Saturday, February 7, 2015

TINJAUAN DARI PERSPEKTIF TEOLOGIS


WAJAH GEREJA, WAJAH KRISTU
 
Rm.DR.Raymundus Sudhiarsa, SVD.

Berdasarkan tema Sinode III,”Memancarkan Wajah Kristus Melalui Gereja Yang Inklusif Dan Transformatif”, Romo DR. Raymundus Sudhiarsa,SVD diundang untuk membawakan materi berdasarkan tema tersebut ditinjau dari perspektif Teologi. Judul materi yang diberikan adalah “Wajah  Gereja, Wajah Kristus”.  Ringkasan materinya dapat kami sajikan berikut ini.

Gereja: Missio Dan Communio.
·         Wajah Gereja Kita
“Hendaklah kamu, dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus” (Filp 2:5).
·         Dua Dimensi Hidup Menggereja (ad extra, ad intra)
Kata Yahwe kepada nabi Yesaya: “Terlalu sedikit bagimu hanya untuk menjadi hamba-Ku, untuk menegakkan suku-suku Yakub dan untuk mengembalikan orang-orang Israel yang masih terpelihara. Tetapi Aku akan membuat engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa supaya keselamatan yang dari pada-Ku sampai ke ujung bumi.”(49:6).
Teladan komunitas perdana: berdoa dan berbakti, saling berbagi dan melayani, melaksanakan misi penyelamatan di dalam dan kepada dunia (bdk.Kis.2:41-47).
·         Pewartaan dan Kesaksian
Ciri paguyuban kristiani: saling mengasihi sebagai jiwa “liturgi kehidupan”(bdk.Yoh.13:34-35).
Metode Penginjilan: Kesaksian hidup, pewartaan verbal(khotbah yang hidup, liturgi sabda), katekese, pemakaian media massa, kontak pribadi, sakramen-sakramen, kesalehan-kesalehan rakyat, dan lain sebagainya (bdk EN 40-48).
Paus Paulus VI:Manusia modern lebih senang mendengarkan kesaksian daripada pengajaran. Dan, bila mereka mendengarkan para pengajar, hal itu disebabkan karena para pengajar tadi merupakan saksi-saksi”(EN 41).
Metode misi tradisional yang efektif: pendidikan, kesehatan dan sosial karitatif.

Missio : Gereja Dan Dunia.
·      Gereja di dalam dunia dan untuk dunia (bdk Filp 2:1-11)
Gereja pada hakikatnya missioner: doing, being (AG 2; LG 1; EN 14).
Gereja yang berdialog (FABC: agama-agama, budaya-budaya, kaum miskin): dialog kehidupan, dialog karya, dialog teologis, dialog pengalaman rohani; pertemuan yang saling memberdayakan.
Misi Gereja: partisipasi dalam “mission Dei”. Misal, doa St. Fransiskus Assisi: “Jadikanlah aku pembawa damai!” (bdk.Mat.5:9).
“Nabi adalah orang yang merasakan pengalaman umat”( bdk  GS 1).
·      Gereja “Orang Asing”, “Pendatang”, “Tamu”
Beban sejarah. “Dua agama berbeda tidak bisa hidup bersama di bawah satu atap”(Mai Thanh, “Aspects of Christianiy in Vietnam”, Concilium (2/1993):95).
Gereja membuat dirinya tampak asing? Keterasingan budaya (bdk EA 20).
Nasihat Yohanes Paulus II (1982) tentang “iman yang membudaya.
Ad Gentes, 2 :Pada hakekatnya Gereja peziarah bersifat missioner, sebab berasal dari perutusan Putera dan perutusan Roh Kudus menurut rencana Allah Bapa” (bdk.LG 1).
Evangelii Nuntiandi, 14:Evangelisasi sungguh merupakan rahmat dan panggilan khas dari Gereja, identitasnya yang paling dalam. Gereja ada untuk mengadakan evangelisasi.”
Teologi Dialog: passing-over dan coming back (beralih ke tradisi-tradisi lain, mendapatkan pola pikir dan pola laku yang baru, dan selalu kembali lagi ke tradisi Gereja dengan pola pikir dan pola laku yang diperbaharui); bukan hanya menginjili saja, tetapi terbuka untuk diinjili (evangelixing as well as being evangelized). Bandingkan Petrus di rumah Kornelius di Kaisarea (Kis 10).
Misi: berpartisipasi dalam karya Allah yang menyelamatkan dunia. Gereja hanyalah partisipan. Teologi partisipatif.

Communio: Gereja, Komunitas Alternatif.
·         Gereja dibentuk  menurut nilai-nilai yang diajarkan Kristus.
Paguyuban khusus: cinta kasih, anti-kekerasan, theologia crucis (theologia gloriae). Bandingkan “Khotbah di Bukit” (Mat.5:7). Nasihat Bunda Theresa dari Kalkuta.
Bali-NTB minoritas diaspora, dianggap “pendatang” maka bukan menjadipohon yang besar” tetapi “garam” atau “ragi”, juga  “domba di tengah serigala.”
·      Komunitas Pemuridan (metanoia).
Nilainya dirasakan. “Sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu bahwa kamu adalah murid-muridKu, yaitu jikalau kamu saling mengasihi”(Yoh.13:34-35).
Keanggotaannya “lintas budaya-etnis” (Yahudi-Romawi-Eropa Barat-Asia-Keuskupan Denpasar); cirinya “pembinaan diri berlanjut.
·      Gereja pribumi, matang, mandiri.
Cukup dalam hal “tenaga pastoral, dana, semangat misioner, dan teologi lokal.” Dalam hal berteologi, Yohanes Paulus II menganjurkan agar “dilaksanakan dengan berani dalam kesetiaan kepada Kitab Suci dan Tradisi Gereja, dalam ketaatan yang tulus kepada Magisterium dan dengan kesadaran akan kenyataan-kenyataan pastoral”(EA 22).
Terlibat dalam isu-isu lokal (termasuk isu adat, gender, krisis ekologi, dan sebagainya).

Umat basis Gerejawi: tempat yang penting untuk inkulturasi dan pembangunan Gereja Lokal (tesis 9, Komisi Teologi FABC,1986).

·      Dewasa ini di banyak tempat di Asia, umat basis  (kelompok kecil orang beriman) telah dibentuk dan berkembang untuk menjawab kebutuhan kehidupan dan misi Kristen. Dalam kelompok-kelompok ini, melalui doa yang berpusat pada Sabda Tuhan dan Ekaristi, melalui pertemuan, saling membagi pengalaman iman (sharing) dan saling melayani, orang Kristen mengalami apa itu bergereja. Karena di situ orang-orang Kristen saling mengenal satu sama lain, mereka memperkuat iman satu sama lain. Persekutuan dan partisipasi menjadi realitas hidup. Dan karena mereka bergulat dengan persoalan-persoalan hidup dalam terang Sabda Allah, mereka mampu memetik secara pribadi untuk diri mereka makna Sabda Tuhan dan mengetahui tantangan-tantangan dan tuntutan konkretnya. Kendati banyak umat basis memusatkan perhatian pada pengembangan doa dan komunitas  dan saling membantu, tidak sedikit yang berusaha mencari dan memperbaiki sebab-sebab fundamental keterbelakangan dan ketidakadilan serta menghasilkan transformasi dalam masyarakat. Dengan demikian umat basis menjadi tempat dan agen yang sangat berdaya untuk inkulturasi Injil. Dalam umat basis Injil Kristus menjadi Injil umat.
·      Agar umat basis tidak menjadi terisolasi dan tidak diperalat oleh ideologi-ideologi, agar mereka mempertahankan ciri gerejawi, mereka harus memelihara persekutuan dengan para gembala Gereja. Satu sarana yang sangat penting untuk mencapai persekutuan itu adalah pembinaan terus menerus para pemimpin umat basis itu (lihat Evangelii Nuntiandi, 58).
·       Di banyak wilayah negara kita, di mana orang Kristen sangat sedikit dan tinggal berjauhan, mereka sering menghadapi masalah-masalah yang sama seperti orang-orang yang beragama lain. Karena mereka hidup dan berjuang bersama untuk menghadapi masalah-masalah ini, orang-orang  Kristen dan orang beragama lain bisa dilihat sebagai umat basis masyarakat. Dalam kelompok-kelompok ini kehidupan iman orang Kristen dapat bertumbuh karena mereka terlibat dalam dialog kehidupan dengan orang-orang beragama lain, yang bersama mereka menghadapi masalah-masalah kehidupan, seperti perjuangan melawan kemiskinan, perjuangan untuk keadilan, hak asasi manusia dan usaha membangun suatu dunia yang damai dalam keanekaragaman. Kelompok-kelompok sosial kecil bisa menjadi tempat khusus untuk mengalami dan memberikan kesaksian tentang kehadiran Roh di tengah orang-orang yang berkehendak baik. Kelompok-kelompok itu juga memberikan kesempatan untuk kesaksian Kristen sejati bagi orang-orang yang beragama lain. Lebih lanjut, dalam interaksi mereka dengan orang-orang beragama lain, yang bersama mereka membentuk kelompok basis masyarakat, orang-orang Kristen bisa bertindak sebagai ragi untuk transformasi sosial dan manusiawi.

Citra-Citra Kristus yang menyapa cita rasa orang-orang Asia.
·         Ecclesia in Asia, 20: Yesus Kristus sebagai Guru Kebijaksanaan, Sang Penyembuh dan Pembebas, Pembimbing Rohani. Dia yang diterangi, Sahabat yang berbela Rasa, dengan kaum miskin, orang Samaria yang murah hati, Gembala yang baik, Dia yang taat.
·         Paguyuban-paguyuban gerejawi kita mestinya juga dibentuk menurut citra-citra ini.

Gereja Lokal Yang Dinamis
·         Wajah Gereja Kita
Wajah Gereja dibaca dalam terang iman akan wajah Kristus. Pencerahan!
Iman akan Kristus, jiwa yang memberi energi kepada hidup Gereja.
·        Kerinduan untuk menjadi paguyuban yang “terbuka dan merangkul” dan yang“memberdayakan” (mission communion) wajah Kristus: KBG, medan aktualisasi diri/iman(umat awam dan klerus).Gereja, paguyuban beriman lintas etnis-budaya.Gereja yang dialogis dan profetis.
·     Gereja pribumi, matang mandiri: Memadai dalam hal “tenaga pastoral, dana, semangat missioner, dan teologi lokal.”Berpijak pada ranah pastoral dan isu-isu lokal dengan nilai-nilai kerohanian dan kemanusiaan universal. Menggereja dan memasyarakat secara baru.


No comments:

Post a Comment