jumlah terbesar.
Dalam konteks demikian, alangkah tidak elok apabila ada dikotomi antara  kelompok “minoritas” dan “mayoritas” dalam kehidupan bersama. Tidak ada istilah minoritas atau mayoritas di Buleleng. Pemerintah selalu berusaha memperlakukan setiap kelompok umat beragama setara dan proporsional. Perdebatan mengenai sedikit atau banyaknya jumlah umat suatu agama adalah hal yang tidak substantif dan cenderung kontraproduktif. Sebab yang terpenting adalah bagaimana kehadiran semua agama dapat menjadi “berkat” bagi semua orang.
Dalam konteks pembangunan, segenap kelompok umat beragama diharapkan bisa bersama-sama membangun daerah dalam nuansa toleransi dan solidaritas yang jujur serta mengupayakan dialog yang terbuka untuk kebaikan bersama.Gereja dan umat Katolik di Buleleng sudah melakukan prinsip-prinsip tersebut.Kontribusi Gereja atau umat Katolik dalam pembangunan di Buleleng sudah cukup besar. Secara institusional, kontribusi Gereja Katolik yang paling nyata adalah di bidang pendidikan dan kesehatan. Sementara umat Katolik baik secara indivual mapun komunitas juga cukup aktif dalam pembangunan. Ada yang menjadi guru, dosen, perawat, pangusaha dan sebagainya. Dan kesemuanya itu bermanfaat bagi Buleleng.
Dalam bidang kesehatan misalnya, kehadiran BKIA Panti Sila dipandang telah memberikan jasa layanan kesehatan secara bertanggungjawab.Saya melihat, dan ini benar, pelayanan di Panti Sila dilakukan secara sungguh-sungguh dengan sebuah tanggungjawab moral yang kuat. Sejauh ini saya belum pernah mendengar adanya keluhan dari masyarakat apalagi sampai diprotes. Ibu saya melahirkan adik-adik saya  di Panti Sila.
Dalam bidang pendidikan, sekolah-sekolah swasta Katolik juga telah banyak berkontribusi. Kualitas dan disiplin yang tinggi menjadi “warna” tersendiri dalam dunia pendidikan di Buleleng. Dari lembaga pendidikan Katolik, lahir begitu banyak manusia yang berkualitas dalam banyak bidang kehidupan.Itulah kontribusi nyata Gereja dan umat Katolik.
Keterlibatan Gereja dan umat Katolik dalam kehidupan sosial, dan ekonomi terutama Koperasi patut diapresiasi. Terhadap perkoperasian, Wabup Arga menekankan pentingnya kaidah-kaidah dasar koperasi seperti kebersamaan, kesetaraan, dan kesejahteraan anggota. Maka jangan berorientasi pada profit melulu. Oleh karena itu, pengurus diharapkan mampu menjadikan koperasi sebagai wadah yang mampu berorientasi terhadap perkembangan sosial, terutama peningkatan kesejahteraan anggotanya. Kalau koperasi berhasil, maka masyarakat pasti sejahtera.
Hubungan antara umat Katolik dengan Pemerintah daerah, seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, umat Katolik telah memberi warna tersendiri dalam dinamika pembangunan Buleleng. Memang, ada juga satu dua orang yang terkesan “berlebihan” dalam mengekspresikan sesuatu, namun secara umum masih dalam konteks kewajaran.Di lain sisi, pemerintah daerah tetap memainkan fungsi-fungsi fasilitasi, pembinaan dan mendorong partisipasi.Sebagai Wakil Bupati, saya tentu berharap banyak masukan agar fungsi-fungsi tersebut dapat berjalan optimal.Yosef Maisir  ***

I Dewa Gede Ngurah Swastha, SH 
Bantuan Sosial Boleh, Asal Jangan Disertai Titipan Injil

I Dewa Gede Ngurah Swastha,SH adalah Petajuh Bendesa Agung Majelis Utama Desa Pakraman Provinsi Bali, masih keturunan Dalam Waturenggong.Ia  juga Wakil Ketua FKUB Bali dan Anggota Badan Koordinasi Pengamanan Bali. Alamat Rumah Jalan Pulau Adi No 51 Denpasar. Untuk mendapatkan masukan-masukan, kritik dan saran dalam rangka Sinode III Keuskupan Denpasar Agustinus Apollo Daton mewawancaranya. Berikut hasil wawancara tersebut.
Kerukunan antarumat beragama di Bali sudah ada sejak dulu. Sejak zaman Dalam Waturenggong (Raja Bali) kerukunan itu sudah ada, karena ketika masuk Bali, Sang Raja sudah membawa pengikut-pengikutnya yang sebagian besar adalah umat muslim. Jadi Bali tidak boleh digoyahkan soal kerukunan. Masyarakat Bali selalu terbuka kepada siapa saja yang datang ke Bali. Satu yang kita pegang yakni Desa Kala Patra atau Desa Mawacara, artinya dimana bumi dipijak di sana langit dijunjung. Nah, umat Katolik sebagai pendatang diminta untuk Desa Kala Patra atau Desa Mawacara.
Agar terjadi keharmonisan hubungan, umat Katolik diminta menghargai local genius di masing-masing tempat dimana Gereja Katolik berada. Aturan ditaati, lokal geniusnya dihormati, terutama bagi siapa saja yang datang di desa tersebut. Kalau itu yang dipegang dan ditaati kerukunan pasti terjaga. Hukumnya ditaati local wisdomnya dihormati.
Umat Hindu di Bali sangat welcome, terbuka dengan pendatang.Karakter orang Bali selalu terbuka, sehingga dengan mudah menerima semua golongan. Asal tidak ada niat mengubah kearifan lokal di Bali dan  tidak ada niat mengubah Bali jadi Kristen. Orang Kristen perlu renungkan pesan Mahatma Gandhi kepada seorang misionaris Kristen yang datang  padanya. Jadikan Kami lebih Hindu, maka Anda akan lebih Kristen.
Dalam kehidupan antarumat beragama dan bermasyarakat, umat mesti saling membaur satu dengan yang lain, tanpa ada pembatas (inklusif).Para tokoh antaragama harus memberi contoh dan teladan agar menjadi pijakan umat di tingkat bawah. Hanya dalam tata perayaan agama boleh eksklusif, tapi dalam kehidupan bermasyarakat mestinya inklusif. Dulu kami melihat umat Katolik itu fanatik, keras dan tegas dengan aturan. Namun saat ini, umat Katolik sudah tidak eksklusif lagi.
Keberadaan karya sosial dan bantuan sosial yang dilakukan Gereja Katolik di Bali diakui dan diapresiasi. Munculnya isu kristenisasi disebabkan karena salah penafsiran dan umat sendiri kurang waspada. Karya sosial dan bantuan sosial boleh saja dilakukan, asal tidak terbukti mengajak umat Hindu untuk masuk Katolik.
Isu kristenisasi juga berdampak positif buat Bali dan tokoh-tokoh agama Hindu agar lebih memperhatikan dan menyejahterakan umat dan rakyatnya. Saya kagum dengan lembaga sosial, karya sosial yang ada di Katolik dan Islam. Saya lihat, lembaga sosial Kristen dan Katolik tidak diskriminatif, karena misi sosial itu berkaitan dengan kemanusiaan. Namun karya sosial atau bantuan sosial itu tidak disertai dengan menitip Injil atau Kitab Suci kepada umat yang dibantu.Agustinus Apollo Daton***

 Prof.Dr. I Made Titib, Ph.D
Jangan Iming-iming Umat Hindu Masuk Katolik

Prof. Dr. I Made Titib, Ph.D adalah Ketua PHDI Pusat, Korwil Bali dan Nusra. Ia juga adalah Rektor IHDN Denpasar. Alamat  Rumah Jalan Trengguli I/3 Denpasar Untuk mendapatkan masukan-masukan, kritik dan saran  dalam rangka Sinode III Keuskupan Denpasar Agustinus Apollo Daton  mewawancaranya. Berikut  hasil wawancara tersebut.
Hubungan antara umat Hindu dan Katolik di Bali sudah terjalin sejak lama bahkan sejak puluhan tahun silam. Hendaknya hubungan harmoni yang telah terbangun puluhan tahun harus tetap dijaga. Yang terpenting umat Hindu jangan disakiti, dilecehkan. Kalau terjadi maka akan dilawan bahkan sampai puputan.Yang tidak dibenarkan adalah mengiming-iming, memaksa umat Hindu agar masuk Katolik. Kalau itu yang terjadi maka, merupakan awal sumber konflik antarumat Katolik dan Hindu. Kalau orang masuk Katolik dengan hati nurani sendiri, tidak masalah.
Kehadiran karya sosial Gereja Katolik sangat membantu umat Hindu di Bali. Seperti lembaga pendidikan, umat Hindu bangga bila menyekolahkan anakya di Sekolah Katolik. Terkait isu kritenisasi, saat ini jarang kedengaran lagi. Hal ini disebabkan karena umat Hindu mulai sadar. Ada penelitian yang menyebutkan, saat ini umat Hindu yang masuk Katolik kembali ke agama asalnya (rekonversi). Dalam beberapa tahun terakhir, saya tidak dengar lagi isu kristenisasi. Peranan FKUB sangat penting dalam menyelesaikan masalah-masalah antaragama.
Saya meminta hirarki Gereja meningkatkan kesadaran umat Katolik agar menjaga identitas Bali.Jangan sampai menggunakan simbol-simbol agama Hindu pada upacara perayaan agama. Boleh memakai penjor, asal hanya sebatas dekorasi. Pelihara masing-masing tradisi, gunakan identitas masing-masing. Selama ini tidak ada friksi antarumat Katolik dan Hindu.
Berkaitan dengan lembaga pendidikan Katolik saya berharap agar menyediakan guru-guru agama Hindu di Sekolah Katolik. Karena itu yang dihargai sebagai budi pekerti dan undang-undang sistem pendidikan nasional mewajibkan untuk itu. Biarlah burung-burung mencari cabang kayu. Jangan kayu bercabang mencari burung. Biarlah masing-masing umat mencari agamanya, biarlah umat Hindu mencari identitas dan agamanya, jangan diajak dan diiming-iming materi. Bila memberi atau membantu, bantulah dengan ikhlas tanpa meminta imbalan.Agustinus Apollo Daton***

Cahaya Wirawan Hadi
Gerakan Sosial Hanya Internal, Eksternal Pasif

Cahaya Wirawan Hadi adalah Ketua Perhimpunan Indonesia Tionghoa Bali. Alamat Rumah Jalan Raya Puputan Renon 128 Denpasar. Untuk mendapatkan masukan-masukan, kritik dan saran  dalam rangka Sinode III keuskupan Denpasar Agustinus Apollo Daton  mewawancaranya. Berikut  hasil wawancara tersebut.
Gerakan sosial kemasyarakatan dan kemanusiaan yang dilakukan Gereja Katolik sudah bagus, hanya saja masih sebatas di kalangan internal umat Katolik.Saya lihat gerakan sosial atau bantuan sosial dari Gereja Katolik bagi umat lain (eksternal) masih kurang. Bantuan sosialnya masih sebatas di kalangan internal umat Katolik. Mohon maaf, anda jangan tersinggung. Gerakan sosial ke masyarakat dan lingkungan nyaris tak pernah terdengar.
Terus terang saja saya prihatin dan kecewa dengan lembaga pendidikan Swastiastu (sekarang St. Yoseph)yang dulunya sangat populer dan bermutu. Bahkan di tahun 1970-an orang berlomba-lomba menyekolahkan anaknya di Swastiastu. Sekarang St. Yoseph tak ada yang berubah baik fisik maupun kualitas.
Dulu, di tahun 70-an sekolah ini pilihan terbaik, sekarang ini tidak ada popularitasnya. Kerjasama dengan lembaga pendidikan lain nyaris tidak ada. Swastiastu sudah “kalah” dengan lembaga pendidikan yang setara yang baru dibangun belakangan.Saya bangga dengan Swastiastu tahun 1970-an. Saya alumni di situ. Sekarang saya prihatin, sedih melihat tak ada perubahannnya. Di luar sana, termasuk para alumni selalu berbicara, sebaiknya dananya dipakai untuk pengembangan fisik dan kualitas pendidikan.
Gerakan Agama Katolik hanya untuk kalangan internal saja. Dengan Sinode III ini, momentum bagi umat Katolik bangkit dengan gerakan sosial, dan bantuan sosial untuk kalangan eksternal. Misalnya, di hari Natal dan Paskah menggelar aksi sosial kemanusiaan, membagi sembako tidak hanya kepada sesama umat Katolik, tapi juga untuk umat non-Katolik.Dengan gerakan sosial secara rutin, apakah tidak dicurigai sebagai upaya membujuk atau mengiming-iming menjadi Katolik? Sepanjang bantuan dilakukan dengan iklas, tanpa ada motif lain, tidak ada masalah. Dengan potensi dan kemampuan yang dimiliki Gereja Katolik, hal itu bisa dilakukan dan bisa dalam skala yang lebih besar. 
Bantuan sosial kemanusiaan itu tanpa batas, yang dilakukan dengan tulus dan iklas. Kami di Konghucu melakukan hal itu secara rutin. Kami undang mereka datang ke tempat sembahyang, setelah kami selesai berdoa, mereka dibagikan kupon sembako.Bantuan kita itu tepat sasaran untuk keluarga miskin, sebaiknya berkoordinasi dengan aparat Pemerintah desa setempat. Aparat desa setempat lebih tahu siapa dan berapa jumlah keluarga miskin yang layak dibantu.Agustinus Apollo Daton***


Drs. Ketut Wiana, M.Ag
Jangan Rebut Kuantitas Tapi Kualitas

Drs. Ketut Wiana, Mag adalah Ketua Sabha Walaka Parisada Pusat. Alamat Rumah Jalan Kembang Matahari No 17 Denpasar. Untuk mendapatkan masukan-masukan, kritik dan saran  dalam rangka Sinode III keuskupan Denpasar Agustinus Apollo Daton mewawancaranya. Berikut  hasil wawancara tersebut.
Agama Hindu mengajarkan, tinggalkan agama yang tidak mengajarkan cinta kasih. Dengan ajaran ini umat Hindu di Bali sejak jaman dulu selalu terbuka dan menabur cinta kasih kepada siapa saja, kelompok mana saja yang hidup berdampingan dengan umat Hindu di pulau Bali. Dalam realitas kehidupan antarumat beragama selalu ada persaingan antarlembaga agama untuk menyejahterakan umat. Sebagai umat Hindu, kita tidak boleh tersinggung dengan apa yang dilakukan Gereja Katolik berkaitan dengan karya sosial di tengah masyarakat. Sepanjang aktivitas tersebut memberikesejahtraan pada umat, silahkan saja. Karena bantuan kemanusiaan itu tanpa mengenal batas atau tanpa diskriminatif.
Dalam teori persaingan, persaingan mesti dilawan dengan persaingan yang elegan, bermartabat dan bertujuan meningkatkan kualitas hidup umat beragama. Orang kuat imannya tidak boleh tersinggung dan mengakui kelebihan orang atau kelompok lain. Kelebihan atau keunggulan kelompok lain, mesti dilawan dengan keunggulan dan kelebihan. Para pemimpin umat bersainglah dengan sehat dalam meningkatkan kesejahteraan dan kualitas iman umat. Negara mengharapkan agama melakukan aktivitas sosialnya untuk kesejahteraan rakyat.
Terkait isu kristenisasi saya mendengar isu tersebut beberapa tahun yang lalu. Namun akhir-akhir ini isu tersebut mulai redup, bahkan tidak terdengar lagi seiring dengan kesadaran umat Hindu akan agama yang dianut. Saya berterima kasih kepada Gereja Katolik, karena melalui lembaga atau karya sosial di bidang pendidikan membantu melahirkan dan mencerdaskan sumber daya umat Hindu di Bali. Mereka masuk Sekolah Katolik, tapi tetap beragama Hindu.
Masing-masing agama punya kelebihan dan kekurangan. Agar menjadi inklusif dalam kehidupan antarumat beragama di tengah masyarakat sebaiknya teologi masing-masing agama disingkirkan. Menurutnya, yang diperlukan kerukunan antarumat beragama dijaga dan kebersamaan atau sinergi antarumat dalam menangani dan melestarikan kerusakan alam dan lingkungan. Harapan saya, bersainglah secara elegan, jangan saling berhadap-hadapan, jangan memanfaatkan kesempatan dan jangan menyerang masing-masing kelemahan. Karena inilah sumber dari segala sumber konflik antarumat beragama. Sebaiknya bersinergi antarumat untuk menghadapi kerusakan alam dan moral manusia yang kian merosot saban hari. Partisipasi umat Katolik dalam perpolitikan di Bali boleh-boleh saja dan tak bermasalah, sepanjang dilakukan dengan cara-cara bermartabat. Politik adalah pengabdian. Umat Katolik yang mau tampil di panggung politik harus punya prinsip. Politik tanpa prinsip akan menimbulkan dosa sosial.Ke depan, setiap aktivitas Gereja Katolik di Bali tidak menjadi sumber konflik bagi kerukunan antarumat beragama yang telah terjalin harmonis selama ini.Agustinus Apollo Daton***

Tuan Guru Prof. Zaiful Muslim
Umat Katolik NTB Tidak Pernah Meresahkan

Tuan Guru Prof. Zaiful Muslim  lahir di Lombok Tengah 9 September 1943. Doktor  Manajemen ini adalah Ketua MUI NTB dan bertempat tinggal di  Jalan Pelita 18 Mataram. Nomor telepon  yang bisa dihubungi: 081907085757.
Tanggapan terhadap Sinode III: Tuan Guru Prof. Zaiful Muslim  mengatakan bahwa sinode yang akan dilaksanakan merupakan suatu hal yang bagus untuk melihat perkembangan kehidupan umat Katolik selama lima tahun. Atas pertanyaan apakah Gereja Katolik sudah terbuka dan membawa perubahan keluar atau hanya memikirkan masalahnya sendiri, ia tidak bisa memberikan penjelasan yang pasti. Menurutnya sebagai seorang tokoh Muslim, ia melihat  Gereja Katolik sudah berjalan sesuai dengan misinya.
Apakah Gereja Katolik sudah cukup di kenal oleh masyarakat NTB? Atas pertanyaan ini Prof. Zaiful Muslim menegaskan umat Katolik di NTB (Lombok dan Sumbawa) sudah cukup dikenal. Apakah umat Katolik khususnya tokoh-tokohnya bisa memberi masukan atau membawa masalah, ditegaskannya, sejauh  yang ia lihat  selama lima tahun terakhir umat Katolik khususnya  tokoh-tokohnya sudah cukup bagus dalam komunikasi dan kerja sama dengan tokoh-tokoh agama lain. Sekarang ini saya melihat, belum pernah umat Katolik di NTB ini membuat masalah yang meresahkan kehidupan masyarakat.
Tentang peran Gereja Katolik dalam bidang pendidikan di NTB Prof. Zaiful Muslim mengatakan, beliau melihat hal ini sangat bagus karena telah meningkatkan mutu pendidikan di wilayah NTB. Pendidikan Katolik sejauh pengetahuannya tidak mengkatolikkan tetapi fokus pada hal-hal pendidikan untuk semua orang. Yang seperti ini perlu terus dikembangkan. Tentang keberadaan Rumah Sakit Katolik Antonius di Karang Ujung Ampenan, Prof. Zaiful Muslim mengatakan sangat bagus sekali.Pelayanan bukan hanya untuk masyarakat kota Mataram saja tapi juga masyarakat dari tempat kelahirannya di Lombok Tengah. Sejak dahulu masyarakat dari banyak daerah di Lombok ini bahkan Sumbawa juga  datang ke Rumah Sakit Karang Ujung.
Tentang peran Gereja Katolik dalam bidang ekonomi dengan adanya koperasi simpan pinjam, ia mengatakan sepanjang tujuannya sesuai dengan tujuan koperasi itu bagus. Yang kita hindari kalau di balik itu ada maksud-maksud tertentu. Kalau orang lapar diberi makan, maka bisamacem-macem. Maka perlu diperhatikan agar pelayanan koperasi ini tidak dimaksudkan sebagai cara untuk menarik umat lain yang dapat menggangu kerukunan hidup beragama.
Soal kerja sama umat khususnya tokoh-tokoh Katolik dengan tokoh agama lain khususnya agama Islam, Prof. Zaiful Muslim tegaskan, sepanjang pengalamannya memimpin organisasi Islam beliau melihat selalu ada kerja sama yang baik. Tidak ada soal yang menyebabkan terjadinya disharmoni. Setiap ada persoalan keagamaan kita selalu berkomunikasi. Sampai saat ini belum pernah ada persoalan. Tetapi hubungan dan komunikasi masyarakat Islam dan Katolik perlu ditingkatkan.
Bagaimana dengan isu kristenisasi? Menurut Prof. Zaiful Muslim  isu ini didengar terus menerus. Ia menyesalkan hal ini. Para tokoh agama wajib berdakwah tetapi hendaknya yang didakwahi jangan orang yang sudah beragama supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Dakwah hendaknya ditujukan untuk kalangan umat Kristen atau ke dalam supaya meningkatkan ketakwaan dan meningkatkan penghayatan pesan-pesan moral keagamaan.
Masukan untuk pelaksanaan Sinode III, Prof. Zaiful Muslim mengajak, mari kita bekerja sama untuk membangun NTB ini. Kita mesti menaati aturan-aturan yang ada khususnya dalam berdakwah. Kalau  peraturan Pemerintah ditaati tidak akan ada masalah. Kalau ada ketaatan dan rasa kebersamaan untuk membangun NTB niscaya akan terjadi kerukunan. Kalau ada masalah, marilah kita selesaikan bersama. Jangan sampai kita menunjukkan bahwa kita besar, ini akan menyebabkan kecemburuan sehingga menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan. Rm. Kadek Aryana, Pr***



Ir. Lalu Winengan, MM, MD
Bicarakan Kebersamaan: Dalam Dan Luar Gereja

Ir. Lalu Winengan, MM. MD lahir di Lombok Timur 11 April 1970,berpendidikan Magister dan saat ini adalah Ketua KNPI NTB. Ia adalah Pegawai Negeri Sipil di Kabupaten Lombok Barat dan tinggal di Jalan Batu Brenge Dasan Sari. Nomor HP yang bisa dihubungi: 087865880688.
Tanggapan terhadap Sinode III Keuskupan Denpasar, Ir. Lalu Winengan MM. MD mengatakan sidang ini sangat baik dilaksanakan karena membicarakan kehidupan menggereja. Penting dibicarakan dalam sinode tersebut kebersamaan umat Katolik baik di dalam maupun di luar. Tidak satu agamapun yang menyetujui kekerasan. Karena perubahan sekarang begitu cepat, menurutnyasidang dilaksanakan tidak hanya lima tahun sekali kalau perlu sidang setiap tahun. Gereja perlu terbuka. Gereja bukan hanya gedung atau tempat ibadah tetapi juga tempat musyawarah. Sama seperti mesjid.
Di NTB tidak dikenal istilah Katolik. Yang dikenal itu Kristen. Yang kenal nama ‘Katolik’ hanya para tokoh agama. Hal itu terjadi karena umat Katolik dan tokoh Katolik kurang terbuka. Kalian perlu terbuka dan melakukan sosialisasi diri. Di Lombok ada pandangan bahwa yang ibadah di depan rumah sakit umum dan di sebelah pom bensin Ampenan itu Katolik,sedangkan yang protestan itu yang ada di Jalan Bung Hatta dan di sebelah Taman Mayura.
Menurut Ir. Lalu Winengan MM. MD, pendidikan Sekolah Katolik yang dilakukan di Lombok ini sangat luar biasa. Pelayanan pendidikan yang diberikan sangat terbuka. Tidak mengkhususkan orang Katolik saja tetapi agama lain. Sekolah Katolik juga memberikan pelajaran agama sesuai dengan agama siswa yang sekolah di tempatnya. Dari segi mutu sangat luar biasa. Sebagai contoh pada jaman ia sekolah di SMA I Mataram, hanya SMA Katolik Kesuma yang dapat menyaingi SMA I Mataram. Baginya sekolah Katolik telah memberikan banyak sumbangan bagi pedidikan masyarakat NTB. Sekolah Katolik selama ini adalah sekolah yang terbaik diantara sekolah-sekolah swasta yang ada di NTB.
Bagaimana pandangannya tentang Rumah Sakit Katolik? Keberadaannya  di tengah masyarakat itu sangat luar biasa. Terbuka dan diterima oleh masyarakat. Bahkan tokoh-tokoh Islam banyak yang berobat di sana. Salah satu teman saya di perpolitikan meninggal di Rumah Sakit Itu. Sayangnya, sekali lagi orang tahu itu rumah sakit Kristen bukan Katolik.
Tentang isu kristenisasi Ir. Lalu Winengan MM. MD katakan, sekarang ini isu-isu kristenisasi dari suatu kelembagaan kurang didengar. Hanya ada sedikit  kristenisasi melalui perkawinan. Tapi dulu ada beberapa gereja dan tokoh yang melakukan itu.  Beliau menyebut seorang tokoh Kristen, Pak Markus,  yang sering memberikan bantuan sosial namun merekrut anggota untuk masuk kelompoknya atau supaya masuk Kristen. Masyarakat Lombok mengetahui  bahwa Pak Markus itu Katolik, padahal sekarang dia tokoh Protestan. Nah, menurut beliau hal-hal seperti inilah yang harus disampaikan dalam dialog atau komunikasi dengan tokoh-tokoh agama lain. Dakwah hendaknya ditujukan untuk kalangan Kristen atau Katolik sendiri.
Bagaimana pandangan tentang tokoh Katolik yang berpolitik?  Menurutnya,  sekarang ini tidak ada tokoh Katolik yang masuk dalam dunia perpolitikan khususnya di NTB. Memang ada beberapa yang terlibat di partai politik tetapi mereka dikenal sebagai tokoh Kristen. Tokoh-tokoh itu pun bukan tokoh besar. Memang dulu ada tokoh-tokoh besar seperti  Pak Norbert Ama Ngongo, Pak Bernadus Sore, juga dosen saya dulu, Pak Aris.
Masukan untuk sinode, kalau sidang sinode dua setengah tahun sekali. Supaya perkembangan umat cepat diketahui, Gereja Katolik perlu lebih terbuka. Dan tolong, dalam sinode dibicarakan soal kebersamaan di dalam Gereja maupun di luar. Rm. Kadek Aryana***

   Mamiek Ansar
Bersama Wujudkan Kerukunan di NTB

Mamiel Ansar lahir di Mataram dan berpendidikan Magister. Jabatan sekarang  Ketua Adat Masyarakat Sasak Lombok. Ia adalah Dosen Universitas 45 dan tinggal di Jalan Langko, Mataram. Nomor telpon yang bisa dihubungi: 0370621434.
Tanggapannya terhadap Sinode III Keuskupan Denpasar: Sinode adalah sebuah acara yang sangat positip untuk melihat perkembangan kehidupan umat Katolik dan merencanakan arah umat untuk semakin berpartisipasi dalam kehidupan masyarakat NTB.
Apakah pemimpin dan umat Katolik di wilayah NTB terbuka dan membawa perubahan terhadap masyarakat NTB,menurut Mamiek Ansar, tokoh dan umat Katolik NTB sekarang belum terlalu terbuka. Memang ada satu atau dua orang yang sudah terbuka dan mengikuti kegiatan-kegiatan khususnya dengan adanya FKUB (Forum Kerukunan Umat Beragama). Keterbukaan hanya sebatas silaturahmi waktu ada upacara keagamaan, acara yang dibuat Pemerintah atau kesempatan-kesempatan tertentu saja.
Atas pertanyaan apakah tokoh dan umat Katolik sudah membawa perubahan, ia mengatakan, memang ada satu dua tokoh umat Katolik yang saya lihat cukup berpengaruh dan mewarnai kehidupan masyarakat NTB. Tetapi masih sangat sedikit. Saya ingat sosok Bapak Norbert Ama Ngongo demikian pula kawan saya Bapak Bernardus Sore.
Apakah umat Katolik dikenal di NTB, Ansar  katakan,  umat Katolik  tidak terlalu dikenal oleh masyarakat NTB. Yang dikenal adalah umat kristiani. Orang disini sulit membedakan mana Katolik mana Protestan. Pokoknya semuanya Kristen.Bagi saya yang Katolik di Lombok ini ya umat yang gerejanya di depan Rumah Sakit Umum, dan di Panen Abadi Ampenan.
Apakah kehadiran umat Katolik di NTB membawa pengaruh positip atau malah mendatangkan masalah, Mamiek Ansar katakan, seperti masyarakat lain pasti ada saja pengaruh kehadiran umat Katolik di NTB. Yang jelas sampai sekarang ini saya melihat bahwa umat Katolik tidak pernah membuat masalah. Malah waktu kerusuhan itu mereka malah mendapat masalah yang kita semua sebenarnya tidak inginkan.
Tentang pelayanan Gereja Katolik di bidang kesehatan ia katakan kehadiran Rumah Sakit  Katolik di wilayah NTB sangat membantu masyarakat. Pelayanan Rumah Sakit Katolik yakni,Rumah Sakit Karang Ujung, memang  sudah cukup lama dikenal oleh masyarakat Lombok. Pelayanannya bersifat umum dan tidak membeda-bedakan pasien. Sekarang saya melihat juga Rumah Sakit tersebut bekerja sama dengan rumah sakit lain. Pelayanan kesehatan ini perlu ditingkatkan lagi.
Sementara itu di bidang pendidikan, saya melihat keberadaan Sekolah-Sekolah Katolik di wilayah NTB memberikan banyak sumbangan bagi peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) di wilayah NTB. Sebagai sekolah swasta,Sekolah Katolik memiliki kualitas yang bagus. Ketika sekolah negeri masih sedikit, Sekolah Katolik menjadi saingan utama sekolah negeri. Saya juga salut bahwa Sekolah Katolik sangat memperhatikan pelajaran agama para siswanya. Masing-masing siswa diberi kesempatan belajar agama menurut agamanya. Bagi saya sebagai sebuah pengetahuan sebenarnya tidak masalah kalau siswa belajar agama lain agar dapat mengerti agama lain. Dengan demikian menambah wawasan mereka dan dapat  bergaul dengan luas.
Bagaimana tentang keterlibatan umat Katolik di bidang politik? Mamiek Ansar  katakan, dulu ada beberapa tokoh Katolik yang terlibat dalam kehidupan politik karena ada wadah atau partai Katolik. Sekarang tidak ada partai Katolik. Beberapa tokoh Katolik masuk dalam partai nasional namun belum mendapatkan suara dari masyarakat.
Masukan untuk Sinode, selamat mengikuti sinode. Semoga kita dapat bekerja sama dalam mewujudkan kerukanan di NTB yang majemuk. Senang sekali bila bisa ikut hadir dalam acara Sinode tersebut.
Rm. Kadek Aryana,Pr***

 Drs. Benediktus Haro, M.Pd
Iman Harus Membumi

“Sinode III adalah sebuah momentum yang sangat strategis dan kesempatan saling bertemunya para imam dengan tokoh-tokoh umat dan kalangan biarawan-biarawati di keuskupan kita di bawah bimbingan dan pimpinan Bapa Uskup. Sinode ini menjadi strategis untuk merefleksikan perjalanan karya pastoral  Keuskupan Denpasar yang telah berjalan beberapa tahun silam ini.”
Pembimbing Masyarakat (Pembimas) Katolik Kantor Kementerian Agama Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) Drs. Benediktus Haro, M.Pd, menuturkan hal di atas kepada Hironimus Adil, dalam sebuah wawancara via telepon akhir Oktober lalu. Menurut Pak Beni, demikian sapaan akrab pria kelahiran 15 Mei 1964 ini, perlu ada evaluasi bersama dan secara menyeluruh terhadap perjalanan karya pastoral dan dari evaluasi itu dapat merumuskan langkah-langkah strategis dalam wujud arah karya pastoral serta visi dan misi Keuskupan Denpasar ke depan.
“Kita berharap adanya arah karya pastoral, visi dan misi yang relevan dengan kebutuhan umat maupun situasi sosial kemasyarakatan di keuskupan ini”,demikian katanya. Ke depan, lanjutnya, fokus pada peningkatan iman umat juga tetap menjadi poin perhatian, dan yang utama justru iman umat harus membumi sesuai dengan kondisi dan budaya setempat. Artinya, bagaimana ajaran iman Katolik yang luhur itu menjadi daya dorong untuk kita berbuat kebaikan di tengah masyarakat, baik secara pribadi maupun secara komunitas melalui karya-karya pastoral yang dapat menyentuh tidak saja demi kesejahteraan umat melainkan juga masyarakat umum di sekeliling kita.Dalam melakukan perbuatan baik itu tentu tetap menghargai dan memperhatikan situasi dan budaya masyarakat setempat. 
Terkait dengan cita-cita “Memancarkan Wajah Kristus Melalui Gereja Yang InklusifDan Transformatif”, sebagaimana tema Sinode III, Pak Beni justru menyarankan agar itu dimulai dari perilaku umat sendiri, yakni saling terbuka dan meninggalkan sukuisme dalam Gereja. Karena itu sangat diharapkan supaya sekat-sekat sukuisme dalam Gereja harus ditiadakan, dan mengedepankan semangat Gereja yang satu, kudus, Katolik dan apostolik. Harapan ini berkaitan erat dengan semangat Gereja yang inklusif dan transformatif.
Ditanya bidang kehidupan yang paling urgen untuk dibenahi dan diperhatikan Gereja Keuskupan Denpasar saat ini dan ke depan, menurut Pembimas Katolik NTB yang telah menjabat sejak 26 Februari 2002 itu adalah aspek ekonomi umat dan pendidikan. Dari aspek ekonomi umat, perlu secara serius memperhatikan dan membantu beberapa kantong Katolik yang kesejahteraan umatnya masih perlu ditingkatkan seperti di Donggo dan beberapa wilayah lainnya. Demikian pula dari aspek pendidikan, perlu perhatian riil kepada jaminan pendidikan terutama bagi keluarga kurang mampu. “Pepatah klasik mengatakan kurangnya pendidikan sangat dekat dengan kebodohan, dan kebodohan sangat dekat dengan kemiskinan,” demikian pak Beni menyitir salah satu pepatah yang cukup populer, yang menggambarkan betapa pentingnya pendidikan bagi perbaikan kesejahteraan manusia.
Bimas Katolik sendiri, sebagai mitra sekaligus jembatan penghubung antara Gereja dan Pemerintah, menurut Pak Beni, memiliki beberapa program strategis dalam menjawab persoalan kesejahteraan umat di atas. Dan supaya program itu terlaksana perlu ada kerjasama yang baik antara Gereja dengan Pemerintah (Bimas Katolik). “Kita mempunyai program bantuan Block Grant (dana hibah) untuk membantu pemberdayaan masyarakat (umat). Kegiatannya bisa berupa pelatihan-pelatihan, misalnya pelatihan keterampilan atau pelatihan menciptakan peluang usaha ekonomi rumah tangga. Pemerintah akan menyediakan fasilitasnya berupa pendanaan kegiatan/pelatihan, Gereja hanya menyediakan tenaga pelatih dan orang-orang yang akan ikut dalam pelatihan dan sepenuhnya untuk mendanai tenaga ini dari dana block grantitu,” urainya.   
Sementara itu dalam bidang pendidikan, menurut Pembimas Katolik yang juga sangat aktif sebagai pengurus Dewan Pastoral Paroki Mataram dan Dewan Pastoral Dekenat NTB ini, selama kurang lebih empat tahun terakhir Bimas Katolik NTB memiliki program bantuan beasiswa bagi pelajar SD hingga SMA dari keluarga kurang mampu. Pada tahun 2011 ini, Bimas Katolik NTB membiaya pendidikan para siswa SD dan SMP sebanyak 28 orang dan pelajar SMA 17 orang. “Program beasiswa ini sudah menjadi program tetap Bimas Katolik NTB. Pada tahun 2012 nanti kita akan memberikan beasiswa juga kepada mahasiswa S1 dan S2,” ujarnya. Pak Beni berharap, Gereja pun perlu pro aktif memperhatikan orang-orang muda yang potensial namun terkendala oleh biaya pendidikan. “Mereka harus dibantu,” katanya.
Ketika ditanya soal pendapatnya bahwa di tengah masyarakat umum, Gereja Katolik kurang dikenal secara spesifik, di mana masyarakat hanya mengenal kristiani secara umum, menurut Pembimas NTB ini, hal tersebut juga cukup dirasakan di daerahnya. Menurut pak Beni, itu disebabkan karena awam kita kurang berani bersosialisasi dengan komunitas lain di luar Gereja Katolik. Hal ini diperkuat pula oleh pandangan kaum klerus (imam) kita yang masih menganggap politik itu bukan urusan Gereja. Padahal awam membutuhkan dorongan riil maupun dorongan moral para imam agar mereka bisa bergerak, tidak alergi politik dan pada gilirannya memiliki keberanian dan militansi untuk berjuang di tengah masyarakat termasuk membangun komunikasi dan kerjasama dengan komunitas lain.
Pak Beni sangat tidak meragukan sumber daya Gereja termasuk SDM yang dimiliki. “Sumber daya kita termasuk SDM bagus, tetapi keberanian kita yang kurang. Perlu ada dorongan riil dan nasehat moral dari para imam selaku pemimpin Gereja supaya kaum awam kita bergerak,” tegasnya. Di masa lalu, kata pak Beni, awam Katolik banyak yang sangat militan dan dikenal luas karena posisi maupun perjuangannya. Itu karena ada gembala yang menuntun dan mendorong mereka. Sebut saja Mgr. Sugyopranoto, uskup pribumi pertama yang terkenal dengan semboyan menjadi Katolik 100% dan Indonesia 100%. Demikian pula Rm. Beck, SJ, yang serius melakukan kaderisasi bagi kaum awam yang dikenal dengan “Kasebul” (kaderisasi sebulan).
Kendati demikian, menurut Pak Beni, dialog dalam berbagai bentuk seperti dialog karya maupun dialog kehidupan saat ini, Gereja sudah menjalankannya dengan baik dan itu sungguh dirasakan. Dia mencontohkan di Mataram, setiap ada perayaan keagamaan saudara-saudara yang Islam atau Hindu, Gereja ikut berpartipasi melalui bantuan berupa bahan kebutuhan pokok atau menyumbangkan hewan kurban kepada komunitas Islam saat Idul Fitri. Masih ada juga bantuan dalam bentuk lainnya. Demikian pula dalam ranah kerja sama lintas agama maupun dalam bentuk pertemuan-pertemuan, Gereja cukup pro aktif.
Agar Gereja Katolik semakin dikenal dan ada dalam hati masyarakat maka dialog  itu jangan pernah  berhenti. Oleh karena itu, Komisi Kerasulan Awam perlu diperhatikan dan diberdayakan dan selanjutnya memberikan peran yang luas bagi kaum awam untuk mengekspresikan diri. Demikian pula komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan (HAK). “Perlu lebih gencar lagi dalam membangun komunikasi dan silahturahmi. Kita di NTB, sudah menjadi program tetap bahwa setiap hari raya keagamaan tertentu kita melakukan kunjungan kepada Pemerintah, para Tuan Guru, Pedanda, maupun tokoh agama dan tokoh berpengaruh lainnya,” katanya.
Hubungan Gereja Katolik dengan Pemerintah daerah selama ini, menurut Pak Beni, sangat baik dan istimewanya Gereja yang pro aktif membangun hubungan baik itu. Hal itu, katanya, tidak terlepas dari seorang figur yang pernah berkarya di NTB, yakni Rm. Rosarius Geli, SVD, mantan Deken NTB. “Saya pribadi mengagumi figur seperti Romo Rosarius Geli, dia telah meletakkan dasar yang baik dalam membangun hubungan akrab dengan Pemerintah dan masyarakat di NTB. Romo Rius sangat dikenal di kalangan Pemerintah dan tokoh-tokoh agama. Itu bisamenjadi contoh bagi kami dan umat lain serta para imam di NTB untuk melanjutkannya, sehingga kondisi NTB menjadi sangat kondusif.”
Dampak ril yang dirasakan dari hubungan baik itu, salah satunya adalah ketika berhembus isu akan terjadi gangguan keamanan di NTB pada akhir Oktober lalu, Gubernur NTB dan aparat keamanan langsung berkoordinasi dengan para tokoh agama demi antisipasi dan menenangkan masyarakat.
Di akhir wawancara, Pak Beni, menitipkan pesan agar Sinode III dapat menghasilkan arah karya pastoral yang sesuai kebutuhan umat yang mendesak serta program pastoral yang terukur dan menyentuh kebutuhan. “Bukan program-program yang hanya indah di atas kertas,” harapnya.
Berbicra tentang KBG, menurut Pak Beni, masih sangat relevan dan strategis sebagai kendaraan berpastoral. “KBG masih relevan dan strategis sebagai kendaraan berpastoral, karena KBG merupakan cara hidup menggereja yang sangat efektif, komunitasnya kecil, mudah saling mengenal, saling mengetahui masalah dan kebutuhannya serta saling rindu untuk bertemu. Semua itu ada di KBG,” tuturnya.Hironimus Adil***    
     
Drs. Ludovikus Lena, MM 
Orang Katolik Belum Mewarnai Masyarakat

Drs. Lodovikus Lena,MM  lahir di Ngada 1 Oktober 1965  dan sekarang  adalah Pembimas Katolik di Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Bali. Ia  tinggal di  Jalan Letda Tantular Civic Centre Denpasar Bali. Nomor yang bisa dihubungi 0361-224072, Fax 0361-222716, HP 08124610067. Dalam rangka menggali masukan untuk Sinode III Keuskupan Denpasar, Agust G Thuru  mewawancarainya. Berikut  hasil wawancara tersebut.
Gereja Katolik Keuskupan Denpasar yang meliputi wilayah Bali, Lombok dan Sumbawa akan menyelenggarakan Sinode III. Sinode adalah semacam Sidang Raya dimana pimpinan Gereja mengundang umat untuk rapat lima tahunan. Menurut saya, sinode merupakan momentum yang sangat tepat untuk melihat kembali/merefleksikan karya pastoral Gereja Katolik Keuskupan Denpasar selama lima tahun yang lalu dalam segala aspek kehidupan baik aspek keagamaan, pendidikan, sosial, ekonomi. Melalui sinode, semua unsur umat dilibatkan untuk memberikan penilaian, evaluasi dan masukan, aspirasi sehingga dapat menyusun visi, misi dan program serta kegiatan konkrit lima tahun ke depan untuk pengembangan karya pastoral Gereja Katolik Keuskupan Denpasar dan juga untuk meningkatkan kualitas ke-Katolik-an dan kualitas ke-Indonesia-an masyarakat Katolik di Bali. Melalui sinode, dengan mempertimbangkan pencapaian program lima tahun yang lalu seiring dengan berbagai perubahan situasi, perlu menyusun visi, misi dan program baru serta kegiatan-kegiatan konkrit yang tepat sasaran.
Sinode III Keuskupan Denpasar menetapkan tema Memancarkan Wajah Kristus Melalui Gereja Yang Inklusif Dan Transformatif. Menurut saya, tema ini sangat bagus karena selain tuntutan globalisasi dan modernisasi, Gereja Katolik Keuskupan Denpasar berada di tengah-tengah dua kelompok agama besar yaitu Agama Hindu di Pulau Bali dan Agama Islam di Pulau Lombok dan Sumbawa.
Gereja Katolik yang diinginkan oleh umat dan pimpinan Gereja Katolik adalah Gereja Katolik yang inklusif, terbuka dan memasyarakat. Menurut saya, Gereja Katolik  belum inklusif/belum memasyarakat sepenuhnya. Hal ini disebabkan kekurangan imam dan agen pastoral Gereja dalam memancarkan wajah Kristus.
Gereja Katolik yang dikehendaki adalah yang  transformatif, membangun dialog dengan Pemerintah, dengan tokoh agama dan dengan umat beragama. Menurut pengamatan saya, akhir-akhir ini, khususnya Gereja Katolik Lokal Keuskupan Denpasar yang digembalai oleh Mgr. Dr.Silvester San, sudah mulai transformatif, membangun dialog dengan Pemerintah, dengan tokoh agama dan dengan umat beragama lain.
Kehadiran Gereja Katolik di tengah masyarakat menurut saya, belum seluruhnya dikenal karena kurangnya agen pastoral dan kurangnya pemberdayaan agen pastoral yang ada.Kehadiran umat Katolik di masyarakat mayoritas belum memberi warna atau pengaruh positif. Meski demikian peran Gereja Katolik sudah menjadi bagian dari penyelesaian masalah sosial kemasyarakatan.
Sejak awal kehadirannya di Pulau Bali, Karya pelayanan Gereja Katolik di yang cukup menonjol, di antaranya adalah bidang pendidikan, kesehatan dan sosial ekonomi. Ini merupakan karya yang sudah bagus. Hanya saja di era persaingan seperti dewasa ini perlu penguatan dan peningkatan kualitas lembaga-lembaga tersebut diatas, karena kalau tidak, suatu saat lembaga lembaga tersebut bisa redup bahkan bisa padam karena kalah kompetisi. Kehadiran Sekolah-Sekolah Katolik telah turut mencerdaskan masyarakat Bali. Namun Sekolah Katolik harus inklusif tapi tidak kehilangan identitas kekatolikannya dan membangun lagi komunikasi, kerjasama dengan mitra (Pemerintah dan lembaga terkait lainnya).
Di bidang kesehatan Gereja Katolik mendirikan rumah sakit, poliklinik atau BKIA.Karya pelayanan kesehatan sudah baik, tapi saya mengusulkan  lebih memperhatikan lagi masyarakat yang miskin dan tidak mampu. Di bidang sosial ekonomi, Gereja Katolik mendirikan koperasi kredit yang terbuka bagi kelompok umat beragama lain. Ini sesuatu yang bagus dan hal ini menunjukkan bahwa kita sudah mulai memancarkan wajah Kristus kepada kelompok umat beragama lain dengan semangat cinta kasih, kekeluargaan dan persaudaraan sejati.
Gereja Katolik juga menjalankan karya-karya sosial seperti panti jompo dan panti asuhan. Ini karya bagus karena memperhatikan mereka yang tidak berdaya dan perlu penguatan lembaga tersebut dari Gereja.
Saat ini Pemerintah Provinsi Bali sedang gencar dengan gerakan Bali Green Province dan Bali Clean Province. Gereja Katolik harus mendukung dan menyukseskan program Pemerintah ini. Tanggungjawab clean and green bukan tanggung jawab Pemerintah saja, melainkan seluruh masyarakat termasuk masyarakat Katolik.
Sedikit sekali orang Katolik yang terjun ke dunia Politik. Hal itu terjadi di Bali maupun Lombok dan Sumbawa. Saya kira bukan karena umat Katolik minoritas dan bukan pula tidak ada kemauan dari umat Katolik untuk ambil bagian dalam politik, tetapi karena Gereja kurang memperhatikan kaderisasi awam melalui pendidikan dalam segala bidang khususnya dalam bidang politik.
Gereja Katolik bisa diajak bekerja sama dengan Pemerintah setempat dan harus bisa bekerjasama dengan Pemerintah. Pemerintah dan Gereja Katolik adalah mitra kerja yang dapat bergandengan tangan untuk melayani, memfasilitasi masyarakat agar mampu berpartisipasi aktif dalam pembangunan. Pelayanan dan pengabdian kepada umat semakin efektif dan produktif bila terjalin komunikasi, koordinasi dan kerjasama yang konstruktif antara Gereja Katolik dan Pemerintah. Pembangunan masyarakat bukan hanya tugas dan tanggung jawab Pemerintah tetapi menjadi tugas dan tanggungjawab semua elemen termasuk Gereja Katolik.
Gereja Katolik di Bali adalah kelompok minoritas ditengah mayoritas umat Hindu, namun Gereja Katolik ikut menjaga dan menciptakan suasana yang kondusif dan membangun kerukunan dan persaudaraan sejati dengan umat Hindu. Umat Katolik di Bali adalah warga Negara Indonesia. Saya berharap sebagai warga negara, umat Katolik harus menaati peraturan-peraturan yang berlaku dan melaksanakan kewajiban-kewajiban sebagai warga negara, misalnya bayar pajak, memelihara lingkungan, ikutserta dalam pembangunan.
Di masyarakat banyak beredar isu adanya kristenisasi. Tanggapan saya, itukan isu dan isu itu belum tentu benar. Sidang raya ini sudah pasti mengeluarkan dana yang tidak sedikit oleh karena itu perlu dipersiapkan, direncanakan dan dilaksanakan secara baik sehingga dapat menghasilkan suatu visi, misi dan program strategis serta kegiatan-kegiatan konkrit untuk pengembangan karya pastoral Gereja Katolik Keuskupan Denpasar lima tahun ke depan. Agus Gedho Thuru***

No comments:

Post a Comment